
Enam bulan berlalu sejak suamiku dan nenek Rabi merencanakan sebuah pernikahan. Sampai dengan hari ini tidak juga ada pernikahan diantara mereka. Berbagai macam alasan yang dilontarkan suamiku saat nenek Rabi menagih janjinya ingin dinikahi.
Beberapa kali Elena berkunjung kerumah, beberapa kali pula aku memergoki Elena, ayahnya dan suaminya yaitu Anggara sedang membahas sesuatu. Ketiganya langsung panik saat aku hadir secara tiba-tiba diantara mereka. Sepertinya ada masalah yang sedang disembunyikan oleh mereka.
Aku dan suamiku hingga sekarang masih tetap tidur sekamar. Kami masih kerap melakukan hubungan intim saat suamiku memintanya. Walaupun hubungan kami sedang tidak harmonis namun aku tak pernah menolak jika suamiku ingin memberiku nafkah batin. Selain itu masih kewajibanku karena aku masih istrinya, rasanya juga sayang sekali kalau harus ditolak karena terlalu nikmat untuk dilewatkan.
"Ayah hari minggu ini kita ada undangan dari Nina dan Jhon yang akan melakukan acara pernikahan. Mereka mengundang kita semua, kami sekeluarga dan ayah juga sekeluarga. Berhubung Defan dan Dila tidak ada dirumah jadi kalian datang berdua sama ibu ya ayah," pinta Elena kepada kami selaku orangtuanya.
"Aku ikut, kami akan datang bertiga Elena, aku, ayah dan ibumu. Kita harus datang bertiga Edwan, Dinda, agar bisa menjadi contoh bagi banyak orang. Beginilah cara poligami yang benar. Saling rukun, saling menyayangi antara istri tua dan istri muda"
Entah kapan nenek peot itu datang, tiba-tiba dia sudah bergabung diantara kami. Seperti biasanya dia berpakaian sangat nora.
Sebaiknya kamu tidak perlu ikut Rabi, kita kan belum resmi menikah, apa kata orang nanti. Bisa-bisa orang akan menilai aku sebagai lelaki yang tak bermoral karena membawa selingkuhan didepan istriku," sahut suamiku.
"Ayah benar bu Rabi, kalian belum menikah jadi tidak baik kalau harus pergi berdua-duaan di depan umum, " ujar Elena membela ayahnya.
"Sepertinya kalian kompak tak ingin aku ikut, apa kalian malu mengajakku. Edwan kalau memang alasanmu karena kita belum menikah. Kenapa tidak secepatnya saja kita menikah. Semakin lama aku jadi semakin ragu dengan cintamu padaku. Setelah aku fikir-fikir kamu seperti sedang mengulur waktu untuk tidak jadi menikahiku, benarkan perasaanku ini.
__ADS_1
Kamu juga Dinda, seharusnya kamu membujuk suamimu untuk segera menikahi aku. Apa kamu tidak merasa bersalah saat melihat kami berduaan tanpa ikatan pernikahan. Tapi aku lihat kayanya kamu merasa senang melihat suamimu terus menunda acara pernikahan kami. Perlu kamu tahu kado yang sudah dibeli beberapa keluargalku ada yang sudah dijual karena terlalu lama menunggu acara kita, " ujar nenek Rabi marah-marah.
Nenek Rabi memang kerap marah kepadaku disaat dia jengkel dengan tingkah Edwan suamiku sekaligus kekasih gelapnya.
Waktu terus berlalu, akhirnya acara pernikahan Nina dan Jhon pun sampai pada waktunya. Elena dan Anggara datang menjemput aku dan suamiku. Nenek Rabi dengan tergopoh-gopoh datang menghampiri kami untuk ikut menghadiri pernikahan Nina dan Jhon.
"Aku ikut kamu ya Edwan, soalnya aku juga diundang kebetulan ibunya John calon suami Nina itu adiknya temen aku dulu namanya Suminah. Nanti aku kenalkan kamu kedia sebagai calon suamiku ya," ujar nenek Rabi.
"Tidak bisa Rabi, kamu lihatkan mobil ini telah penuh. Kasian cucuku bisa gerah nanti kalau kebanyakan orang yang menumpang di mobil ini.
Rabi kamu bisa naik taksi dan kalau sudah sampai disana jangan pernah bilang kepada siapapun kalau kita akan menikah ya, kalau kamu sampai bilang bahwa sebentar lagi kita akan menikah, maka aku akan batalkan rencana menikahimu," ancam suamiku.
Begitulah Edwan saat ini, dia tidak suka jika hubungannya diketahui oleh orang lain. Ancaman ingin menggagalkan pernikahannya dengan nenek Rabi selalu dia lakukan sebagai senjata jika dalam kondisi terdesak.
Mengetahui kalau kehadirannya tak diinginkan oleh suami dan anakku, nenek Rabi tentu sangat marah, dia langsung pulang sambil menggerutu tanpa henti. Ingin rasanya aku tertawa melihat pemandangan dimana pelakor mengemis cinta. Tapi tentu saja aku tahan demi menjaga sikapku dihadapan suamiku.
Setelah kepulangan nenek Rabi Anggara langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena hari ini hari minggu, maka pak Sentul libur bekerja, dia juga ingin menghadiri pernikahan Nina dan jhon bersama istri tercintanya.
__ADS_1
Kini kami berjalan beriringan menuju kepelaminan dimana Nina dan Jhon menjadi raja dan ratu sehari. Sementara Rena duduk manis dengan baju pengantinnya diantara Jhon dan Nina.
"Dinda....kamu Dinda kan, ya ampun pangling aku, ternyata kamu sekarang terlihat lebih cantik ya. Padahal hidupmu sangat menderita. Aku dengar dari nenek Rabi suamimu akan menikahinya. Kamu yang tabah ya Dinda. Semoga rasa sakitmu bisa menjadi penggugur dosa dan semoga keikhlasanmu menjadi berkah bagi masa depanmu," ucap lelaki yang menggunakan setelan jas yang terlihat mewah. Dia menyalamiku dan menggenggam telapak tanganku sangat erat.
Lelaki yang aku ketahui bernama Farel menyapaku tanpa sedikitpun menoleh pada suamiku. Antara Farel dan kak Edwan mereka teman seangkatan saat kuliah yang memang jarang akur, malah sering bermusuhan.
Aku melirik suamiku yang wajahnya terlihat geram melihat pemandangan dihadapannya. Seperti dirinya, akupun ingin sekali memanfaatkan Farel untuk membalas perbuatan suamiku. Hanya saja aku tidak ingin terlalu nampak sehingga bisa ketahuan oleh mereka, seperti aku mengetahui strategi anak dan suamiku.
"Kamu Farel kan, bagaimana kabarmu Farel," jawabku untuk menjawab sapaan kakak angkatanku saat kuliah" aku melepaskan tangan Farel karena tidak mau menjadi perhatian orang-orang disekitarku.
"Sama halnya sepertimu, kabarku juga kurang baik, kamu harus bersyukur, lihatlah aku lebih menderita darimu. Perlu kamu tahu istriku meninggal saat melahirkan anak keduaku delapan tahun yang silam. Sekarang aku telah menjadi duda karatan yang selalu dicarikan jodoh oleh ibuku untuk melepaskan masa jombloku. Kesal rasanya kalau harus dipaksa menikah dengan wanita yang tidak disukai," aku segera mengakhiri obrolanku dengan Farel dengan alasan ingin menemui pengantin.
Tentu saja hal itu aku lakukan untuk menjaga perasaan suamiku. Aku tahu dari tadi dia merasa sangat cemburu dan khawatir kalau aku terpikat pada Duren dihadapanku ini.
"Kapan-kapan aku akan berkunjung kerumahmu ya, siapa tahu kita bisa menemukan solusi atas permasalahan yang sedang kita alami, rumahmu tidak pindahkan," ujar Farel, dia berlalu pergi setelah melihat aku menganggukan kepala.
"Kurang ajar sekali si Rabi, sudah aku bilang jangan bicara macam-macam, dasar mulut ember, perempuan gatel tidak tahu diri. Menyesal rasanya aku mengenalmu, " Suamiku terus menggerutu tanpa dia sadari kalau aku mendengarnya.
__ADS_1
******