
"Tutiii... tunggu Tutiii..."
Pak Sentul langsung berlari mengejar bu Tuti yang sudah sampai dihalaman. Setelah itu aku dan yang lainnya mengikuti hingga sampai diruang tamu. Hanya ibuku yang tetap dikamar menjaga Adam.
Aku mengarahkan pandanganku keluar dan melihat pak Sentul sedang menenangkan istrinya dengan memeluknya. Setelah itu dia menggandeng sang istri untuk kembali masuk keruang tamu rumahku.
Ibuku menyambut bu Tuti dengan memeluknya. Dia mengusap-usap punggungnya untuk memenangkannya.
"Sudah Tuti, tidak perlu dipikirkan, bukankah dia cuma masa lalumu, jadi percuma kamu memarahi dia, hanya mempermalukan dirimu sendiri saja," nasihat ibuku yang baru keluar dari kamar pada Tuti.
"Seharusnya ibu bersyukur karena tidak jadi berpisah dengan pak Sentul. Benarkan bu kalau pernikahan yang diawali dengan penghianatan tidak akan pernah berakhir bahagia karena ada hati yang tersakiti," ujarku mengingatkan wanita itu.
Bu Tuti mengangguk setuju, sambil masih menghapus air matanya. Dia berusaha menghentikan tangisannya.
"Saya merasa begitu bodoh karena mencintai lelaki beristri. Hampir saja saya menjadi seorang pelakor. Kalau saja mas Sentul tidak memaafkanku, mungkin aku sekarang telah menjadi istri kedua perusak rumah tangga orang.
Itu yang membuat saya marah besar pada mas Tirta yang telah membohongi saya. Dia bilang kalau dia belum menikah karena belum muve on dari saya. Siang dan malam dia habiskan hanya untuk bekerja dan memikirkan aku, katanya setiap malam dia selalu berdoa agar dipertemukan denganku dengan kondisi yang berbeda.
Sampai akhirnya kami dipertemukan saat aku main di mall karena rasa kosong jiwa ini akibat cintaku yang tak terbalaskan.
Mas Tirta selalu bilang kalau pertemuannya denganku adalah kado terendah dari yang maha kuasa. Dia bilang saat itu, hatinya yang mati kini bersemi kembali karena cinta yang lama hilang kini telah kembali. Berulang kali lelaki itu mencurahkan rasa bahagianya bertemu denganku. Hal itulah yang membuat hatiku yang hampa karena hidup dengan seorang yang tidak mencintaiku menjadi bersemi kembali hingga tumbuh dan berbunga dengan begitu indahnya.
__ADS_1
Saat itu aku benar-benar telah dimabuk cinta, sehingga apapun yang diminta mas Tirta selalu aku penuhi termasuk melakukan percintaan terlarang. Aku tidak peduli lagi kalau yang aku lakukan adalah sebuah dosa. Yang aku inginkan saat itu hanya bagaimana menikmati pertemuan kami yang sudah puluhan tahun tak pernah berjumpa"
Kami terus mendengarkan cerita Tuti mengenai awal pertemuannya dengan Tirta hingga mereka menjalin hubungan cinta dan kasih yang kebablasan hingga sampai diatas ranjang.
"Oh....jadi begitu alur ceritanya. . Tuh.... ayah dengerin, makanya jangan suka mengabaikan ibu dan membuat hati ibu terluka. Kalau wanita yang sedang marah sama pasangannya, dia memang lebih mudah dipengaruhi dan dirayu hingga akhirnya jatuh cinta. Makanya ayah harus Hati-hati, jangan seenaknya saja marahin ibu, membentak ibu dan mencuekin ibu, " ujar ibuku menimpali.
Ayahku terlihat sangat marah dengan ucapan ibu. Aku liat wajahnya memerah dan kedua telapak tangannya mengepal.
"Ibu kalau mau selingkuh ya selingkuh saja. aku ra popo bu. Dari tadi ayah dengar cuma ibu saja yang mendukung perselingkuhan. ingat bu semarah apapun dan sekecewa apapun kita pada pasangan kita, jangan pernah bermain api dengan mengundang orang lain masuk kedalam rumah tangganya.
ibu lihat sendiri kan apa yang terjadi pada bu Tuti, untung saja pak Sentul mau berbesar hati untuk memaafkannya. lha kalau tidak, mungkin dia sekarang sedang terluka tapi tak berdarah. Suami menceraikannya dan selingkuhannya mencampakkannya.
Selesai berkata seperti itu ayah langsung keluar dari ruang tamu menuju kehalaman dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Aku benar-benar shok melihat apa yang ayah lakukan. Sepertinya ayah sangat marah dengan perkataan ibu.
"Ayah...ayah begitu saja kok marah. begitu.. tuh laki-laki apa-apa langsung marah, apa-apa emosi. Suami itu seharusnya jadi imam dan memberi contoh yang baik. Ini kok malah menyuruh istrinya selingkuh. Mana ada yang mau selingkuh sama ibu yang sudah tua begini, atau itu alasan ayah saja yang ingin mencari yang bahenol. Mentang-mentang ibu sudah tua, sudah kendor, sudah tidak bahenol lagi.
Ibu terus marah-marah kepada orang yang saat ini mungkin sudah jauh entah kemana. Semoga ayah tidak apa-apa, mudah-mudahan selamat sampai kerumah doaku disalam hati.
"Makanya bu jangan menyudutkan ayah terus, apa lagi di depan banyak orang. Ayah pasti merasa sangat tidak dihargai oleh istrinya sendiri, ayah pasti merasa terhina dan sakit hati dengan ucapan ibu.
Kamu ini bagaimana Elena, cape-cape aku membantu dengan ikhlas merawat kamu dan bayimu, mengajarkan bagaimana menyusui yang benar, ikut begadang saat Adam rewel walau Anggara selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi saat ayahmu memarahi ibumu, kamu malah membelanya, keterlaluan kamu Elena. Kalau sudah begini lebih baik aku pulang saja. Mau membalas kelakuan ayah, mana kendaraannya Anggara, " ujar ibu yang mengambil kunci kendaraan dikantong celana kak Abggara. Kemudian ibu pun pergi menyusul ayah.
__ADS_1
Aku sudah menahannya, minta untuk tidak pergi saat dia sedang marah. Aku memeluk ibu dan meminta maaf, namun ibu tetap bersikeras menyusul ayah.
Aku hanya mengelus dada melihat kelakuan kedua orang tuaku. Semakin tua ternyata tingkah manusia menjadi kekanak-kanakan tanpa mereka sadari
"Ayo pak Sentul, bu Tuti diminum itu airnya, dimakan juga cemilannya, tidak usah sungkan . Mertua saya memang seperti itu kalau lagi ada masalah. Tapi itu baru akhir-akhir ini, mungkin karena pengaruh usia, tingkahnya menjadi seperti anak-anak lagi. Paling itu sampai rumah juga baikkan lagi dan sayang-sayangan kembali," ujar suamiku.
Lelaku itu mengambil beberapa toples berisi cemilan dan mendekatkannya kehadapan bu Tuti dan suaminya.
"Kami jadi tidak enak ini, gara-gara kedatangan kami dan masalah kami, mertua pak Anggara jadi berantem," ucap pak Sentul.
"Sudahlah pak santai saja, " sahut suamiku singkat. Dia lalu mengambil ponselnya yang ada disaku celananya.
"Nih ada pesan dari Jhon, dia akan membawa ibunya kesini untuk memberikan keterangan lebih lengkap sekaligus menjenguk anak kami, " ujar kak Anggara. Sambil menunggu Jhon dan ibunya datang aku masuk kekamar untuk menyusui Adam, kebetulan dari tadi suster tengah menunggui Adam yang tertidur pulas.
"Adamnya masih tidur dari tadi bu, apa sebaiknya dibangunkan saja biar dia menyusu, kasian sudah beberapa jam dia tidak menyusu.
Aku pun mengiyakan ucapan suster, yang langsung membangunkan Adam dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga dia merasa terganggu dan menangis. Saat Adam menangis aku langsung mengangkatnya dan menaruhnya dipangkuanku lalu aku susui.
Saat aku membelai kepala Adam yang sedang menyusu, tiba-tiba pelayan datang mengabarkan bahwa temanku Nina datang ingin menjenguk bayi yang ada diatas pangkuanku.
******
__ADS_1