
Kami semua berlari kedapur dimana sumber suara itu berasal. Setelah mengamati sebentar akhirnya kami tahu kalau suara nenek Rabi dan suara ayah berasal dari kamar mandi.
Aku segera mendekati pintu kamar mandi namun kak Anggara langsung menghalangiku.
"Jangan ada suara, sebaiknya kita langsung dobrak saja, nenek Rabi tidak mungkin begitu saja mau membukakan pintu. Justru kalau dia tahu kita sudah datang, nenek itu akan langsung menghabisi ayah," ujar suamiku.
"Tunggu Anggara, kamu masih ingatkan kalau semua daun pintu dan engsel dirumah ini terbuat dari bahan terbaik. Kamu sendirian mana sanggup mendobrak pintu ini," ujar ibuku.
Kami semua terduduk lemas di depan pintu kamar mandi yang ada didapur.
bug! bug! bug!
"Aduuuuuh.... sa.. sakiiiit... ampun Rabi. Lebih baik kamu bunuh aku sekarang juga, karena aku tidak akan pernah menikahimu. Aku terlalu mencintai Dinda dan akan terus setia kepadanya hingga nafas terakhirku," teriak ayah sembari terus merintih. Kakiku terasa gemetar, begitu juga telapak tanganku yang seketika itu terasa dingin dan berkeringat.
Aku memandang wajah ibu yang berurai air mata. Sepertinya ibuku merasa terharu dengan ucapan ayah. Lelaki yang saat ini sedang diragukan cintanya ternyata rela mati untuk menjaga kesetiaannya.
"Rasanya semua pintu dirumah ini mempunyai kunci duplikat, ibu ingatkan? "
Seketika itu pula ibu langsung berlari kelantai dua.
"Oh iya ibu ingat, kunci duplikatnya ada dikamar ibu, ibu akan segera mengambilnya"
ibuku langsung berlari menapaki anak tangga menuju kelantai dua dimana kamarnya berada. Namun baru beberapa langkah, kaki kirinya terpeleset hingga jatuh terguling. Melihat ibuku jatuh dari tangga, suamiku langsung berlari menangkap tubuh ibu sebelum jatuh sampai kelantai. Tubuh ibu yang terlihat memar dibeberapa bagian langsung diangkat oleh suamiku.
Aku hanya bisa tertegun melihat pemandangan itu tanpa mampu lagi mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
"Turunkan aku Anggara, aku masih kuat untuk naik tangga. Ingat ayahmu dalam bahaya, kita harus segera menolongnya, " ujar ibu sambil melorotkan diri dari rengkuhan tangan suamiku.
Suamiku pun langsung mengikuti langkah ibu dari belakang. Sementara aku hanya mampu menangis tanpa suara mendengarkan rintihan suara ayah dalam kamar mandi yang terus dipukuli oleh nenek Rabi.
"Rabi, kenapa kamu memukuli aku terus, kamu kan memegang parang. Sebaiknya bunuh saja aku daripada kamu harus siksa aku begini, aku sudah tidak sanggup Rabi, sakit sekali seluruh tubuhku," terdengar suara ayah yang begitu menyesakkan dada.
"Enak sekali kamu ingin mati secepatnya Edwan. Aku masih ingin memberimu dua pilihan lagi. Mati ditanganku atau hidup dan menikahiku, " teriak nenek Rabi. Jawaban ayah masih kekeh lebih baik mati dan setia pada ibuku daripada harus hidup tapi menyakiti ibu. Sebuah pilihan yang sulit.
"Kalau kamu memilih mati, Baiklah!!!
Aku akan membunuhmu secara perlahan-lahan. Mulai dari memotong telapak kakimu terus naik keatas sedikit demi sedikit hingga sampai ke leher. Kamu akan mati dalam keadaan tubuhmu yang sudah terpotong-potong. Karena rasanya rugi sekali kalau aku harus membunuhmu dengan sekali tusuk saja. toh ujung-ujungnya sama-sama dipenjarakan, iya kan?
Sekarang aku akan memulai dengan memotong kedua telapak kakimu terlebih dahulu. Aku rasa parang ini cukup tajam untuk memotong tulang kakimu hanya dengan sekali tebas, ha... ha.. "
Mendengar ucapan nenek Rabi badanku terasa lemas tak berdaya. Rasanya otakku sudah tak mampu lagi memikirkan apapun. Aku hanya pasrah menyaksikan kematian ayam secara tragis ditangan nenek Rabi yang berdarah dingin.
Cekrek! cekret! kreeet!
buuuugh! klompyaaaaang!
suara pukulan dan suara benda tajam jatuh kelantai. Kulihat kak Anggara menyeret tubuh nenek Rabi yang terlihat basah kuyup dan rambut berantakan.
"Cepat hubungi polisi dan panggil satpam yang ada didepan.
"Satpaaaam.....toloooong......tolooong, " ibu berlari keluar meminta tolong. Hanya satpam yang datang dan beberapa tetangga karena para asisten semua pulang kerumahnya dihari minggu.
__ADS_1
"Lepaskan aku.... tolong... lepaskan aku. Aku harus bunuh Edwan lelaki yang telah mempermainkan hidupku. Kenapa kalian semua menghalanginya, awas kalian....
Aku akan balas perbuatan kalian karena telah menghancurkan rencanaku menghabisi lelaki jaha*nam itu," ujar nenek Rabi yang tergeletak dilantai dan kedua tangannya dipegangi oleh suamiku. Suaranya terdengar lemah namun kilatan amarah di matanya nampak jelas terlihat.
Pak Satpam yang baru datang langsung masuk ke kamar mandi dan memeluk ayah lalu menyeretnya keluar kamar mandi. Ayah sepertinya pingsan, seluruh tubuhnya terdapat luka memar dan luka-luka geresan benda tajam. Darah terus mengalir membasahi seluruh tubuhnya yang basah kuyup.
"Ayah...."
Melihat kondisi ayah yang memprihatinkan aku dan ibu langsung berlari mendekati ayah. Ingin memeluknya namun melihat kondisinya, kami hanya mampu memandangnya dengan hati hancur berkeping-keping.
Sekitar setengah jam kemudian suara sirine polisi dan ambulan terdengar memasuki gerbang rumah ini. Rupanya beberapa orang tetangga yang datanglah yang menghubungi mereka.
Kami segera mengangkat tubuh ayah yang sudah kami keringkan Dengan selimut keatas mobil ambulan. Sedangkan polisi langsung memborgol kedua tangan nenek Rabi yang dan membawanya naik kemobil polisi dengan cara menariknya.
Selama ditarik menuju mobil. nenek Rabi terus berteriak dengan memaki kepada kami.
"Jangan bawa aku pak polisi, aku tidak bersalah, mereka yang bersalah karena telah menipuku. Jangan penjarakan aku sebelum aku menghabisi Edwan lelaki bang*sat yang telah membohongiku.
Awas saja kamu Edwan, cepat atau lambat kamu akan mati ditanganku. Aku akan melakukannya dengan caraku. Kalian.....kalian semua yang telah menggagalkan rencanaku, kalian juga harus mati ditanganku, dengarkan itu keluarga bang*sat, keluarga penipu," nenek Rabi terus menyumpahi kami dan menuduh kami telah menipunya, tangannya terus menunjuk-nunjuk kearah kami sekeluarga.
Kak Anggara dan ibu ikut dimobil ambulan mendampingi ayahku yang masih pingsan dan wajah sangat pucat, seluruh tubuhnya berkerut karena terlalu lama terkena air. Ambulan yang membawa ayah rencananya akan menuju kerumah sakit terdekat rumahku agar cepat bisa dilakukan penanganan yang tepat.
Sementara itu nenek Rabi yang yang terus berontak dipegang oleh dua orang polisi bertubuh tegak. Dia diapit oleh dua orang polisi dan mobil polisi tersebut terus bergerak keluar halaman rumah kami.
Hueeeek! .... hueeeek.... "
__ADS_1
"Bu sepertinya Adam haus, dia terbangun karena ada suara ribut-ribut terdengar juga sirine polisi dan ambulan. Apa yang terjadi bu, apa bapak baik-baik saja. Aku langsung memeluk adam dan membawanya kesofa yang ada di ruang tivi. Aku menyusui adam yang terlihat sangat haus sambil menceritakan apa yang telah terjadi dirumah ini kepada mba Darmi.
*******