Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
73. Dimasak Dengan Penuh Harapan


__ADS_3

"Assalamualaikum Edwan, kamu pasti sedang makan sendirian, ini aku bawakan sayur asem kesukaan kamu, aku jamin kamu pasti suka"


Nenek Rabi datang membawa semangkok sayur, dia datang dengan begitu riang memanggil nama ayah. Kebetulan saat itu ibu sedang ke Toilet dan sekalian mengambilkan piring kosong untuk tamunya yang baru datang.


Nenek Rabi mendekati ayahku dan meletakkan semangkok sayur asem patin dihadapan ayah. Aromanya menguar membuatku menelan saliva.


"Ini lihat Lezatkan Edwan, ini asli buatan tanganku dan aku membuatnya dengan sejuta harapan khusus untukmu. Jadi selama kamu marahan dengan istrimu, biarlah aku yang akan selalu setia melayanimu dalam hal apapun.


Pokoknya ya Edwan panggil aku kapan saja, disaat kamu memerlukan aku. Aku selalu siap dua puluh empat jam untukmu," ujar nenek Rabi yang langsung mengambil piring ayah dan mengisinya dengan nasi kemudian menuangkan sayur asemnya sedikit demi sedikit. Lalu memaksa ayah untuk mencicipi sayur asem buatannya.


Dengan sangat ragu-ragu ayah mengikuti keinginan nenek Rabi untuk mencici sayur yang dia bawa dan dimasak dengan penuh Harapan. Sedangkan nenek Rabi duduk dikursi yang tadi di duduki ibu dan sesekali menuangkan sayur ke piring ayah dengan penuh perhatian.


Wanita yang kulitnya sudah keriput itu datang dengan bedak dan lipstik yang tebal tidak seperti biasanya. Kalau biasanya nenek Rabi hanya mengenakan daster butut. Tapi kali ini beliau memakai celana jin tiga perempat yang kentat dan dipadukan dengan hem berwarna merah marun yang pas dibadannya.


Sesekali wanita itu tersenyum kepadaku dan kepada kak Anggara. Aku lihat ada yang tidak biasa dengan sikap nenek Rabi, dia terlihat genit dan manja pada ayah.


"Edwan, sebaiknya kamu jangan memaafkan Dinda, jika Dinda nanti minta maaf, soalnya kalau perempuan sudah kurang ajar pada suaminya, kalau dia begitu mudah dimaafkan. Maka dia akan mengulang kembali kesalahannya secara terus menerus.


Pokoknya kamu tidak perlu merasa kasian kalau dia menangis dan meratap meminta maafmu. Nanti dia akan bilang kalau dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan jeleknya.

__ADS_1


Ingat Edwan... itu cuma akal-akalan dia agar dimaafkan. Kalau kamu memaafkan dia, nantinya dia akan berbuat seperti itu lagi dan seperti itu lagi. karena menurutnya gampang saja suamiku kan mudah memaafkan aku, begitu Edwan. Percaya deh sama aku," sambung nenek Rabi lagi.


Sekarang aku tahu kenapa marahan ibu dan ayah bisa sampai seminggu. Padahal biasanya paling lama hanya dua jam saja. Mereka sudah baikkan karena mereka sama-sama tidak betah marahan begitu lama. Rasa saling membutuhkan yang membuat akhirnya mereka baik kembali.


Plaaaks!.....Plaaaaks!


Sebuah tamparan mendarat dikedua pipi keriput nenek Rabi. Nenek Rabi hampir saja jatuh, untung dengan sigap kak Anggara menangkapnya sehingga beliau tidak jatuh tersungkur dilantai.


"Bagus ya kelakuanmu nenek-nenek ompong. Rupanya kamu mau mengambil kesempatan dalam kesempitan ya. Kamu yang mempengaruhi suamiku agar terus merasa kesal padaku.


Aku tahu nenek tua, kamu naksir suamiku sejak dia masih dalam gendongan ibunya, waktu itu kamu sudah jadi seorang gadis Bukan?"


"Sudah-sudah, bu jangan marah-marah kami kan tidak melakukan apa-apa, kamu jangan curigaan begitu, aku kan sudah menganggap nenek Rabi itu seperti orang tuaku sendiri, kamu jangan berfikir yang tidak-tidak ya bu.


Nenek Rabi, sebaiknya nenek Rabi pulang ya, terimakasih sayur asamnya. Maafkan istri saya yang cemburu membabi buta yah, nanti aku nasihati dia agar tidak berparasangka buruk pada kita," ujar ayah.


"Ayah...kita ini baru baikan, ibu baru saja memaafkan kesalahan ayah, kalau tahu ayah akan membela perempuan tua ini, tadi ibu malas memaafkan ayah, walaupun ayah harus mengemis maaf pada ibu," ujar ibuku. Wajah ibu terlihat geram, dia meminta nenek Rabi untuk pulang agar tidak dimarahi ibu.


Agar pertengkaran tidak semakin menjadi-jadi aku pun segera membujuk nenek Rabi agar pulang.

__ADS_1


"Ayo nek, Elena antar nenek pulang sampai teras rumah. Kalau nenek tetap disini, ibu akan semakin marah, nenek kan tahu sikap ibu bagaimana," ujarku sambil merangkul nenek Rabi dengan lembut membawanya keluar dari ruang makan menuju keteras.


"Kamu juga sama saja seperti ayahmu Elena, untuk apa kamu membawa perempuan tua itu. Ibu masih mau memarahi dia, sekalian ibu hajar saja dia biar mampus sekalian," teriak ibu, namun aku terus saja menarik nenek Rabi keluar rumah, tak peduli dengan teriakan ibu yang memaki aku. Ibu mengira aku membela nenek Rabi, padahal aku cuma malu kalau sampai tetangga ada yang mendengar. Walau rumah ini besar dan dikelilingi oleh pagar tembok yang tinggi, namun teriakan ibu yang keras dan menggema tetap terdengar oleh tetangga.


"Ibumu itu keterlaluan sekali Elena, aku kasian sekali pada Edwan yang diperlakukan dengan buruk oleh istrinya. Sebagai lelaki Edwan sangat baik sudah seharusnya dia mempunyai istri yang baik, yang lemah lembut, dihormati, dihargai dan dimanjakan kapan saja dia menginginkannya. Benar bukan ucapanku Elena, " ujar nenek Rabi meminta pembenaran akan ucapannya barusan.


Aku hanya menganggukan kepala, malas rasanya menanggapi ucapan nenek Rabi yang aku sudah tahu kemana arahnya.


Aku terus melangkah mengantarkan nenek Rabi hingga kegerbang rumah dimana disana ada pak satpam yang sedang makan.


"Nenek Rabi sebentar amat bertamunya, ini masakan nenek enak banget lho, sebentar saja sudah ludes makan yang nenek kasih tadi. Terima kasih banyak ya nek," ujar pak satpan sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Kamu betul pak satpam masakan saya memang ma'nyus, tapi sayang saya cape-cape masak untuk memanjakan lidahnya Edwan. Istrinya malah marah-marah katanya aku ini sudah tua dan genit sama suami orang. Padahal aku kan tidak genit, aku cuma bermaksud memanjakan suaminya, seharusnya dia berterimakasih karena aku telah membuat suaminya bahagia dengan menikmati masakanku. Ini malah marah-marah dasar perempuan tidak tau diri, engga pinter," ujar nenek Rabi bersungut-sungut.


"Sudah nek sabar, tidak usah diambil hati ucapan ibu Dinda. Beliau kan memang seperti itu sifatnya, tapi sebenarnya dia baik dan suka bermurah hati kok. Kalau bu Dinda marah suaminya nenek manjakan dengan masakan nenek, ya sudah nenek masak aja yang enak-enak untuk memanjakan lidah saya, istri saya tidak akan marah kok, dia pasti senang karena dia tidak perlu menyiapkan bekal untuknya," ujar pak satpam sembari tertawa.


"Ih ngapain juga aku harus memasak untuk kamu setiap hari, kerjaan kamu kan cuma satpam, mana mampu kamu poligami, istri satu saja hidupmu pas-pasan apalagi punya istri muda seperti aku, Ogaaah...," jawab nenek Rabi.


******

__ADS_1


__ADS_2