Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
49. Berkunjung Kerumah Ibu


__ADS_3

informasi dari kak Anggrara dari tempatku bekerja, membuat aku merasa sedih, sekian lama aku bekerja diperusahaan itu, disaat aku tak berdaya dan tidak bisa bekerja lagi ternyata aku buang begitu saja, tanpa rasa kasian sedikitpun. Padahal kan apa yang terjadi padaku sama sekali bukanlah kehendakku, itu semua diluar kuasaku.


Tapi sudahlah...tak perlu diratapi, yang terpenting kini aku sudah sembuh seperti sedia kala dan kembali berkumpul dengan keluargaku. Lagian saat ini uang bagiku bukan lagi masalah. Kak Anggara pasti akan memenuhi semua kebutuhanku.


"Sayang, kamu tidak usah sedih seperti itu. Saat ini yang terpenting kamu fokus dengan kehamilanmu, jaga pola makanmu, jaga emosimu, jangan biarkan hatimu bersedih, kasihan anak kita yang ada dalam kandunganmu.


Walaupun kamu tidak bekerja, kamu tidak akan kekurangan uang. Kalau kamu perlu apa-apa, kamu ngomong aja. Mau ke mall, mau makan direstoran, mau jalan-jalan, mau beli perhiasan, rumah mewah, mobil mewah dan apa sajalah, bilang saja pasti akan aku berikan, aku sudah tranfer 100 juta untuk kamu belanja, kalau kurang tinggal bilang saja. Kalau kamu masih ingin bekerja, nanti saja setelah melahirkan . Kamu bisa bekerja dikantor kita sendiri. Kalau sekarang kamu istirahat dan fokus pada kehamilanmu, "ucap kak Anggara.


Aku setuju dengan keinginan suamiku karena memang aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan selalu patuh kepadanya. Aku meneruskan keinginanku ingin melihat Buku-buku yang ada dirak buku.


Ternyata koleksi buku peninggalan mertuaku sangat banyak dan beraneka ragam. Ada buku tentang psikologi, kedokteran, kebidanan, politik, tehnik, hukum, ekonomi, akutansi, pertanian, perikanan, perternakan, agama, sejarah, bahasa, bisnis dan berbagai disiplin ilmu lainnya.


Semuanya aku lewatkan saja, aku hanya ingin bacaan ringan yang membuatku terhibur. Kini setumpuk novel bergenre romansa telah ada dihadapanku. Baru saja aku baca beberapa lembar, tiba-tiba rasa kantuk menghampiriku dan akhirnya aku terlelap.


Waktu terus berlalu, kini aku sedang dalam perjalanan menuju kerumah ibu. Sampai dihalaman rumah, aku terperangah karena bangunan rumah ibu yang dulunya sederhana kini telah berubah menjadi sebuah bangunan rumah megah dengan tiga lantai.


Digerbang depan juga ada pos satpam lengkap dengan penjaganya. Ibu berlari kecil menghampiriku untuk menyambut kedatanganku. Kulihat Dila dan Devan adik kembarku juga ada didalam rumah.

__ADS_1


"Elena lihat sekarang rumah ibu dan ayah, sangat megah bukan, semua ini berkat Anggara yang telah membiayai pembangunannya. Makanya kami sangat sayang kepada menantu ibu dan ayah ini bahkan sudah seperti anak kandung sendiri, " ujar ibu yang langsung saja aku potong.


"Jadi itulah sebabnya ayah dan ibu rela dia menikah lagi tak peduli bagaimana perasaanku, anak kandung ibu dan ayah sendiri"


Tiba-tiba aku ingat saat ibu bercerita tentang Leha yang direstui oleh ayah dan ibu, andai kak Anggara ingin menikahinya. Perih rasanya dada ini saat mengingat itu.


Perlahan tangan kak Anggara mengelus pundakku sangat lembut, membuat hatiku kembali sejuk, mengingat begitu besarnya cintanya kepadaku.


"Kamu jangan mengingat-ingat itu terus Elena, itu sama halnya kamu hanya mengingat keburukan kami saja sebagai orang tuamu. Apa semua kebaikan kami sejak kamu masih kecil hingga dewasa sudah tidak ada bekasnya dihatimu, semua sudah terhapus karena satu kesalahan yang telah kami lakukan" ujar ibu yang tampak sedih.


Seketika aku tersadar tidak seharusnya aku terus mengungkit satu kesalahan mereka, karena kebaikan ayah dan ibuku jauh lebih banyak dan tak akan bisa di ukur. Toh kesalahan mereka tidak berdampak buruk bagi kehidupanku. Justru membuat cintaku pada suamiku semakin besar karena mengetahui kalau lelaki yang telah menikahiku mempunyai kesetiaan yang luar biasa.


Lain kali aku akan lebih menjaga lisanku agar tidak menyakiti hati orang lain.


"Tidak apa-apa nak, yang penting lain kali kalau sedang kesal lebih baik diam saja daripada bicara tapi menyakiti orang-orang yang ada sekitamu," jawab ibu santai.


kami berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Sampai dirumah semua anggota keluarga berkumpul, Ayah menyampaikan niatnya hari ini yang ingin mengadakan syukuran rumah yang baru dibangun dan juga syukuran atas kesembuhanku.

__ADS_1


"Kak selamat ya atas kesembuhan kakak, aku adalah orang yang paling sedih saat melihat kakak terbaring koma dirumah sakit, " Dila tiba-tiba memelukku dari belakang. Tapi sepertinya ada beberapa orang yang tidak suka dengan ucapannya.


"Kamu fikir ibu yang sudah melahirkan Elena tidak sedih, kamu tidak tahu Dila betapa hancurnya hati seorang ibu yang sudah hamil dan melahirkan dengan taruhan nyawa. Namun anak yang dilahirkan tengah dalam keadaan tak bergerak, koma berbulan-bulan lamanya. Jangan kamu asal bicara seolah-olah hanya kamu saja yang bersedih melihat keadaan kakakmu, ibu juga teramat sangat sedih," ucap ibu penuh penekanan, membuat Dila menjadi salah tingkah.


"Ngomongnya orang yang paling sedih, tapi kamu menjenguk Elena hanya satu kali, itu saja dengan terburu-buru karena ada kuis, " ujar ayah sedikit ketus.


"Elena adalah masa depanku, dia adalah satu-satunya wanita yang akan menemaniku hingga ajal memisahkan kami. Hanya dia yang aku cinta, bahkan andai dia tidak selamat mungkin akan sangat sulit bagi aku untuk mencari ganti, atau malah tidak ada gantinya karena selama ini tidak ada wanita yang menarik perhatianku selain Elena. Bisa dibayangkan kan Dila bagaimana sedihnya aku saat dia terbaring koma. Sepertinya sedihmu itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sedih yang aku rasakan.


Menyaksikan ucapan Dila mendapatkan komentar pedas dari beberapa orang, aku hanya mengulum senyum karena merasa lucu.


Setelah aku berbincang-bincang ringan dengan anggota keluargaku. Ibu mengajakku kedapur untuk mencicipi berbagai masakan yang telah dibuatnya untuk acara syukuran. Sesekali beliau membelai perutku dan mengajak bicara bayi yang ada dalam perutku.


Satu persatu para tetangga yang kami undang pun datang, para tamu lelaki berkumpul diruang tamu yang sangat luas bila dibanding ruang tamu yang ayah dan ibu dahulu. Sedangkan para ibu-ibu berkumpul diruang keluarga.


Kulihat beberapa ibu-ibu salah tingkah saat bersitatap mata denganku. sebenarnya aku bingung apa yang sedang mereka fikirkan tentangku. Namun aku berusaha membuang jauh-jauh fikiran jelekku tentang mereka. Sampai saat seorang ibu akhirnya berbicara kepadaku.


"Elena....maaf ya aku dulu pernah menghina suamimu sebagai lelaki miskin yang tidak tahu diri, karena berani menikahi gadis cantik dan berpendidikan sepertimu. Ibu tidak menyangka kalau sebenarnya suamimu adalah anak orang kaya, maafkan aku ya Elena," ujar salah satu dari ibu-ibu tadi.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf ya Elen, karena pernah menganggapmu bo*doh karena mau menikah dengan tukang gorengan, " ujar wanita yang disebelahnya.


*****


__ADS_2