
Aku segera mengarahkan pandanganku kearah lelaki setengah baya yang baru datang tadi. Kalau melihat dari wajahnya sepertinya mirip sekali dengan bu Elena istilahnya bu Elena versi lelaki. Aku yakin dia mertua pak Anggara, terlihat sekali kalau bosku terlihat sungkan pada lelaki ini.
Maaf ayah dalam kondisi kelewat panik, kewarasanku menjadi terganggu sehingga aku merasakan khawatir berlebihan saat bayiku keluar dari pintu rahim dalam keadaan bersimbah darah.
Aku merasakan betapa sakitnya milik Elena saat itu, aku juga takut kalau bayiku kenapa-napa karena banyak darah dibunuhnya.
Aku kembali pamit untuk pulang setelah mendengarkan bagaimana pak Anggara menjelaskan apa yang dia alami pada ayah mertuanya. Terlihat sekali kalau pak Anggara begitu perhatian pada ayah mertuanya seperti pada ayah kandung sendiri.
Setelah aku pamit, kulihat Jhon dan Nina juga ikut pamit.
"Pulang juga pak John dan bu Nina," sapaku pada mereka. Sepasang kekasih itu memandang kearahku seraya tersenyum.
"Iyalah pak Sentul, kami ini kan pasangan yang belum halal jadi tidak enak kalau harus pergi berdua terlalu lama, tadi karena ada keperluan, " pak Anggara yang menjawab.
Mereka sepertinya sepasang kekasih yang sudah siap menikah, tapi katanya yang aku dengar cinta mereka terhalang restu orang tua. Yang membuat aku tidak habis pikir, justru ibunya Jhon yang notabene orang tidak punya, namun justru dia yang belum memberikan restunya. Padahal diluar sana banyak para orang tua yang ingin anaknya menikah dengan anak orang kaya agar hidupnya bahagia katanya, bahagia versi mereka sih menurutku.
Aku Segera mengucap salam sebelum berpisah dengan sepasang kekasih yang belum halal itu dan mendoakan semoga secepatnya bisa menghalalkan hubungan mereka.
Aku menaiki ojek online menuju rumah pak Anggara untuk mengambil kendaraan yang tadi aku tinggal disana.
Hari telah menunjukan pukul sebelas malam saat aku masuk kerumahku dan memasuki kamar kami dimana istriku masih terjaga.
__ADS_1
"Kamu belum tidur sayang, maaf ya aku terlalu lama, soalnya tadi mengantarkan bu Elena melahirkan dirumah sakit, lalu mendampingi pak Anggara yang terlihat sangat bingung sampai pingsan segala, " jelasku pada istriku.
Benar mas Sentul pergi kerumah pak Anggara, bukan pergi ketempat Watiyem mantanmu yang cintanya belum kelar itu kan"
Baru kali ini Tuti berani mengungkapkan rasa cemburunya dengan gayanya yang menggemaskan. Padahal dulunya dia tampak biasa saja saat tahu aku masih menyimpan nama Watiyem dihatiku. Itulah sebabnya tak pernah ada rasa bersalah, dan aku tak pernah berusaha mencintai istriku. Karena bagiku mencintai istriku atau tidak itu sama saja, toh rumah tangga kami berjalan normal-normal saja.
Aku tidak peka, sehingga tidak pernah menyadari bahwa kejujuranku masih mencintai mantanku telah menorehkan luka yang begitu dalam dihati Tuti istriku.
"Tentu saja tidak sayang, buat apa aku menemui Watiyem, bagiku dia hanya masa lalu, dan masa depanku adalah kamu. Aku memeluk istriku dan mengecup keningnya. Tak menyangka dia membalas pelukanku dengan erat.
"Nanti kita menjenguk bu Anggara dirumahnya kalau sudah pulang, agar kamu percaya kalau tadi aku mengantarkan mereka kerumah sakit.
"Apa mas Sentul sungguh-Sungguh memaafkan aku dan ingin kita kembali bersama. Terus terang aku mulai jatuh hati lagi dengan perlakukan mas. Tapi aku takut suatu saat pas aku lagi sayang-sayangnya sama mas, mas Sentul. akan mengkhianati aku untuk balas dendam atas perlakuanku pada mas Sentul, " ujar Tuti setelah menyelesaikan olah raga malam kami.
Kembali aku meyakinkan Tuti betapa saat ini aku sangat mencintainya. Agar dia tidak ragu dan tak lagi berprasangka buruk kepadaku.
Hari sudah pagi, kali ini aku bangun pagi, aku ingin turun kedapur untuk memasak buat keluarga kecilku. Selama pernikahanku dengan Tuti, ini adalah kali pertama aku memanjakan mereka dengan masakan. Kebetulan anak dan istriku tidak ada yang tahu kalau dulu waktu masih tinggal dengan kedua orang tuaku. ibu seringkali menyuruhku memasak untuk menggantikan tugasnya saat dia repot. Ibu pula yang selalu mengajarkan kepadaku berbagai menu masakan nusantara.
Saat itu ibu seringkali mengingatkan. Sebagai suami aku sebaiknya pintar memasak, agar kelak bisa mengerjakan tugas istri saat dia sibuk atau saat ingin memanjakannya. Seorang istri akan merasa tersanjung dan dihargai saat suaminya turun kedapur untuk memasak makanan kesukaannya.
Kali ini aku akan membuat sarapan pagi dengan membuat bubur ayam kesukaan Tuti. Aku membuka kulkas dan mengambil semua bahan yang aku perlukan. Ternyata dikulkas bahan masakannya cukup lengkap. Sekitar satu jam kemudian, bubur ayam yang aku buat sudah selesai, lengkap dengan taburan bawang goreng, kerupuk dan disuiran ayam goreng.
__ADS_1
Setelah selesai aku kembali naik keatas, kulihat istriku baru menyelesaikan shalat subuh, aku juga akan melaksanakan shalat subuh. Aku baru sadar setelah selesai shalat ternyata istriku terus memperhatikan gerak-gerikku.
"Ada apa liat-liat,"tanyaku.
"Mas darimana saja, apa mas baru saja menghubungi mantan mas yang namanya Watiyem. Dulu aku memang mencoba pasrah saat tahu mas menyimpan wanita lain dihati mas. Namun kali ini aku tidak bisa menerima itu. Karena untuk menerima mas Sentul kembali kepadaku, aku telah mengorbankan mas Tirta yang begitu tampan dan kaya raya.
Perlu mas tahu, mas Tirta sangat memanjakanku dalam segala hal, uang, cinta, perhatian dan juga di ranjang, mas Tirta selalu menyuguhkan yang terbaik. Jadi jangan pernah mas menyia-nyiakanku karena aku akan kembali pada mas Tirta dan meninggalkan mas Sentul," ucap Tuti mengingatkanku.
Ternyata Tuti belum sepenuhnya percaya kalau aku sudah tidak mencintai Watiyem lagi, mungkin baru hitungan jam aku memberikan kasih sayangku dan membuktikan perasaanku pada Tuti. Wajar saja kalau dia masih merasa ragu.
Kalau soal uang aku mungkin kalah dari Tirta, kalau kasih sayang, ya aku akan terus menyayangi dan memanjakan Tuti dan anak-anakku. Saat Tuti membahas masalah ranjang, perih rasanya dada ini, saat istriku membahas hubungannya diatas tempat tidur bersama lelaki lain.
"Tuti, tidak pantas kamu membahas hubungan ranjangmu dengan Tirta di depan suamimu sendiri. Biar bagaimana pun aku ini suamimu, lelaki yang halal untukmu. Apa yang kamu lakukan dengan Tirta itu dosa besar Tuti, jadi tidak pantas kalau kamu bangga-banggakannya.
Seharusnya kamu bertobat kepada Tuhan karena telah melakukan perzinahan. Bukannya bangga dan membanding-membandingkan dengan suamimu. Mungkin saat kamu melakukan dengan Tirta rasanya lebih nikmat karena ada campur tangan setan didalamnya agar kalian terus mengulang perbuatan dosa itu lagi. Hingga kamu terjebak dalam lumpur dosa dan tidak mampu kembali lagi.
Aku minta maaf kalau milikku tidak bisa memuaskanmu, apa perlu kamu tahu, apa yang kita lakukan adalah ibadah. Itu yang harus selalu kamu ingat Titi," ucapku mulai emosi.
POV Sentul End
****
__ADS_1