Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
94. Malam Pengantin


__ADS_3

(POV Edwan)


Bagi sebagian lelaki, berada diposisiku adalah hal yang menyenangkan. Saat seorang wanita begitu mendambakan aku untuk menjadi pendampingnya. Yang lebih menyenangkan Dinda istrikulah yang memintaku untuk menikahi Rabi, seorang janda yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari usiaku.


Walaupun sudah tua, Rabi termasuk wanita yang awet muda. Wajahnya memang terlihat sudah keriput, rambutnya sudah memutih. Namun badannya masih terlihat padat dan berisi, pantatnya masih sintal, dadanya juga masih montok. Rambutnya kini selalu disemir warna pirang sehingga ubannya tak terlihat lagi. Kalau dilihat dari belakang dia masih seperti gadis ABG.


Namun apa yang aku rasakan saat ini adalah perasaan bersalah yang teramat sangat kepada istri yang telah melahirkan anak-anakku. yang telah mendampingiku selama puluhan tahun. Berbagai kondisi dan situasi kami telah lewati. Kadang senang, kadang susah, kadang sehat, kadang sakit dan kadang punya uang terkadang juga tidak.


Dengan perasaan berat penuh beban, aku mengucapkan ijab qobul. Walau berulang kali salah, namun akhirnya aku mampu juga mengucapkan kalimat itu untuk yang kedua kalinya dalam hidupku.


Saat suara orang disekelilingku serentak mengucapkan sah, saat itu pula hatiku begitu nyeri, rasa hampa terus menyeruak didalam rongga dadaku. Rasanya semangat hidupku sudah tak ada lagi.


perih rasanya hati ini kala melihat kenyataan bahwa Dinda wanita yang sangat aku cintai telah aku duakan. Senyum memang selalu terpancar dari raut wajahnya yang cantik dan tidak membosankan dia perlihatkanlah di didepan banyak orang.


Seolah hatinya berkata bahwa aku ra popo. Namun aku tahu dilubuk hatinya yang paling dalam, ada luka menganga yang sangat pedih sekali. Luka itu jelas ada karena aku yang telah menorehkannya.


Aku tahu dia merestui aku menikahi Rabi demi kebaikan. kita semua. Agar keluarga Rabi tidak terus mengancam aku dan keluargaku. Namun kalau boleh memilih, aku tahu dia pasti ingin menjadi istri tunggal saja, tidak mau dipoligami.


"Rasa sedih yang begitu menyelimuti hati terasa menyesakkan dada, hingga aku merasa semakin tertekan saat Rabi istri kedua yang baru saja aku nikahi datang menghampiriku.


Wanita tua yang memakai pakaian pengantin, menyalamiku dan mengecup tanganku dengan sangat takzim. Saat itu pula isi kepalaku seolah penuh hingga tak mampu lagi berfikir dan berkata apapun. Aku hanya diam dan enggan menatap wanita yang sekarang mendapat gelar istriku.


Untung saja Dinda istri pertamaku dengan sabar menasihatiku dan mencoba memberiku semangat. Agar tabah dan sabar menghadapi ini semua. Hatiku semakin kesal saat Rabi dengan gayanya yang kecentilan berusaha menggandeng tanganku untuk berjalan menuju pelaminan. Dengan rasa semakin dongkol aku tepiskan tangan Rabi dan berjalan dengan cepat mendahuluinya menuju kepelaminan.

__ADS_1


Berbagai komentar yang menyebalkan dari para undangan sungguh membuat suasana hatiku semakin muak.


Hari sudah sore, tamu undangan juga tak ada lagi yang datang. Semua warga bergotong royong untuk membongkar tenda dan pelaminan yang tadi kami tempati.


Sekarang aku berada diruang tamu bersama istri keduaku Rabi. Sedangkan. Dinda dan seluruh keluargaku pamit pulang, mereka meninggalkanku untuk menjalani kehidupan baru sebagai suami Rabi di desa yang lumayan jauh dari kota.


Setelah isya, aku mengajak istriku menunaikan shalat iya secara berjemaah. Aku mencoba ikhlas menerima takdirku. menerima semua skenario Tuhan walau hati kecil belum bisa menerima semua ini.


Aku terbaring telentang dengan kedua telapak tanganku sebagai bantal. Fikiranku menerawang jauh kemasa silam saat aku dan Dinda akan menjalankan malam pertama kami. Segalanya berlangsung begitu indah.


Tak menyangka kini aku akan mengulang kembali malam pertama dengan wanita yang berbeda dan tanpa cinta.


Tiba-tiba pandanganku terasa buram saat sesosok tubuh keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingeri berwarna merah menyala.


Aku mengusap mataku yang berkaca-kaca, berusaha menghilangkan genangan air agar tidak menghalangi pandanganku.


Suara istri baruku membuat aku kaget. Aku langsung menatap wajahnya, turun keleher, dada hingga sampai keujung kakinya. Aku tahu apa yang dia inginkan yaitu sesuatu yang paling dinanti oleh pasangan yang baru menikah.


"Seandainya ini bukanlah suatu kewajibanku sebagai suami yang harus memberi nafkah batin kepada istrinya. Sudah pasti aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Tempat yang dari tadi telah membuatku sangat tidak nyaman.


Wanita yang baru siang tadi aku nikahi melangkah mendekatiku. Dia duduk disampingiku dan menyentuh jemari tangan ini dan kemudian meremasnya perlahan hingga membuat hati ini bergetar dengan begitu hebat.


"Sayang kalau kamu tak sanggup memulai, biarlah aku yang memulai terlebih dahulu. Dia menciumiku dan mencumbu tubuhku yang hanya mengenakan celana pendek saja.

__ADS_1


Sudah berulang kami berciuman mesra, namun anehnya tak sedikitpun organ dalamku bereaksi. Rabi istriku terus memanjakan aku dengan berbagai cara. Namun tak ada reaksi apapun didalam sana.


"Kenapa dia diam saja, bagaimana mau dimasukkan kalau kondisinya lemah begitu," ujar Rabi sembari menyentuh miliku yang sudah tak terbungkus apapun.


Aku heran, saat dirumah bersama Dinda, hanya dengan saling pandang saja milikku sudah bereaksi dan siap memulai pertempuran.


Namun saat bersama Rabi, Sudah berbagai upaya kami lakukan, namun milikku tetap tertidur dengan nyaman disarangnya.


Akhirnya karena merasa lelah kami pun memutuskan untuk tidur dan akan mencobanya lain waktu saja saat kondisi lebih tenang.


Entah mengapa aku merasa sangat lega karena kami tidak berhasil melakukannya. Entah sampai kapan perasaan ini akan terus berlangsung. Sebaiknya aku ikuti saja alurnya dan berdoa semoga Tuhan memberiku solusi terbaik dalam menghadapi masalah ini.


Kini aku sudah dua hari disini didesa Bambu Kuning, dan sampai saat ini aku belum bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang suami kepada istrinya. Terkadang aku merasa tidak enak dengan Rabi, tapi bagaimana lagi punyaku sama sekali tak bereaksi, walau dalam hati aku memang sama sekali tidak tertarik kepada istri keduaku.


"Nanti kalau kekota jangan lupa kedokter ya sayang. Periksa kenapa itumu tidak aktif saat akan dipergunakan. Apa biasanya juga seperti itu, " tanya Rabi.


Aku bingung menjawab pertanyaan Rabi. Ingin aku jujur kalau biasanya milikku baik-baik saja. Namun aku takut dia berfikir yang aneh-aneh tentangku. Ingin aku bilang kalau milikku memang selalu seperti itu agar dia tak terus menuntut haknya, aku juga takut reaksinya tidak seperti yang ada dalam fikiranku.


"Iya Rabi, biasa baik-baik saja, tapi mungkin aku terlalu kelelahan akhir-akhir ini. Semoga saja minggu depan kita bisa melakukannya ya.


Maaf karena aku belum bisa jadi suami yang baik untukmu. Sekarang aku menemui Dinda dulu, kamu baik-baik disini aku akan kembali lima hari kemudian," pamitku pada Rabi.


"Kalau lima hari kamu baru kasini berarti lima hari kemudian kamu bisa kesana kan? "

__ADS_1


Pertanyaan Rabi mengingatkan perjanjianku dengan dia saat aku melamarnya. Bahwa versi adil dalam kamusku adalah tidak harus sama dan aku harus kembali menjelaskan agar dia paham.


*******


__ADS_2