Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
78. Terpaksa Menahan Emosi


__ADS_3

Sesak rasanya dada ini, bahkan jantungku pun seolah ingin berhenti berdetak. Bagaimana mungkin nenek Rabi yang selama ini kami kenal baik, tega memintaku untuk merestui dia menjadi istri kedua suamiku.


Yang membuat aku geram. bisa-bisa dia bilang tidak ingin merebut suamiku, dia hanya berniat membahagiakan suamiku. Pusing rasanya aku memikirkan nenek tua dan pikun dihadapanku ini. Benar-benar tidak masuk akal, dan yang lebih tidak masuk akal lagi ternyata suamiku menyukai wanita yang terang-terangan menolak disebut sebagai pelakor.


Namun demi cintaku kepada lelaki yang telah puluhan tahun mendampingiku dan demi keutuhan rumah tanggaku. terpaksa aku menahan emosiku. Aku harus tetap bersikap ramah kepada nenek peot yang ada dihadapanku ini.


Seandainya saja aku tidak mengingat cintaku pada suamiku, mungkin sudah aku jambak dan aku hajar hingga babak belur nenek-nenek ini, ya ampun sabar-sabar, ucapku dalam hati.


"Kalau memang itu yang ingin kalian lakukan, ya terpaksa aku akan merestui pernikahan kalian. Karena jujur aku tidak punya pilihan lain. Kalau soal sakit hati, tentu saja seperti wanita pada umumnya. Aku juga sakit hati bahkan hancur hatiku saat ada perempuan yang telah membuat suamiku jatuh cinta dan bertekuk lutut tanpa syarat dihadapannya.


Sebenarnya aku tidak menyangka seorang nenek Rabi yang aku kenal baik hati dan peduli pada perasaan sesama wanita, tega merebut suamiku, kalau boleh tahu, hal apa yang membuat nenek mau menjadi pelakor, yakin cinta? atau harta? ingat nek rumah ini adalah harta kami yang dibangun oleh menantuku yaitu Anggara, jadi andai kami berpisah, rumah ini akan kami serahkan kepada Anggara dan Elena kembali"


Kulihat wajah nenek Rabi terlihat berubah, dia sepertinya salah tingkah. Kulihat wajah suamiku juga tidak secerah tadi.


"Sekali lagi aku tekankan Dinda, aku bukan pelakor, aku tidak meminta suamimu untuk menceraikanmu. Jadi seandainya kalian bercerai itu bukanlah keinginanku, tapi keinginan kalian berdua, aku rela kok menjadi yang kedua. Nanti biar aku yang mengurus semua kebutuhan suami kita termasuk kebutuhan ranjang. Kamu tidak perlu repot-repot, tinggal duduk manis saja," ujar nenek-nenek itu membela diri.


Aku tertawa didalam hati, bilang saja kamu mau menguasai suamiku dan kamu memintaku menjadi patung yang menjadi saksi menyakitkan atas kebahagiaan kalian.


"Oh kalau memang itu maumu, boleh juga aku menerimamu menjadi maduku, tapi itu hanya sementara, sementara aku belum mempunyai pengganti Edwan. Nanti setelah aku mempunyai Pengganti Edwan, kami akan bercerai dan kamu akan menjadi istrinya satu-satunya"


Nenek Rabi langsung memelukku dengan erat, dia mengucapkan terimakasih karena aku telah merelakan suamiku untuk dia miliki. Namun berbeda dengan suamiku yang nampak kaget, mukanya terlihat memerah dan duduknya terlihat gelisah. Kini sepertinya dia lupa untuk bersikap manis kepada wanita tua dihadapanku.

__ADS_1


"Edwan. ..istrimu sudah merestui hubungan kita, kapan kita kawin, secepatnya ya, " nenek Rabi mendekati suamiku dan meneluk lengannya. Namun suami seperti kaget dan kurang suka, dia menepis perlahan tangan nenek Rabi yang sedang memeluk lengannya.


"Maaf Rabi jangan seperti ini, malu dilihat orang, kita kan belum resmi. Tolong jaga sikapmu," ujar suamiku dengan sikapnya yang dingin dan datar seperti Edwan yang aku kenal.


"Katanya tadi kamu sangat mencintaiku Dinda, tapi kenapa begitu mudah kamu menyerahkan dan merestui aku menikah dengan Rabi. Apa cuma sampai disitu saja cintamu yang selama ini kamu gembar-gemborkan.


"Tentu saja aku masih mencintainya ayah. Karena rasa cintaku yang besar itu juga yang membuatku ikhlas melepasmu bahagia dengan wanita yang kamu cintai.


Kalau kamu sudah terlanjur jatuh hati kepadanya sebelum kalian resmi menikah, itu artinya kamu sudah menghianati cinta kita, apapun alasannya intinya kamu sudah berselingkuh.


Sedangkan ayah tahu kan selingkuh itu tidak ada obatnya, orang yang selingkuh adalah orang yang jiwa telah rusak karena tidak bisa membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.


Sengaja aku berbicara seperti itu untuk memukul balik Edwan yang seperti sedang mengerjaiku dengan memanfaatkan nenek Rabi yang menyukainya.


"Kalau kalian ingin ngobrolin acara pernikahan kalian, aku persilakan dan aku tinggal dulu yah, sudah ngantuk soalnya," akhirnya aku punya cara untuk pergi dari mereka. Geram rasanya melihat tingkah mereka yang sepertinya berusaha memanasiku.


"Edwan kapan kita mendaftarkan berkas pernikahan kita ke KUA, rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera resmi menjadi istrimu," kudengar nenek Rabi bertanya pada suamiku sambil bergelayut manja.


Aku masih sempat melirik mereka, Edwan langsung menyingkirkan tangan wanitanya dengan perlahan.


"Sebaiknya kita pikirkan kembali agar kita sama-sama yakin, sekarang kamu pulanglah, tidak baik kamu kelamaan disini, bisa digosipin sama tetangga nanti, " usir Edwan, sepertinya dia mulai jengah dengan tingkah wanitanya.

__ADS_1


Nenek Rabi menolak pulang sepertinya dia masih kangen dan terus menyandarkan bahunya pada suamiku sampai akhirnya kesabaran lelaki yang telah puluhan tahun mendampingiku merasa kehilangan Kesabarannya.


"Sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini, aku tidak tahan dengan sikapmu yang membuat aku merasa terkekang, kamu terlalu manja dan agresif" teriak Edwan.


"Adwaaaan, " teriak nenek Rabi.


"Keluaarrrr," teriak suamiku.


"Tidak Edwan, kita akan tetap menikah, kamu sudah berjanji padaku, dan kamu harus menepatinya. Seluruh keluargaku sudah tahu perihal pernikahan kita, aku malu kalau sampai gagal. Bahkan beberapa dari mereka sudah menyiapkan kado untuk kita," ujar nenek Rabi berapi-api.


"Ya kalau kamu tidak ingin pernikahan kita gagal, cepatlah pulang, aku tidak mau mendapat sorotan negatif dari tetangga," ujar suamiku lagi. Dengan langkah cepat kudengar wanitu tua itu keluar meninggalkan rumah ini. Aku melanjutkan langkahku naik kelantai dua menunju ke kamarku.


Sesampainya dikamar aku langsung melihat jadwalku bertemu dengan Ustadzah dimana aku belajar mendalami agama. Sekarang aku mulai rajin belajar agama, aku juga berlatih mengendalikan emosi agar tidak gampang marah. Itulah sebabnya bagaimanapun menyebalkannya tingkah nenek peot perebut suamiku dan suamiku sendiri, tak mampu membuat emosiku terpancing. Bahkan aku tetap tenang seolah tak lagi merasakan sakit hati saat melihat wanita lain bermanja-manja pada suamiku.


Malam harinya saat aku berfikir banyak hal sebelum tidur, tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang, pasti itu salah satu asisten yang ada perlu denganku.


Dengan langkah santai aku turun dari ranjang untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, aku sangat terkejut, Edwan yang sudah lama tidak tidur sekamar denganku. Kini dia datang memeluk bantal. kesayangannya.


"Bu sudah lama ya kita tidak tidur bareng, ayah kangen sama ibu, apa ibu tidak kangen ," ujar suamiku langsung masuk kekamar dan merebahkan tubuhnya.


******

__ADS_1


__ADS_2