Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
54. Penyesalan


__ADS_3

(POV Sentul)


Pertanyaan pak Anggara benar-benar telah membuat aku sadar, betapa bo*dohnya aku selama ini. Bisa-bisanya demi mantan pacar yang selalu bahagia dengan pasangan hidupnya, aku mengabaikan cinta istriku. Seharusnya setelah menikah dengan Tuti, aku hapus nama Watiyem dari hatiku, karena biar bagaimana pun dia bukan lagi siapa-siapa bagiku. Dia hanyalah masa lalu yang tak seharusnya menempati seluruh ruang dihatiku, hingga Tuti yang selalu melayani, mengurusku dan melahirkan anak-anakku dengan taruhan nyawa, tak memiliki tempat istimewa dihatiku.


Melihat aku murung dan tak sanggup lagi menahan air mataku, pak Anggara segera mengajak kami meninggalkan restoran Tepi Sawah milik mantan pacarku yang telah sukses. kebetulan mobil jemputan kami beserta supirnya telah datang sedangkan mobil pak Anggara sedang diurus oleh orang kepercayaannya.


Kini pak Anggara memintaku untuk duduk disampingnya dikursi nomor dua. Sedangkan bu Elena memilih duduk disebelah supir. Tiba-tiba pak Anggara menepuk pundakku.


"Aku mengerti perasaan pak Sentul saat ini, pak Sentul pasti sudah menyadari kesalahannya sekarang. Sia-siakan perasaan cinta yang pak Sentul simpan selama ini, karena ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.


Semoga saja belum terlambat, selama pak Sentul belum menalak istri bapak masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan bapak dengan bu Tuti, tapi kalau bapak masih ingin rumah tangga bapak utuh kembali seperti dulu," ujar pak Anggara, sepertinya beliau ingin aku memaafkan pengkhianatan istriku.


"Iya pak Anggara, seandainya saja waktu bisa diputar kembali. Mungkin setelah menikah dengan Tuti, aku langsung fokus berjuang untuk menumbuhkan perasaan cintaku pada Tuti, seperti Tuti yang telah berhasil mencintaiku.


Sekarang semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Saya benar-benar sangat menyesal pak, mungkin ini adalah balasan bagi saya yang telah menyia-nyiakan karunia Tuhan, sudah dikasih istri cantik, anak-anak yang sehat dan menyenangkan, saya bukannya bersyukur. Tapi malah berambisi ingin memiliki wanita yang bukan siapa-siapa.


Wanita itu memang pernah hadir dimasa lalu saya, tapi dia sudah punya masa depan bersama lelaki lain, bersama keluarga kecilnya yang bahagia. Seharusnya saya juga berbahagia bersama keluarga kecilku," ucapku pada pak Anggara dengan suara parau menahan tangis.

__ADS_1


Rasanya dadaku sesak sekali menahan segala kesedihan, penyesalan yang datangnya selalu belakangan.


"Bapak harus sabar, tenangkan hati bapak, masih ada waktu dan masih ada kesempatan bagi bapak untuk meminta maaf pada istri bapak, semoga saja istri bapak masih mempunyai perasaan cinta pada suaminya. Semoga saja dia tidak berniat untuk menghalalkan hubungannya dengan pria yang saat ini telah merusak kesetiaan dihatinya"


Harapanku dan harapan pak Anggara ternyata sama, yaitu melupakan Watiyem, menghapus namanya dihatiku, melupakan segala kenangan yang pernah terjadi diantara aku dan dirinya. Walaupun sesungguhnya hatiku tak lagi merasakan getaran cinta, saat kembali bertemu dengan Watiyem. Aku justru merasa rindu pada Tuti istriku yang mungkin sekarang sedang ada dalam pelukan lelaki lain.


Mobil terus melaju, setelah berbicara banyak hal akhirnya pak Anggara mengantarkan aku tepat depan rumahku. Hari ini aku memang izin kerja untuk istirahat dan menenangkan diri lalu menyusun strategi bagaimana caranya mendekati istriku dan merebut kembali hatinya dari lelaki lain.


Diusia pernikahan kami yang sudah puluhan tahun, kenapa baru kali ini aku berfikir bagaimana caranya membalas perasaan istriku. Seandainya saja sejak dulu aku berjuang mencintai istriku. Mungkin sekarang aku dan Tuti menjadi pasangan yang bahagia. Tuti tidak mungkin selingkuh tentunya.


Hari kini telah menjelang sore, aku baru bangun dari tidur siangku. Bergegas aku kekamar mandi, rumah terasa sepi, jam segini biasanya anak-anak pergi mengaji dirumah pak ustad yang rumahnya tidak jauh dari sini.


Kalau sudah mendapatkan ijin dariku maka, dia akan menyabuni dan menggosok seluruh tubuhku dengan lembut dan sesekali menggodaku dengan memainkan bagian sensitifif dari tubuhku. Sebagai seorang laki-laki normal tentu saja aku ikut larut dalam belaiannya hingga peristiwa panas terulang lagi didalam kamar mandi.


Istriku memang pandai sekali menggodaku, itulah sebabnya, walaupun tak ada rasa cinta, namun kami mampu mencetak anak sampai dua kali. Kalau sudah melakukan ritual suami istri, dalam kondisi bermandikan keringat dan tubuh masih dalam kondisi polos, saat itulah hatiku sedih karena merasa bersalah telah menghianati Watiyem, dan menyesal telah menggauli Tuti. Padahal jelas-jelas Tuti adalah istri sahku. Wanita yang halal bagiku, yang membuat aku terbuai dalam permainannya.


Aku menggelengkan kepalaku tak mengerti dengan jalan fikiranku saat itu. Aku mandi dengan cepat, memakai baju rapi dan tak lupa menyemprotkan wewangian kebajuku. Sore ini aku akan mendatangi kontrakan Tuti yang lokasinya sudah aku dapatkan dari pak Anggara siang tadi.

__ADS_1


Aneh sekali, kenapa aku jadi merasa deg-degan seperti ingin ngapel kerumah kekasihku, aku jadi tersenyum sendiri ingat masa-masa pacaran dahulu.


Setelah pakaianku rapi aku keluar kamar dan melewati ruang tengah. Ternyata Sentiana dan adiknya Sentiano sedang memakan gado-gado dimuka tivi


"Makan apa kalian nak?"


Tanyaku menyapa mereka, kedua anak-anakku yang sudah beranjak remaja menoleh dan memindai wajahku.


"Ayah dari mana saja, kami dari pagi makan gado-gado saja, karena ibu tidak pulang, tidak ada yang masak, kami belum bisa masak, sedangkan ayah sepertinya tidak peduli pada kami, buktinya kami kelaparan.


Pokoknya Tiana tidak mau tahu, bagaimana caranya ibu pulang kerumah ini berkumpul sama kami. Kalau ayah tidak pulang itu tidak masalah, ibu bisa cari nafkah sendiri dari jualan online, lagian ibu pasti akan segera mencari ayah baru untuk kami," ujar Sentiana kepadaku sedangkan Sentiano hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan kakaknya.


Ternyata peran Tuti sebagai ibu dirumah ini sangat diperhitungkan sekali oleh kedua anakku. Mungkin karena mereka jarang berpisah dan ibu mereka juga begitu telaten merawat anak-anaknya. Melihat kenyataan ini aku semakin merasa tak berguna dan tak ada artinya. apakah semua ini terjadi karena hatiku yang selalu berpaling ke wanita lain sepanjang pernikahann kami.


"Rencananya ayah akan menemui ibu disebuah kontrakan yang alamatnya baru dikirim oleh orang kepercayaan bos ayah. Kalian doakan saja semoga ayah berhasil membujuk ibu untuk kembali kerumah kalian menjadi ibu yang baik bagi kalian," pamitku pada anak-anak sembari mencium kening kedua putra dan putriku.


Aku keluar dari rumah menggunakan mobil hadiah dari papanya pak Anggara, kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kontrakan sederhana yang menjadi tempat tinggal Tuti saat ini. Aku terus mengetok pintu kontrakan dan mengucapkan salam hingga beberapa kali. Setelah itu pintu terbuka dan seraut wajah cantik dari istri yang aku abaikan muncul dari balik pintu.

__ADS_1


********


__ADS_2