
"Tolonglah bu kasihan ibu saya, Biar bagaimana pun pak Edwan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Coba ibu fikir apa yang akan ibu lakukan jika ibu berada diposisi saya," ujar pak Rahmat mengiba.
Aku heran dengan sikap pak Rahmat yang terkadang keras dan terkadang melemah, apa itu trik agar keinginannya untuk menikahkan ibunya dengan ayah terwujud.
"Pak Rahmat seharusnya berfikir, nenek Rabi itu sudah tua, kalau dia menikah dengan ayah, apa sanggup beliau itu melayani ayah. Ayah adalah tipe laki-laki yang suka dilayani istri dalam. segala hal, maksudnya ayah tidak mau dilayani oleh pembantu, jadi setiap hari masakan ayah ibulah yang memasaknya, begitu juga pakaiannya. Ayah hanya mau dilayani oleh istri," ujarku mencoba membuat alasan.
Ibu memandangku penuh arti, sedangkan pak Rahmat dan pak Dayat menghela nafas dalam-dalam.
"Itu tidak masalah bu Elena, kan masih ada bu Dinda yang akan membantu melayani pak Edwan, jadi tidak ada masalah kan?"
Pak Rahmat berkata dengan sangat santai, namun ibuku langsung memandang kearahku seraya berkata kalau ayah menikahi nenek Rabi maka ibu berencana meminta cerai. Seketika itu juga pak Rahmat langsung marah.
"Oh jadi sebenarnya ibu yang menjadi penghalang kebahagiaan ibu saya. Jadi ibu yang tidak mau pak Edwan menikahi ibu saya. Ibu ini benar-benar wanita egois. Maunya menguasai sendiri, mau menang sendiri dan tidak mau berbagi suami," teriak pak Rahmat.
"Sudahlah bu biarkan suami ibu menikah lagi. Tadi ibu bilangkan sudah ikhlas, saya pikir ikhlas jika harus dimadu, ternyata iikhlas berpisah dengan suaminya toh. Jangan seperti itu bu, yang namanya suami istri harus selalu bersama, susah senang selalu bersama. Jangan ada kata berpisah.
Bukankah kita semua tahu perceraian adalah suatu hal yang dibolehkan tapi amat dibenci oleh Allah. Jadi jangan sampai bapak dan ibu bercerai ya, tidak baik! "
Pak Dayat ikut menimpali dengan gaya bahasa yang lebih santun. Mendengar ucapan pak Dayat aku jadi pusing harus bicara apa, antara ingin marah dan ingin ketawa.
__ADS_1
"Sepertinya sulit sekali ya bicara dengan bapak-bapak ini. Berhubung waktunya sudah siang, saya sudah ada janji dengan teman, jadi saya tinggal dulu ya pak. Silakan ngobrol sama Elena saja, " ujar ibu. Beliau ingin segera berdiri namun pak Rahmat dan pak Dayat telah berdiri terlebih dahulu.
"Saya yang mau pamit duluan bu Dinda dan bu Elena. Saya tunggu kedatangan kalian untuk menyaksikan ijab kabul antara pak Edwan dan ibu saya. Pokoknya pak Edwan harus mengawini ibuku kalau tidak lihat apa yang akan terjadi. Kami akan mencegat anda dan keluarga yang lain saat diantara kalian tidak ada pak Anggara yang brutal dan punya senjata api.
Selamat berurai air mata jika pak Edwan tetap bersikeras tidak mau menikahi ibu saya. Kalian harus siap kehilangan salah satu anggota keluarga kalian. Kami akan bekerja lebih baik lagi agar tidak meninggalkan jejak. camkan itu bu! "
Setelah berbicara pak Rahmat dan pak Dayat langsung pergi tanpa permisi. Tampaknya mereka sudah kehabisan akal dalam membujuk ayah untuk mengawini ibunya.
Rasa khawatir kembali mengganggu fikiranku. Aku kembali teringat saat aku dan kak Anggara ingin menjenguk ibu dirumah sakit. Saat itu kami memang dihadang sekawanan orang jahat yang ingin mencelakai kami. Apa mungkin mereka adalah orang-orangnya pak Dayat dan pak Rahmat mengingat sampai hari ini belum terungkap siapa dalang dibalik penyerangan aku dan suamiku saat itu.
Aku segera menceritakan hal itu kepada ibuku yang saat itu masih ada diruang tamu. Rupanya ibu tadi pamit pergi meninggalkan kami hanya untuk mengusir kedua anak nenek Rabi secara halus. Mendengar ceritaku ibu menjadi panik, dia menyuruhku menelepon Dila dan Devan agar berhati-hati saat diluar rumah, siapa tahu para penjahat suruhan pak Rahmat dan saudaranya juga menyerang Dila dan Devan yang ada dikota lain.
Aku tidak heran dengan sikap ibuku. Sejak awal ibu memang tidak punya rasa cerburu pada nenek Rabi. Mungkin karena perasaan yakin kalau ayah tidak akan jatuh cinta pada wanita tua itu.
"Kalau Elena sih terserah ibu saja, apa ibu siap punya madu. Ibu harus pikirkan baik dan buruknya. Jangan ulangi apa yang ayah lakukan bu, takutnya ibu dan kita semua menyesal nantinya.
Memang sih Elena lihat sepertinya ibu tidak akan sakit hati dan sedih jika dimadu sama nenek Rabi, sepertinya ibu sudah benar-benar menjadi istri yang baik dan selalu ikhlas jika suaminya akan poligami. Apa betul dugaanku ini Bu," tanyaku pada ibu.
Ibu tersenyum kepadaku sambil meletakkan telapak tangannya dipahaku dan kemudian menepuk-nepuknya.
__ADS_1
"Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin karena nenek Rabi sudah tua, sedangkan ibu merasa masih muda dan masih cantik. Jadi tidak mungkin cinta ayahmu berpaling dari ibu.
Walau terkadang nenek Rabi punya trik jitu dalam menaklukkan ayahmu, tapi mungkin itu hanya sesaat. Selanjutnya hatinya akan terus kembali dan kembali lagi kepada ibu orang yang sudah mendampinginya puluhan tahun.
Tapi kayanya mengizinkan ayahmu menikah lagi dengan wanita itu jauh lebih baik daripada hidup kita tidak tenang dan selalu was-was"
Mendengar pemaparan ibu, aku juga merasa yakin, walau ayah menikah lagi hati ayah akan tetap untuk kami keluarga kecilnya yang sangat dia sayangi.
Setelah ayah membujuk ibu dengan berbagai cara akhirnya ayahku pun menurut dengan apa yang ibu inginkan yaitu menikahi nenek Rabi demi keselamatan keluarga.
Hari ini kami semua mengunjungi rumah pak Rahmat dan pak Dayat didesa Bambu Kuning. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya kami sampan didesa itu. Kami hanya datang bertiga yaitu ayah, aku dan ibuku. Kak Anggara saat ini sedang menangani perusahaannya yang ada diluar kota karena sedang ada masalah tekhnis. Sementara Dila dan Devan akan kami kabari nanti saja saat hari ijab kabul ayah dan nenek Rabi sudah dekat. Sengaja kami tak ingin mengajak tetangga dan saudara lainnya, karena kami sama sekali belum siap dengan komentar mulut mereka yang seperti bara api.
Sebelum menuju rumah pak Rahmat dan pak Dayat, terlebih dahulu kami mengunjungi rumah bu kades. Rencananya kami ingin mengajak bu kades dan pak kades untuk menjadi saksi bahwa ayah akan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahi nenek Rabi walaupuj tanpa cinta.
Ibu berpelukan dengan bu kades yang ternyata sahabat mainnya waktu kecil.
"Dina aku tidak menyangka akhirnya kita bisa bertemu lagi saat sudah sama-sama jadi nenek. Tapi kamu masih terlihat cantik seperti dulu, pasti enak ya jadi istri seorang pejabat desa, kalau kamu masih ada teman yang jadi pejabat desa kenaikan dong kepadaku, aku juga mau nih, " ujar ibuku, membuat aku shock dengan ucapan ibu.
******
__ADS_1