
Aku tak menyangka pak kades begitu meremehkan aku. Mentang-mentang aku sudah tua. Ucapan pak kades bukannya membuat nyaliku menciut, justru ucapan pak kades membuat semangatku semakin berkobar.
"He... he.... pak kades, jangan terlalu meremehkan saya, mentang-mentang saya ini sudah renta. Bapak harus ingat usia hanyalah hitungan angka, karena pada kenyataannya banyak orang yang usianya masih muda namun kemampuan fisiknya sudah menurun dan tak mampu lagi melakukan aktivitas berat. Namun banyak pula orang yang usianya sudah banyak namun kondisi fisiknya masih fit dan enerjik.
Seperti saya contohnya, saya yang selalu menjaga pola makan dan olahraga teratur, tidur teratur dan segalanya teratur, pasti masih mampu bersaing dengan yang muda, bapak tidak perlu berkomentar macam-macam, cukup lihat nanti apa yang terjadi," ujarku mantap.
Seketika itu pak kades langsung mengacungkan jempolnya dan tersenyum menatapku.
Aku merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan lelaki idamanku. Walaupun tanpa harta yang akan menambah kebahagiaanku. Tapi bagiku tak mengapa, yang penting Edwan jadi milikku dulu.
Berbagai strategi sudah Ada dikepalaku, Setelah aku resmi menjadi istri Edwan semua impianku pasti akan menjadi nyata. Jika cinta Edwan telah ada dalam genggamanku maka secara otomatis hartanya pun ikut serta. Tanpa aku harus merebutnya, dialah yang akan menyerahkannya, batinku terus bermonolog.
"Ibu ini bagaimana? kenapa ibu mau saja menerima lamaran pak Edwan dengan mahar cuma seperangkat alat shalat, tanpa harta apa-apa. Lebih baik ibu tidak usah menikah, kami masih bisa memberi ibu nafkah dari pada menikah dengan orang kaya tapi hanya disuruh jadi pelayan ranjang saja.
Katanya hartanya milik anak dan istrinya. Kalau anak istrinya merestui dan ingin berbakti kepada pak Edwan harusnya mereka rela dong berbagi dengan ibu karena ibu kan juga istri pak Edwan dan ibu tiri mereka," ujar Rahmat putra pertamaku.
__ADS_1
"Iya kalau begini bagaimana aku bisa menikahi janda idamanku bu, kalau mereka tak mau berbagi uang. Nanti kalau ibu dapat nafkah dari pak Edwan tolong ibu nabung ya buat aku nikah lagi," sahut Dayat.
Entah mengidam apa aku dulu, punya anak kok yang diotaknya cuma ada ************ wanita. Apa karena dulu waktu hamil dia aku sering memadu cinta dengan suami tetangga. Jadinya anak yang aku kandung otaknya begitu.
Dulu aku hamil Dayat akibat aku lupa minum pil KB, jadi ayahnya anak-anak sangat marah karena aku hamil saat Rahmat usianya belum genap satu tahun. Suamiku menganggap aku lalai hingga melupakan kebiasaanku meminum pil KB. Akhirnya perutku membesar, suamiku bilang aku kualat sama dia, padahal perutku besar karena mengandung benih yang dia taburkan setiap malam.
Sejak aku hamil Dayat, sikap suamiku berubah, beberapa kali dia ketahuan selingkuh bahkan pernah digrebeg warga. Namun karena aku sedang hamil dan Rahmat juga masih kecil, ya aku menerima saja kondisi ini tanpa protes apalagi marah kepadanya.
Namun sebagai pelampiasan dari rasa sakit hatiku. Aku selalu mencari perhatian lelaki disekitarku. Aku semakin senang bersolek agar menarik perhatian lelaki. Dengan bodyku yang semakin montok dan berisi akibat pengaruh kehamilan, apalagi parasku juga lumayan cantik, tentu saja mudah bagiku untuk mengajak lelaki lain menghangatkan ranjangku saat suamiku asik bersama wanita lain.
Beberapa saat setelah suamiku pamit pergi, pura-pura kepos ronda padahal mau menemui pasangan haramnya untuk membakar kalori. Saat Rahmat telah tertidur pulas, datanglah lelaki silih berganti untuk membajak dan bercocok tanam diladang kesayanganku yang selalu ditumbuhi rumput tipis.
"Bu jawab iya bu, jangan cuma diam saja, aku juga mau bahagia seperti ibu, menikah dengan wanita idamanku, " teriak Dayat yang setengah merengek mengagetkanku.
"Lihat saja nantilah, kalau aku sudah menikah dengan Edwan. Pokoknya kalau ibu bahagia kalian juga harus bahagia, kalau ibu banyak uang, kalian juga akan merasakan juga, intinya ibu tidak akan lupa pada kalian semua.
__ADS_1
Dayat sebaiknya kamu tidak usah menikah lagi dengan janda kampung sebelah. Bukan apa-apa, ibu cuma sayang sama duitnya. Lebih baik uang itu kamu gunakan untuk membahagiakan anak dan istrimu. Kalau kamu ingin punya istri cantik, bekerjalah dengan giat agar kamu bisa selalu membawanya kesalon, membeli skin care mahal dan jangan lupa bahagiakan dia agar terlihat awet muda.
Kamu harus ingat nak, kecantikan seorang wanita saat dia remaja hingga usia tiga puluh tahun adalah karena keturunannya. Jadi kalau keturunan orang cantik, bagaimanapun kehidupannya, bahagia atau tidak, dia akan tetap cantik, tapi kecantikannya hanya bisa bertahan sampai dia berumur tiga puluh tahun.
Sedangkan kecantikan wanita diusia tiga puluh tahun adalah karena pernikahannya. Jadi kalau suaminya pengertian, memenuhi segala kebutuhannya tanpa dia minta. Selalu bisa membahagiakannya dengan memberi versi terbaik dari dirinya. Maka wanita itu akan nampak cantik, awet muda dan semakin menarik bagi suaminya tentunya. Walaupun dia bukan dari keturunan orang cantik, karena aura kecantikannya akan muncul saat suaminya berhasil membahagiakannya.
Tapi jika suaminya selalu menyakitinya, membiarkannya mencari nafkah seorang diri. Tidak pernah disayangi dan dimanjakan. Uang belanja selalu kurang bahkan terkadang malah tidak dikasih karena hasil kerja suaminya dikasihkan kepada para jablay.
Wanita yang mengalami nasib seperti ini, akan terlihat lebih tua dari usianya. Wajahnya juga terlihat kusam dan tidak terawat. Karena uang buat perawatan kesalon di pake buat beli rokok sama suaminya," ucapku menasihati anak-anaku, persis seperti nasihat para ibu-ibu yang sering aku dengar. Mereka mendengarkan nasehatku dengan sangat hikmat.
Aku terus menghitung waktu, detik demi detik, menit ke menit hingga siang berganti malam dan malam pun berganti siang lagi, yang terasa sangat lambat. Kini acara pernikahan aku dan lelaki idamanku telah tiba pada waktu yang telah ditentukan.
Kemarin Dinda telah mentrasfer sejumlah uang untuk acara pernikahanku didesa ini yaitu desa Bambu Kuning. Walaupun menurut mereka acara pernikahan akan berlangsung sangat sederhana. Namun dari jumlah uang yang ditranfer oleh istri Edwan cukup untuk membuat pesta pernikahan termewah di desa ini.
Didesa Bambu Kuning, jarang sekali ada acara pernikahan yang digelar secara mewah. Karena menurut mereka sayang uangnya, mencarinya susah payah. Mengapa setelah dapat malah dihamburkan untuk mengadakan pesta yang menurut mereka tidak lebih penting daripada urusan perut.
__ADS_1
Pagi ini aku mendatang kan salon dari kota untuk meriasku. Agar aku terlihat cetarrr membahana saat pernikahan nanti. Semua tenda, pelaminan, catering juga sudah siap. Serombongan anak band yang aku sewa juga telah siap menghibur para undangan. Aku duduk manis seorang diri dipelaminan. Begitu pula yang lainnya. Mereka semua sedang bersiap menyambut kedatangan pengantin pria dan keluarganya yang konon katanya telah sampai digerbang desa.
******