
Edwaaaan.... Edwan.. kenapa kamu bicara seperti itu Edwan. Aku tidak bermaksud untuk tidak mau mematuhi ucapanmu. Aku cuma ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang.
Kalau memang kamu tidak berkenan kalau aku telah menyebar luaskan rencana pernikahan kita. Aku minta maaf Edwan, tolong jangan batalkan acara pernikahan kita. Karena aku sangat mencintaimu sayang, aku tak bisa hidup tanpamu," nenek Rabi berlari mengejar ayah namun ayah justru telah pergi menggunakan ojek online. Dengan tertatih dan nafas yang terengah-engah nenek Rabi kembali lagi kearah kami.
Huuuuu!
Sorak sorai para hadirin tertawa melihat Nenek Rabi mengejar cintanya. Untung dia sedang tidak pakai high heel, kalau dia pakai high heel entah apa yang terjadi pada nenek peot itu.
"Sudahlah nek...tidak usah cape-cape mengejar suami orang. Percuma saja, dia sepertinya tak sedikit pun mencintai nenek. Lebih baik sadar diri saja dan perbanyak ibadah untuk bekal diakherat nanti," ujar mba Darmi yang sedang menggendong Adam. Kebetulan dia selalu duduk tak mau jauh dariku.
"He....wanita tua tidak usah banyak komentar, kamu yang harusnya sadar diri karena kamu hanyalah seorang babu, "Sahut nenek Rabi yang terus berjalan mendekati ibu.
"Dinda tolong bujuk suamimu agar secepatnya menikahi aku. Kamu sepertinya santai sekali melihat kelakuan suamimu. Ingat ya Dinda dia itu suamimu, apapun yang dilakukan itu adalah tanggung jawabmu," ujar nenek Rabi sambil menunjuk-nunjuk wajah ibuku.
"Dasar nenek-nenek sinting, sudah tua tidak tahu diri," ujar salah satu undangan mengatai nenek Rabi.
Beberapa undangan terus mengolok nenek Rabi hingga membuat nenek Rabi marah-marah pada semua orang. Tiba-tiba dua orang yang bertugas menjaga keamanan datang menghampiri nenek Rabi, mereka langsung menangkap nenek Rabi dan dibawa keluar jauh dari tempat dilangsungkan acara pernikahan ini.
"Maaf ya para undangan sekalian, saya salah telah mengundang nenek Rabi. Soalnya dulu wanita itu sangat baik dan tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh. Saya benar-benar tidak menyangka kalau dia sekarang sakit jiwa. Jadi tolong dimaklumi ya, " ujar ibu Suminah menggunakan pengeras suara.
Kembali aku dan kak Anggara ditemani ibu dan mba Darmi, kami semua menyalami kedua orangtua Nina dan Jhon.
__ADS_1
"Selamat ya om, tante, akhirnya Nina bertemu jodoh laki-laki yang baik," ujarku seraya menyalami kedua orangtua Nina, disampingku kak Anggara juga menyalami beliau.
"Iya nak Elena, saya sebagai kedua orangtua Nina sangat berterimakasih sama nak Elena. Berkat Nina berteman denganmu. perilakunya menjadi lebih baik dan akhirnya dia juga bertemu jodoh yang baik.
Sebagai orangtua saya hanya bisa mendoakan semoga Nina dan Jhon selalu bahagia dan mampu menghadapi ujian pernikahan," ujar papa Nina mengungkapkan perasaannya.
Setelah menyalami kedua orangtua Nina, selanjutnya kami juga menyalami kedua orangtua Jhon.
"Alhamdulillah nak Anggara akhirnya datang juga. saya ini mau mengucapkan terima kasih kepada nak Anggara karena berkat nak Anggara pernikahan ini terjadi. kalau bukan karena nasihat nak Anggara, mungkin saat ini saya masih keras kepala tidak mau merestui hubungan mereka karena menganggap orang kaya semua kejam.
Pada kenyataannya kedua orangtua Nina baik sekali jauh dari dugaan saya. Saya jadi malu jika ingat kalau saya selalu berprasangka buruk pada mereka," ujar bu Suminah pada suamiku.
Sampai dirumah, ternyata rumah terlihat sepi, pak satpam membukakan gerbang dan kak Anggara memarkirkan mobil kami dicarport rumah orangtuaku.
"Ayah tadi sudah pulang kan pak," tanyaku pada satpam yang berjaga digerbang depan, saat dia membantu membukakan pintu mobil.
"Sudah bu Elena, setelah bapak pulang, tidak lama kemudian nenek Rabi datang juga mencari bapak, sepertinya beliau dalam keadaan emosi pada bapak. Sebenarnya saya sudah merasa khawatir bu, takut sesuatu yang buruk terjadi. Tapi saya mau menengok kedalam takut dikira ikut campur urusan orang," ujar satpam memberi tahu.
Mendengar keterangan pak satpam, hatiku langsung panik. Dengan segera aku melangkah masuk kedalam rumah melewati pintu samping. Ternyata pintu samping tidak terkunci padahal aku ingat betul, aku telah menguncinya saat berangkat ke pernikahan Nina tadi pagi. Kak Anggara, ibu dan yang lainnya juga mengikutiku.
Setelah membuka pintu aku langsung menuju keruang tv, sedangkan kak Anggara berlari kedapur, ibu naik kelantai dua. Kami semua berpencar mencari keberadaan ayah dan nenek Rabi. Sementara aku meminta mba Darmi untuk menemani Adam dikamarku.
__ADS_1
Setelah diruang tivi ayah dan nenek Rabi tidak ada, aku lanjut mencarinya keruang tamu. Namun keduanya tak juga aku temukan. Akhirnya akupun kembali keruang tivi. Bersamaan dengan itu ibu dan kak Anggara juga tiba disana. Sama sepertiku, kak Anggara dan ibu juga tidak menemukan keberadaan ayah dan nenek Rabi.
"Kira-kira ayah dan nenek Rabi lagi dimana ya bu, jujur Elena merasa sangat khawatir, takut nenek Rabi mencelakai ayah, soalnya tadi aku lihat beliau marah sekali dengan keputusan ayah membatalkan rencana pernikahan mereka.
"Alah sudahlah, mereka kan sudah sama-sama tua, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi. Kita pusing-pusing memikirkan mereka, eeh....ternyata mereka sedang berbuat mesum, enak-enakkan," sahut ibuku sambil duduk disofa dengan santai, mengambil remot dan menyalakan tivi.
"Bu... jangan berfikir negatif bu, ayah tidak mungkin melakukan itu," sahutku merasa tidak terima dengan sangkaan ibu.
"Elena-Elena...buka hatimu lebar-lebar. Ayah yang dulu selalu kamu bangga-banggakan kini telah berubah tidak seperti dulu lagi. Kalau ayahmu baik seperti yang kamu katakan, tidak mungkin dia mau mengawini nenek-nenek peot, dasar doyan, cari selingkuhan asal-asalan saja, asal punya ********," balas ibuku dengan geram.
Ibu terus menjelekkan ayah dan aku terus tidak terima dan spontan membelanya. Sebenarnya dalam hati kecilku aku memaklumi kenapa prasangka ibu begitu negatif pada ayah. Itu semua gara-gara sandiwara yang telah kamu lakukan.
Saat aku berdebat sengit dengan ibu, tiba-tiba terdengar suara teriakan ayah dan nenek Rabi dari arah dapur.
"Toloooong Rabi, ma... maafkan aku, aku mengaku salah. Ampuni aku Rabiii, aku sudah tidak tahan. Rabi.. sakittt...sakiiit sekiiiiit, " suara teriakan ayahku yang terdengar memilukan hati.
"Pokoknya tidak ada maaf buat kamu Edwaaan. Kamu sudah mempermalukan aku di depan semua orang. Kamu hancurkan harapanku untuk bisa bahagia bersamamu. Sekarang hanya ada dua pilihan buat kamu.
pertama kamu tetap akan aku biarkan hidup dengan syarat, nikahi aku sekarang juga, agar orang-orang tahu kalau omonganku benar adanya. Yang kedua, kamu tidak perlu menikahi aku, tapi sekarang juga kamu harus mati ditanganku. Jangan kamu fikir aku takut dipenjara ya Edwan. Aku sama sekali tidak takut dipenjara. Malah aku bersyukur kalau bisa masuk penjara, bisa makan gratis setiap hari tanpa susah-susah mencari uang, " Suara teriakan nenek Rabi begitu lantang terdengar oleh kami.
****
__ADS_1