Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
58. Pura-Pura


__ADS_3

"Iya.. iya maksudku semprul. Kamu telah tega menyia-nyiakan Tutiku. itulah makanya setelah aku tahu kamu tidak pernah mencintai Tutiku. Aku akan mengambil kembali apa yang dulu pernah menjadi miliku. Aku akan mewujudkan kembali mimpi kami dahulu untuk bahagia dalam sebuah mahligai pernikahan.


Tolong kamu jangan halangi niat baik kami untuk bahagia. Bagiku tidak masalah dia sudah tidak perawan lagi seperti yang dulu. Toh walaupun sudah tidak perawan tapi miliknya masih tetap sempit dan keset. mungkin dia rajin merawat organ intimnya atau mungkin kamu yang jarang menyentuhnya. Aku tahu itu karena aku sudah membuktikan sendiri. Kami sudah berkali-kali bercinta dan jujur aku selalu menginginkan Tuti lagi dan lagi. Itulah salah satu alasan aku ingin secepatnya menghalalkannya.


Kalau soal anak-anak, mereka mengenalku sebagai lelaki yang baik, biarkan mereka ikut bersama kami, percayalah mereka aman bersamaku," ujar Tirta, dia menyandarkan kepalanya disinggasananya. Wajanya terlihat santai, tutur katanya pun terdengar lebih lembut.


"Maafkan aku Tirta, aku tidak bisa memenuhi harapanmu, mungkin kamu dan Tuti tidak berjodoh. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghalalkan Tuti, karena dia bukan babi, tapi dia istriku.


Kalau soal cinta, perlu kamu tahu, sekarang aku sangat mencintai Tuti, aku janji, aku akan selalu menyayanginya, mencintainya dan menjaganya seumur hidupku.


Kalau memang kamu dan Tuti pernah berzina, aku memaafkanmu, aku tidak akan mempermasalahkannya, aku akan menerima Tuti apa adanya, walaupun kamu sudah melakukan icip-icip pada tubuhnya.


Tapi aku tidak akan pernah lagi membiarkan kalian melakukannya lagi. Mulai sekarang aku akan penuhi semua kebutuhan lahir dan batin Tuti. Terutama kebutuhan batin, aku akan lebih sering melakukannya.


Tadi sebelum kesini kami sudah melakukan beberapa ronde hingga Tuti kelelahan, makanya pas kesini dia lagi tidur, mungkin cape dan sekalian menyiapkan fisiknya untuk melakukan percintaan lagi, setelah aku pulang dari Sini"


Sengaja aku menceritakan dengan detail agar dia sadar diri bahwa dia hanyalah kekasih bayangan, dan akulah yang aslinya. Wajah Tirta terlihat merah padam, namun aku tidak peduli, siapa suruh berani mencintai istri orang.


"Kamu hati-hati kalau bicara Sempruul..eh Sentul. Jangan coba-coba bermain-main denganku. Jangan pernah kamu sentuh dia lagi, dia sekarang milikku," Teriak Tirta.


"Aku tidak bisa janji Tirta, dia kan istriku. aku punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan batinnya, kalau dia tidak minta sih mungkin bisa aja, tapi kalau dia yang minta, kan sayang kalau ditolak," ujarku seraya terkekeh. Puas rasanya berhasil memanas-manasi dia.

__ADS_1


"Sekarang begini saja, kalau kamu tidak segera menceraikan Tuti, Aku bisa menghabisi kedua anakmu tanpa jejak, aku bisa membuat seolah-olah semua hanya kecelakaan. Bahkan aku bisa menghabisi nyawamu sekalian. Kamu tahu kan aku banyak duit, aku bisa bayar orang untuk melenyapkan kamu dan anakmu kapan saja aku mau. Supaya mereka tidak menyusahkan hidupku.


Tadinya aku mau langsung menghabisickamu dan anakmu terlebih dahulu, namun aku tidak tega melihat Tuti bersedih. Karena kamu tidak mangikuti apa mauku. Terpaksa aku akan menghabisi kedua anak kesayanganmu.


Aku sangat shock mendengar ucapan Tirta, sungguh aku tidak pernah mempertimbangkan kalau Tirta akan berbuat senekat itu. Kalau aku terus bersikeras tidak memenuhi keinginan Tirta, bisa jadi aku tidak bisa keluar dari sini. Aku yakin anak buah Tirta dengan mudah menghabisiku.


"To...tolong jangan sakiti anak-anakku, aku sangat menyayangi mereka. Baiklah aku akan penuhi segala keinginanmu. Aku akan segera ceraikan Tuti, lagi pula saat ini ada wanita yang benar-benar aku cintai. Aku fikir-fikir aku tidak perlu serakah ingin memiliki keduanya. Kalau kamu memang akan memiliki istriku dan akan membahagiakannya. Aku akan segera menceraikannya. Aku juga sudah tidak sabar ingin menikahi kekasih gelapku.


Sekarang aku pamit pulang yah, mau mengurus berkas perceraian karena besok rencananya akan aku masukkan ke kantor Pengadilan, " ujarku dengan sangat gugup. keringat dingin mulai membanjiri tubuhku.


"Coba dari tadi kamu bilang seperti itu, jadi tidak perlu kita perang mulut. Sekarang kamu pulanglah. Diluar kamar ini ada mba Sumi, dia yang akan mengawalmu hingga sampai halaman.


Aku langsung keluar dari kamar itu setelah menyalaminya tanda setuju dengan keinginan Tirta.


Dirumah pak Anggara ternyata ada temannya bu Elena yang namanya Nina dan kekasihnya yang konon kabarnya mantan seorang pembunuh bayaran.


Setelah bertemu pak Anggara, beliau memintaku untuk menceritakan apa yang kami bicarakan dirumah Tirta kekasih gelap istriku.


"Bilang saja pada si Tirta, kalau kamu sedang mempersiapkan berkas perceraian. Kebetulan aku ada kenalan dikantor pengadilan sehingga dia akan aku minta membuat skenario kalau kamu sesungguhnya sudah memasukkan berkas perceraian dikantor pengadilan. Namun belum dintanggapi karena antriannya memang sangat banyak.


Nanti aku akan mengirim seseorang untuk melamar jadi asisten dia. Agar semua kelemahan Tirta bisa kita pelajari.

__ADS_1


"Kebetulan ibuku kerja disana, nanti aku kasih tahu ibuku saja, mungkin ibuku tahu banyak bagaimana sisi kelam kehidupan pribadi Tirta. Dari kelemahannya itu itulah kita akan menyerang dia"


Seorang lelaki yang aku ketahui adalah kekasih ibu Nina dengan nama Jhon tiba-tiba menyahut. Aku mulai merasa tenang, semoga saja upayaku untuk melawan Tirta berhasil, agar Tirta tak lagi mengganggu rumah tanggaku lagi.


"Anggara ayo cepat kita kerumah sakit, sepertinya Elena sudah mengalami pembukaan," teriak bu Nina yang baru turun dari lantai atas mengjampiri pak Anggara.


Aku segera keluar menyiapkan mobil dan mengeluarkannya dari garasi. Beberapa saat kemudian pak Anggara keluar dengan memapah tubuh bu Elena yang terus menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit. Sedangkan dibelakangnya bu Nina dan Jhon membawa semua perlengkapan bayi.


"Ayo pak berangkat cepetan, biar cepat sampai rumah sakit, rasanya sudah diujung banget.


Karena melihat semuanya sudah siap, aku segera melajukan mobil ini menuju rumah sakit yang tadi dikasih tahu pak Anggara.


"Ayo pak... pak Sentul, lebih cepat lagi, rasanya sudah diujung, " rintih Bu Elena.


"Sabar ya Elena, sebentar lagi juga sampai, ini supirnya juga sudah ngebut banget. Ayo.. dibawa membaca doa biar sakitnya berkurang," ujar pak Anggara terus menenangkan istrinya.


Aku semakin meningkatkan laju mobil yang sedang aku kemudikkan. beberapa saat kemudian mobil sudah sampai didepan sebuah rumah sakit yang dituju. Aku mengarahkan mobilku menuju IGD dan berhenti tepat didepan pintu masuk.


Beberapa orang perawat langsung keluar dan menyambut kedatangan kami, ada yang membawa ranjang yang didorong. Rupanya pak Anggara telah menelpon pihak rumah sakit bahwa istrinya akan melahirkan. Bu Elena yang terlihat sesekali meringis menahan sakit dipapah keluar dari mobil dan dibaringkan diatas brankar rumah sakit dan dorong keruang tindakan.


Saat aku memperhatikan pak Anggara, dia sepertinya sangat bingung tidak tahu apa yang mesti diperbuat saat istrinya akan melahirkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2