Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
70. Gampang Lapar


__ADS_3

"Ada apa sih dari tadi melamun aja seperti sedang berfikir, apa ada yang kamu khawatirkan," tanya suamiku. Tanpa fikir panjang aku langsung menceritakan apa yang mengganggu fikiraranku. tentang ibu dan ayah yang tidak lagi berkunjung kerumahku setelah kepulanganku dari rumah sakit. Juga tentang cinta yang memudar setelah empat tahun hidup bersama, jujur aku takut mengalami ini.


"Kalau soal ibu dan ayah besok kita sebaiknya kesana saja, Adam bisa kita bawa kesana dan kita menginap saja ya, sudah lama juga kita tidak menginap disana. Semoga ayah dan ibu baik-baik saja.


Kalau soal cinta yang memudar setelah tahun ke empat pernikahan, solusinya kamu bisa menikah lagi, nanti setelah empat tahun pernikahanmu dengan lelaki lain kan cintamu akan memudar lagi ya kalian berpisah saja dan balik menikah lagi denganku hingga empat tahun dan begitu terus sampai tua, " saran suamiku sambil tersenyum jenaka. Tentu saja aku sangat kesal, saat aku bertanya serius jawabannya terkesan main-main. Namun lelakiku itu bukannya kesal juga dia malah mengacak rambutku dengan gemas.


"Sayang-sayang. kenapa sih kamu segitu khawatirnya dengan artikel yang ditulis oleh manusia. Lagian artikel itu ditulis berdasarkan riset yang dia lakukan. Riset itu kan biasanya dilakukan dengan pengamatan pada sampel, misalnya pada beberapa orang yang menjadi objek pengamatan, nah mungkin beberapa orang yang menjadi objek pengamatan mengalami hal yang demikian yaitu cintanya memudar setelah kurun waktu empat tahun. Tapi itu kan tidak terjadi pada manusia diseluruh muka bumi ini. Atau mungkin riset itu dilakukan disebuah masyarakat yang budayanya beda dengan budaya ditempat kita.


Intinya gini lho sayang.... tulisan itu dibuat oleh manusia dan alur atau skenario hidup manusia diatur oleh Tuhan. Kalau memang Tuhan menakdirkan kita saling mencintai sampai tua ya itu pasti terjadilah. Kamu juga harus lihat dilingkungan kita apa banyak orang yang bercerai setelah empat tahun pernikahannya dengan alasan sudah tidak ada cinta lagi. Jarang bukan?"


Aku setuju dengan ucapan suamiku kalau tulisan yang dibuat digogel itu tidak harus ditelan mentah-mentah. Jadi lebih baik percaya pada diri sendiri kalau kami akan selalu bersama sampai tua.


Setelah berpakaian rapi dengan setelan pakaian kerja, suamiku benar-benar terlihat tampan sekali. Rasanya aku sangat beruntung memiliki suami setampan dan sebaik dia. Walaupun terkadang sifat dingin dan arogannya sering kali kambuh. Namun aku berusaha sabar dan memakluminya karena memang itu adalah sikap asli dia dari kecil. Dia mau merubah sikapnya lebih lembut dan romantis itu saja sudah sangat membuat aku bersyukur. Walaupun itu hanya sesekali saja.


"Ayo temani aku sarapan, Adam biar diurus sama pengasuh," ujar kak Anggara menggandeng tanganku. Lama sudah suamiku bersikap dingin padaku. Saat dia mendadak romantis seperti ini, rasanya kok seperti menjadi wanita paling bahagia sedunia.


"Kamu makan yang banyak yah, ini jangan lupa dimakan sayur asem gabusnya, karena kandungan albumin yang ada didalam ikan gabus akan mempercepat penyembuhan luka jahitan yang ada pada tubuhmu. Aku sengaja menyuruh mba Darmi agar setiap hari memasak ikan gabus," ujar kak Anggara kepadaku membuat aku tersipu karena merasa tersanjung dengan perhatiannya.

__ADS_1


"Tapi aku kan nggak operasi kak, ikan gabus kan biasanya disarankan pada orang yang habis operasi agar lukanya cepat sembuh. Bukannya kemarin aku melahirkan normal," jawabku mengingatkan suamiku yang sepertinya lupa kalau aku melahirkan normal. Mungkin karena rencananya akan melahirkan caesar sehingga hal itu yang membuatnya lupa.


"Iya aku tidak lupa, biarpun melahirkan normal, tapi kan tetap ada luka bekas jahitan dijalan lahirkan. Nah untuk mempercepat penyembuhan luka yang disita maksud aku," ujar kak Anggara.


Aku hanya tersenyum dan langsung mengambil sayur asem gabus kemudian langsung memakannya. Tapi aku terus membatin, ternyata dia peduli bukan pada diriku semata, namun pada aset berharga milikku. Padahal jahitan di organ intimku sudah tidak berasa apa-apa lagi karena sepertinya telah sembuh. Namun untuk menyenangkan hatinya aku tetap mengikuti sarannya.


Tentu saja dia peduli pada bagian tubuhku yang itu karena disitulah tempat yang paling dia sukai. Setelah selesai sarapan, aku mengantarkan suamiku ke teras depan dimana disana mobil suamiku telah siap dengan pak Sentul sebagai supirnya.


Setelah kak Anggara berangkat, aku kembali menjalankan rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yaitu mengurus bayi kami.


Keesokan harinya kami segera meluncur bersiap-siap berkunjung kerumah ayah dan ibu. Tak lupa aku membawa semua perlengkapan bayi, mulai dari pampers, peralatan mandi dan setelah mandi hingga pakaian, selimut semua aku bawa.


Kriiiuuuuk! kriiiuuuuk!


Suamiku tersenyum mendengar bunyi itu. Tanpa bertanya apapun lelakiku langsung memberitahu pak Sentul.


"Pak kita makan dulu di restoran tapi sawah yah, tuh istriku kelaparan, padahal tadi sudah makan" titah suamiku.

__ADS_1


"Ibu menyusui memang seperti itu pak, bawaannya lapar terus, dulu istri saya juga begitu. Mungkin makanan yang dia makan jadi air susu dan dihisap sama si bayi, sehingga lapar terus," sela pak Sentul.


"Masa iya sih pak, tapi dulu waktu menyusui saya, enggak gampang lapar seperti sekarang ini," ujar suamiku yang langsung aku tutup mulutnya pakai ****** ***** adam yang ada ditanganku , membuat pak Sentul terkekeh.


"Pak sudah sampai, saya nunggu disini saja yah, soalnya saya kan sudah kenyang," pinta pak Sentul.


"Sudah kenyang apa malas ketemu mantan, " canda suamiku.


"Itu menurut anda pak Anggara, dan bagi saya pendapat orang lain tentang saya itu bukan urusan saya," mereka pun tertawa bersama.


Sampai didalam restoran, tiba-tiba aku merasa menyesal kenapa tadi tidak menolak saat kak Anggara mengajak kesini. Bukannya tidak ingin makan, tapi aku malas ketemu si genit Leha.


Baru saja aku berfikir tentang Leha, panjang umur. Orang yang sedang ada dalam fikiranku muncul. Wanita itu berlenggak-lenggok melangkah kemeja kami.


Dia itu menyoroti bayi yang sedang ada dalam gendongan suamiku, kemudian dia memandang kearahku. Aku langsung mengangguk dan tersenyum. Aneh sekali, dia bukannya membalas senyumanku tapi malah memandangku dengan sinis. Lagaknya sudah seperti istri sah bertemu pelakor.


"Ya ampun, bayinya ganteng banget ya mas, dia mirip sekali hidung dan matanya dengan mas Anggara. Sepertinya dia juga mirip sama anak kita yang belum lahir ya mas. Aku shock sekali mendengar ucapan wanita genit itu. Ada sedikit rasa curiga kalau-kalau dia telah melayani kak Anggara selama aku tidak bisa menunaikan tugasku. Tapi aku segera menepis Jauh-jauh rasa itu karena sudah terbukti kak Anggara selama ini selalu setia.

__ADS_1


"Dari pada kamu ngomong yang tidak masuk akal, lebih baik segera sediakan pesanan istriku, cepat, tidak pakai lambat dan tidak lakai racun.


******


__ADS_2