
(POV. Dinda)
Sebagai anak tunggal aku lahir dari keluarga berkecukupan yang mempunyai profesi sebagai juragan empang. Tentu saja sejak kecil aku selalu dimanja. Apapun kemauanku harus selalu dituruti. Pokoknya aku tidak pernah mau menerima penolakan atas apapun permintaanku.
Termasuk saat aku minta dinikahkan dengan Edwan pemuda tampan dari kampung sebelah. Saat itu aku dan Edwan kenal saat menjadi panitia lomba desa. Kebetulan Edwan juga menjadi panetia lomba. Saat itu dia sedang menjalani liburan semester. Edwan kuliah dikota, sedangkan aku sekolah SMA yang ada didesaku dan duduk dikelas tiga waktu itu.
Ayah dan ibuku bingung saat aku mengutarakan pada mereka kalau aku menyukai Edwan anak kuliahan yang orang tuanya tinggal dikampung sebelah.
Mulai saat itu ayah dan ibu gencar mencari informasi tentang Edwan dan keluarganya. Setelah mengetahui tempat dimana Edwan kuliah, ayah menguliahkan aku dikampus dimana Edwan kuliah.
Mulai saat itu aku sering menumpang dalam satu mobil travel bersama Edwan kalau ingin berangkat ke kota atau pulang ke kampung saat liburan. Kedua orangtua tuaku pun berusaha menjalin hubungan baik dengan orang tua Edwan.
Berawal dari ibuku yang suka menitipkan makanan pada orang tua Edwan saat akan mengunjungi putranya. Ibu dan ayahku juga mengunjungi kedua orangtua Edwan dan menawarkan mau nitip apa atau ada pesan tidak untuk putra tercintanya.
Tentu saja semua itu orang tuaku lakukan hanya demi agar aku dan Dewan semakin dekat.
Singkat cerita aku dan Dewan akhirnya menjalin hubungan serius dan akhirnya menikah saat kami sudah sama-sama selesai kuliah.
Kami sangat bahagia, ternyata Edwan begitu mencintaiku dan karena cintanya kepadaku, dia selalu memberikan apapun yang aku mau. Lelaki yang aku dambakan itu selalu menurut apa kata-kataku. Hingga pada akhirnya aku yang lupa diri dan kebablasan.
Tanpa aku sadari aku seringkali bersikap semaunya kepada siapa saja, apalagi sejak anak pertama Elena gagal menikah dengan kekasihnya. Aku sangat benci pada Andrea dan keluarganya yang telah menorehkan luka dihati putriku.
__ADS_1
Sikapku semakin brutal saat menerima kenyataan anakku Elena terbaring koma dirumah sakit dalam kondisi berbadan dua akibat penganiayaan yang lagi-lagi dilakukan oleh Andrea, pemuda yang sangat aku benci.
Mulai saat itu amarahku sering tidak terkendali, aku selalu melabrak siapa saja orang yang membuat hatiku marah. Edwan yang selama ini selalu menuruti apa yang aku katakan, kini mulai menentang dan menasehatiku. Begitu juga putriku Elena. Namun aku tidak memperdulikan hal itu.
Sampai akhirnya aku sangat shock saat mengetahui dari putriku Elena kalau cinta suamiku yang dulu begitu besar kepadaku kini berangsur-angsur memudar. Yang lebih fatal lagi si Rabi yang dulu pernah menjadi perawan tua karena menanti cinta Edwan kini mulai mendekati lelaki yang sangat aku cintai, mungkin karena status jandanya itu sehingga cinta yang pernah diberikan kepada suaminya kini telah kembali berpindah pada suamiku.
Yang aku sesalkan saat ini adalah nenek Rabi datang disaat yang tepat untuk mengisi hati suamiku kala hati suamiku merasa hampa akibat kelalaianku.
Aku berharap....aku belum terlambat untuk memperbaiki diri, aku ingin merebut kembali hati Edwan yang dulu ada dalam genggamanku kembali lagi kepadaku.
Beberapa hari setelah kepulangan Elena kerumahnya, setelah menginap beberapa hari, aku mulai rajin menemui beberapa ustadzah untuk belajar bagaimana caranya menjadi istri yang baik, istri yang taat kepada suaminya agar suamiku kembali mengagumiku seperti waktu muda dulu.
Seketika itu juga laki-laki yang telah puluhan tahun membersamaiku langsung menghentikan makannya.
"Suruh Rabi masuk, aku menunggunya dimeja makan," ucap suamiku dengan gaya bicara sangat tenang. Netranya menatap kedepan tanpa sedikitpun meminta persetujuanku, padahal aku kan istri sahnya saat ini.
Demi bisa berubah menjadi wanita yang baik dimata suami dan dimata Tuhan. Aku hanya diam saja, menunggu apa yang akan terjadi. Sebenarnya hatiku saat ini sedang bergemuruh menahan geram yang teramat sangat.
Tok!... Tok!.... Tok!
Suara sepatu menginjak lantai, dari arah ruang tamu menuju ruang makan yang jaraknya sekitar sepuluh meter. Dari derap langkahnya sepertinya wanita ini menggunakan high heels.
__ADS_1
Saat wanita itu sampai diruang makan, aku terkejut melihat penampilan nenek Rabi yang tampil memukau. Rok hitam kentat sebatas paha, kemeja kekinian berwarna putih. Dia menggunakan make up lengkap, dengan bulu mata yang lemnya nampak belepotan. Lipsticknya berwarna merah menyala dan high heel setinggi lima centi meter. Padahal biasanya nenek Rabi hanya menggunakan daster butut dan sendal jepit yang sebelahnya diikat tali rafiah.
Kulihat mata suamiku terbelalak memandang wanita itu dari atas hingga kebawah. Kemudian keatas lagi dan memandang wajah nenek-nenek yang dadanannya sangat nora. Lelakiku tersenyum manis kepadanya, hancur rasanya hatiku ini, jemariku terasa gemetar dan kedua kakiku terasa dingin melihat pemandangan yang begitu menyakitkan seluruh tubuh hingga sampai ke tulang sumsumku.
Antara percaya dan tidak, bagaimana mungkin orang yang aku cintai telah jatuh cinta pada wanita dihadapanku ini. Apa dia buta hingga tak mampu membedakan antara aku istrinya yang sah yang masih cantik walaupun tak muda lagi. Atau dimata suamiku perilaku seseorang lebih memikat dibanding fisiknya. Hingga dia mencintai nenek-nenek yang fisiknya jauh dari kata cantik dan menarik tapi karena perilakunya yang menyenangkan hati suamiku sehingga membuatnya jatuh cinta.
"Tante Rabi ada apa ya kasini, ada perlu denganku, " sapa suamiku sangat lembut.
Sepanjang pernikahan aku dan Edwan, baru kali ini aku menyaksikan suamiku bertutur kata lembut dan penuh perhatian pada seorang wanita. Setahuku selama ini Edwan adalah lelaki yang dingin dan tidak suka berkata lembut. Walau dia tak mampu juga menolak apapun mauku. Nada bicaranya datar dan jarang berbasa-basi. Edwan juga tidak suka pada perempuan manja apalagi kelentilan seperti nenek Rabi saat ini.
Sering kali suamiku mengungkapkan rasa tidak suka dan rasa gelinya saat ada perempuan yang berbicara dengan manja dan agresif kepadanya. Namun kepada nenek Rabi suamiku justru seperti menyukai sifat manja dan angresifnya.
"Edwan sudah aku bilang, panggil aku Rabi saja, terasa lebih nyaman ditelingaku. Apa kamu dan istrimu sudah diberitahu oleh Elena, atas lamaranku kepadamu, untuk menjadikan kamu suamiku.
Dinda sebelumnya aku mau meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Mungkin lebih baik aku jujur padamu. Seperti yang kamu ketahui sejak lama, kalau aku mencintai suamimu. Maafkan aku Dinda, bukan maksud aku ingin menyakitimu sebagai sesama wanita.
Tapi aku tahu bagaimana rumah tanggamu selama ini. Edwan tidak bahagia dengan sikapmu yang tidak dia sukai. Sekarang sepertinya dia sudah jatuh cinta denganku.
Aku harap kamu paham Dinda, tolong restui kami menikah agar suamimu bisa hidup bahagia bersamaku. Tidak ada sedikit pun niat dihatiku untuk merebut dia darimu. Aku cuma ingin membahagiakannya karena kamu seperti tak sanggup melakukan itu," nenek Rabi berhenti bicara dan menatap lekat kearahku.
******
__ADS_1