
"Oh jadi ibu menyuruh saya menikah lagi karena berniat ganti suami, jadi sekarang selera ibu pejabat ya. Kalau begitu sekarang lebih baik kita pulang saja. Tidak ada acara menikah lagi, ayah batal poligami bu, ayah hanya ingin menikah dengan ibu saja. Ayo sekarang pulang, Elena kita pulang.
Sekarang ayah tidak peduli dengan ancaman anak-anaknya si Rabi. Terserah saja dia akan berbuat apapun, ayah tidak peduli, yang terpenting bagi ayah saat ini adalah bagaimana agar cinta kasih antara aku dan kamu Dinda tetap terjalin selamanya"
Ayah bicara panjang lebar sambil menarik ibu hingga pelukannya dengan bu kades terlepas. Aku hanya menatap ayah yang terus menarik tangan ibuku menuju ke mobil.
"Sabar dulu ayah, ibu kan cuma bercanda sama Dina. Kenapa juga ayah bisa langsung percaya dan emosi. Bukannya ayah yang selalu mengajarkan kepada ibu dan anak-anak kita agar selalu bisa mengendalikan emosi. Tapi kenapa justru ayah yang tidak bisa mengendalikan emosi," teriak ibu sambil terus meronta.
"Ayah....kendalikan emosi ayah, selama ayah tidak bisa mengendalikan emosi ayah, maka kewarasan ayah akan terus menipis sehingga ayah tidak bisa berfikir jernih dan akan melakukan hal-hal yang merugikan ayah sendiri," ujarku berteriak.
Aku yang saat ini sedang emosi terus berusaha tetap tenang agar kewarasanku tetap terjaga supaya mampu memutuskan sesuatu dengan baik.
"Edwan-Edwan...., berapa lama kamu menikah sama Dinda. Dinda itu kan aslinya memang kalau bercanda suka seenaknya saja, tanpa merasa takut kalau ada orang yang tersinggung.
Dulu ucapan seperti tadi itu sudah biasa dalam geng kami. Jadi kamu tidak perlu mengambil hati ucapan konyol Dinda atau pun teman-teman kami yang lainnya," terang bu Dina sembari terkekeh.
Aku mulai mengerti bagaimana gaya bergaul ibuku dimasa remajanya. Ternyata ibu sering bicara ceplas-ceplos karena pengaruh pergaulannya.
"Iya ayah jangan marah ya, ibu mohon jangan batalkan rencana poligami ayah, menikahlah lagi ibu mohon ayah," ucap ibuku memohon pada ayah sembari menggandeng tangan ayah untuk masuk kerumah bu kades.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu, ada rasa sedih sekaligus lucu. Kalau biasanya seorang istri memohon-memohon pada suaminya agar jangan menikah lagi namun dalam rumah tangga orang tuaku justru kebalikannya.
Kamu sudah yakin Dinda mau punya madu, apa kamu sudah siap melihat suamimu bermesraan dengan istri mudanya. Apa kamu tidak takut kalau Edwan berpaling darimu dan lebih mencintai bini mudanya.
Kalau aku baca beberapa novel, awalnya istri tua menangis-nangis minta supaya suaminya tidur sama istri barunya, tapi lama-kelamaan istri tua menangis-nangis minta di tiduri, ingat Dinda bu le Rabi sudah tua dan yang lebih tua biasanya lebih berpengalaman," ujar bu kades seraya terkekeh.
"Ah itu tidak akan terjadi Dina, ayo kita berangkat, kalau terus-terusan mendengar celotehanmu, bisa-bisa gagal kami melamar nenek Rabi.
Akhirnya kami pun berangkat melamar nenek Rabi dirumahnya dengan ditemani oleh pak kades dan bu Dina istrinya pak kades.
Pak Rahmat, nenek Rabi, pak Dayat dan seluruh keluarga menyambut kedatangan kami. Karena kami memang sebelumnya sudah memberi kabar kalau kami akan datang untuk melamar nenek Rabi.
"Terus ini bagaimana bu le Rabi, apa bu le Rabi menerima lamaran pak Edwan untuk menjadi istri keduanya," tanya pak kades yang kami minta untuk menjadi juru bicara.
"Tentu saja saya terima pak kades, Edwan....akhirnya kamu bersedia menikah denganku. Aku tahu pada akhirnya cinta kita pasti akan menyatu. Kamu pasti tidak bisa melupakan aku kan. Kamu tidak perlu merasa tidak enak dengan Dinda. Dinda itu orang baik dia pasti ikut bahagia dengan penikahan kita," jawab nenek Rabi dengan sangat antusias.
Aku lihat ayah hanya diam saja, aku tahu dia saat ini sangat sedih.
"Karena lamaran pak Edwan sudah diterima sama bu le Rabi, maka sesuai pembicaraan acara pernikahan dua si Joli akan dilaksanakan dua minggu lagi. Karena pihak laki-laki kan harus menyiapkan. acara pernikahan.
__ADS_1
Sekarang bu le Rabi mau minta mahar apa," tanya pak kades lagi. Bu le Rabi menarik nafas panjang dan menatap kami semua, dia langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan pak kades.
"Kalau menikah dengan saya tuh tidak usah repot-repot memikirkan maharnya. Saya sih cukup dikasih uang lima milyar saja. Terus setelah menikah saya mau minta dibelikan rumah mewah berlantai tiga, dengan pagar megah dan mobil mewahnya juga. Jangan lupa baju pengantinnya ada manik-manik yang terbuat dari emas. Terus acara resepsinya di hotel bintang lima, " ujar nenek Rabi tersenyum sangat manis seolah-olah ingin menggoda kaum adam yang ada diruangan itu, namun sayangnya tak ada seorang pun yang tergoda.
"Kalau saya cukup dibelikan beberapa petak sawah saja, untuk disewakan, itung-itung untuk nambah penghasilan, oh iya sepeda motor saya itu sering rusak, nanti setelah pak Edwan resmi menikah dengan ibu saya, jangan lupa diganti sama mobil saja. Biar enak dilihat warga, anak tiri pak Edwan kemana-mana pakai mobil, mantappp," pinta pak Rahmat.
"Kalau saya sih mau minta dibiayai menikah lagi sama janda dikampung sebelah yang namanya Susi, " imbuh pak Dayat.
Aku benar-benar terperangah mendengar permintaan dari nenek Rabi dan kedua anaknya yang sangat tidak masuk akal. Sekarang aku paham kenapa mereka terus mendesak agar ayah menikahi nenek Rabi, rupanya ujung-ujungnya tidakajuh dari uang.
Melihat kami semua terdiam sepertinya nenek Rabi dan kedua anaknya menyadari kalau kami tidak suka dengan semua keinginannya. Saat kami semua asyik dengan pemikiran masing-masing, tiba-tiba.
Byyuuuuur!
Seorang wanita berbadan gemuk, dan tinggi dengan kulit berwarna sawo matang menyiram pak Dayat dengan seember air. Seketika itu juga sekujur tubuh pak Dayat basah kuyup. Bahkan sebagian makanan yang menjadi suguhan yang ada didepan pak Saya juga ikut basah terkena cipratan air.
"Jadi manusia itu mikirr, mikiiir pak, mikiiir tuh pakai otak bukannya pakai dengkul. lihat tuh anak, cucu dan menantumu, apa kamu sudah tidak punya rasa malu. Jadi orang tua itu harus bisa menjadi contoh buat keturunannya, bukannya malah bertindak semaunya sendiri.
Ingat pak, bapak ini baru punya istri satu saja kalau malam selalu kalah dalam setiap pertempuran diatas ranjang. Bagaimana kalau bapak punya istri dua. Bisa-bisa setiap pagi bapak tidak bisa bangun. Pokoknya kalau kamu menikah lagi, aku tidak mau jatah ranjangku dikurangi. Kita harus melakukan seperti biasanya, dua ronde dalam setiap malam, lebih boleh tapi kurang tidak boleh. Kalau sama istri mudaku terserah mau berapa ronde, aku sudah tidak peduli selama aku sudah kamu puaskan, " ujar wanita itu yang ternyata istrinya pak Dayat.
__ADS_1
*******