
"Maaf ya pak Dahlan sepertinya tidak bisa"
Suamiku akhirnya mulai ketus. sepertinya kesabaran lelakiku mulai habis, dia tak sanggup lagi berpura-pura ramah. Lagian ngapain juga bersikap ramah sama lelaki seperti Dahlan, tapi aku hanya bicara dalam hatiku.
"Pak Anggara benar-benar tega dengan orang susah seperti saya. Seharusnya sebagai orang yang beruntung karena telah mendapatkan kesuksesan yang luar biasa pak Anggara menolong orang-orang seperti saya.
Boro-boro menyumbangkan uangnya untuk saya, ini dimintai pekerjaan saja menolak, bilang saja tidak mau mempekerjakan saya. Padahal apa susahnya sih menerima saya bekerja, kasih saya gaji sepuluh juta atau dua puluh juta saja perbulan, apa susahnya toh tidak akan membuat pak Anggara bangkrut. Kalau begini sifat pak Anggara sebagai orang kaya lebih baik saya doakan semoga pak Anggara secepatnya bangkrut, biar tahu rasanya seperti apa jadi orang susah"
Mendengar segala ucapan Dahlan kak Anggara justru tersenyum sinis.
"Saya semakin yakin dengan keputusan saya tidak menerima pak Dahlan bekerja. Kalau anda sudah selesai bicara silakan, pintu keluar ada disebelah sana, " ujar suamiku menunjuk kearah pintu.
Wajah Dahlan semakin kesal, giginya terdengar gemertak menahan geram. Dia memandang suamiku dengan sinis, nafasnya, terlihat naik turun tak beraturan.
Dasar sombong, semoga kebangkrutanmu dipercepat, semoga Tuhan segera menurunkan azab kepadamu, " Seketika ucapan Dahlan terjeda karena teriakan ibuku.
"He...Dahlan kurang ajar kamu, kamu apa tidak sadar bagaimana kemampuanmu, mana ada office boy minta digaji sepuluh sampai dua puluh juta. Apa kamu mau meras anakku ha... Kalau ngomong tuh pakai otak.
Apa kamu sudah lupa, bagaimana bancinya kamu sama anak dan menantuku, baru beberapa bulan yang lalu kamu selalu memperguncingkan menantuku, yang memberi nafkah dari hasil jualan gorengan. Perlu kamu tahu ya, penghasilan penjual gorengan itu beberapa kali lipat lebih tinggi daripada gajimu yang hanya tukang ngepel lantai. Bukan aku mau menghina pekerjaanmu, tapi kamu yang memulai menghina pekerjaan orang seolah-olah pekerjaanmu lebih baik.
Sekarang melihat Anggara sudah sukses, sudah kaya dengan tidak tahu malunya kamu beramah-ramah, tapi ujung-ujungnya minta kerjakan. Cuih....memalukan sekali," ibu berkacak pinggang, beliau tidak terima dengan sumpah serapah Dahlan.
"Bu Dinda.. tolong jangan ikut campur ya, saya ini sedang menasehati menantu ibu, supaya dia menjadi orang kaya yang dermawan. Bukan jadi orang kaya pelit," baru beberapa kata Dahlan bicara, ibuku kembali memotong, membuat suamiku tersenyum sambil melirik kearahku.
"Kamu tidak perlu mengajari menantuku yang sudah jelas-jelas dermawan. Dia itu suka menyumpang dibeberapa panti asuhan, pondok pesantren, panti jompo dan tempat-tempat ibadah. Jadi tidak perlu kamu ajari bagaimana caranya untuk dermawan. Yang seharusnya belajar itu kamu, belajar jadi orang yang tahu diri.
__ADS_1
Dulu kamu memusuhi mereka sekarang bersikap sok ramah. Tapi ternyata ada maunya, mau melamar kerja, minta gaji gede. Setelah Anggara tidak mau menerima, kok malah memaki-maki, sumpah serapah keluar. Itu namanya tidak tahu diri, paham tidak ha... "
Mendengar semua umpatan ibuku, mental Dahlan terlihat ketar-ketir, matanya terlihat memerah, sepertinya dia sangat marah, namun dia bingung harus menjawab bagaimana. Karena apa yang diucapkan ibu memang benar.
"Yaa.... anu... anu bu Dinda, bukan maksud saya begitu, saya kan cuma mauuuu"
Dengan terbata-bata Dahlan menjawab apa yang dikatakan ibu. Dalam keadaan bingung, malu sekaligus takut, akhirnya Dahlan memutuskan pamit pulang.
"Saya pamit dulu pak Anggara, terima kasih atas jamuannya. Kalau pak Anggara berkenan menerima saya jadi karyawan diperusahan pak Anggara, pak Anggara bisa langsung temui saya dirumah, Elena tahu kok dimana rumah saya, mari Semua," ucap Dahlan yang langsung disahut oleh ibuku.
"Pergiiiii.... "
Dahlan dengan langkah cepat keluar dari rumah orangtuaku. Saat Dahlan sampai dihalaman rumah ibu, tiba-tiba ada suara tepuk tangan dari dua orang yang baru saja datang dari ruang tengah.
"Selamat ya bu, ibu benar-hebat, tidak menyangka ibu seberani itu. Sekarang ibu sudah naik kelas. Lawannya bukan hanya sesama ibu-ibu, tapi sudah merambah ke bapak-bapak. Dila benar-benar bangga padamu," ujar Dila memeluk ibu.
"Devan juga sangat bangga, punya ibu jagoan, semoga keahlian ibu memarahi orang bisa membawa kebaikkan untuk keluarga kita ya bu," Devan yang datang bersama Dila dengan menggunakan seragam yang sama yaitu seragam bermain futsal ikut memeluk ibu.
Setelah mereka bertiga mengurai pelukannya, tiba-tiba Kak Anggara menepuk-nepuk bahu ibu dengan lembut.
"Bagaimana kalau ibu bekerja dengan Anggara menjadi bodyguard Elena, ibu bisa minta gaji lebih tinggi dari gaji semua bodyguard yang aku punya," kak Anggara menawarkan pekerjaan.
"Sudah-Sudah, ini sudah malam ayo kalian tidur semua, ayah sama ibu waktunya me time. Anggara kamu tidak perlu menawari pekerjaan pada ibu. Karena dia tidak mungkin bisa bekerja dengan baik. Sebab dia masih bekerja pada ayah baik siang maupun malam, " ucap ayah dengan wajah dingin.
Aku melirik sekilas jam tanganku, ternyata memang telah larut. Aku dan kak Anggara langsung masuk kamar dan merebahkan diri lalu terlelap.
__ADS_1
Sekitar jam empat dini hari, kak Anggara membangunkanku. Dia mengajakku untuk melakukan aktivitas yang sudah lama sekali tidak kami lakukan.
"Pelan-pelan aja kak, tidak usah buru-buru, takutnya si kecil yang ada dalam perutku terganggu," ucapku pada suamiku yang terus bergerak tak kanal lelah.
"Ternyata lama tidak melakukan ini, rasanya nikmat luar biasa, semakin lama cintaku sama kamu semakin berlipat ganda Elena," ujar kak Anggara dengan suara serak.
Kriiiiing! Kriiiiing!
Saat kami asyik dengan kegiatan dini hari yang melelahkan dan mengenakan. Suara ponsel kak Anggara berdering, sudah dua kali panggilan namun sang empunya ponsel tetap asyik dengan aktivitasnya.
"Kak itu ponsel kakak berbunyi, kenapa tidak diangkat saja, kak berisik," ujarku.
"Biar sajalah, bodo amat, pagi-pagi sudah nelpon, mengganggu orang lagi enak-enaknya, " sahut kak Anggara.
Kak Anggara terus berpacu tanpa peduli teriakan bunyi ponsel yang memanggil berulang kali. Sampai akhirnya kami menyelesaikan aktifitas kami. Suamiku langsung memyambar ponselnya diatas nakas, dengan kondisi tubuh masih polos bermandi peluh.
"Hallo... ada apa pagi-pagi nelpon mengganggu orang lagi serangan fajar saja. Massa sih.... bukannya seharusnya kamu yang lari sama wanita yang kamu cintai ujar suamiku.
Aku memberi kode untuk meloud speaker pada suamiku, suamiku pun mengikuti keinginanku.
"Benar pak Anggara...tadinya saya dan warga sedang menggrebek dia yang sedang berselingkuh dengan mantan pacarnya. Tapi setelah ketahuan dia justru melarikan diri pak.
Saya bingung karena Anak-anak terus menyalahkan saya. Katanya ibu mereka selingkuh karena kurang kasih sayang dari saya. Mereka tidak akan memaafkan saya kalau ibu sampai meminta cerai," ujar penelpon diseberang sana yang ternyata pak Sentul, supirnya kak Anggara.
******
__ADS_1