Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
57. Menemui Kekasih Istri


__ADS_3

"Tentu saja sayang, aku sudah tidak ada cinta untuk wanita lain. Cintaku hanya untukmu seorang. Hanya kamu satu-satunya wanita yang kupuja dan kucinta sepanjang sisa usiaku. Semoga kita berdua berumur panjang agar bisa terus mereguk cinta bersamamu hingga kita menua bersama, mendampingi anak, cucu dan menantu kita. Kami menyelesaikan percintaan dengan sangat puas. Istriku tertidur pulas, tampaknya dia sangat kelelahan setelah aku gembur berkali-kali.


Kali ini aku akan pergi untuk menemui Tirta sesuai saran pak Anggara. Perlahan aku mengambil kendaraan metikku yang aku parkir digarasi. Kukeluarkan kendaraan dengan menuntunnya perlahan tanpa menghidupkan mesinnya terlebih dahulu. Setelah sampai dihalaman aku mulai menaikinya.


Saat akan menstarter kendaraan, tiba-tiba Sentiana keluar dari rumah dan berlari menghampiriku.


"Ayah...ayah mau kemana sore-sore begini, ibu lagi apa yah?"


Sentiana memegang tanganku dan menahan tangan ini untuk menunda menghidupkan kendaraan. Aku tahu dia mengkhawatirkan hubungan kedua orang tuanya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Ayah ingin kerumah pak Anggara bos ayah. tadi dia menelepon ayah, " jawabku singkat. Aku memang berniat menemui pak Anggara setelah bertemu Tirta untuk kembali sharing dalam menyusun strategi selanjutnya.


"Tapi setelah itu ayah akan langsung pulang kan?"


Wajah Sentiana terlihat muram, aku mengusap pucuk kepalanya seraya menganggukkan kepala.


"Aku takut ayah pergi dan tidak kembali, aku takut ayah atau ibu pergi meninggalkan kami disini"


Sentiana mengungkapkan kekhawatirannya seraya terisak, pedih rasanya menyaksikan mereka terluka. Menyesal sekali rasanya aku yang terus pasrah memendam cinta pada wanita selain istriku. Seharusnya aku melawannya dan membuang perasaan itu jauh-jauh.


"Tentu saja ayah akan pulang nak, tapi nanti setelah semua urusan selesai. Kamu dirumah jaga ibumu yah, kalau dia bangun bilang ayah sedang dipanggil pak Anggara kerumahnya, jangan lupa ayah titip salam buat ibu dan bilang juga sama ibu kalau ayah jatuh cinta sama ibu dan akan selalu menjaga ibu sampai kapan pun," ucapku seraya menghidupkan kendaraan ku dan berlalu pergi setelah mencium kening putri tersayangku.


Kini aku telah berada disebuah perumahan elit. Sebuah rumah. besar dan megah menjulang tinggi entah berapa lantai. Aku segera menemui satpam yang berjaga digerbang depan rumah Tirta, rumah paling megah yang ada dikomplek elit tersebut.


"Sebentar saya hubungi beliau, apakah beliau berkenan bertemu dengan anda. Oh ya, siapa nama bapak, " ujar pak satpan. Dia langsung menelepon pemilik rumah megah itu dan menyebutkan kalau pak Sentul ingin bertemu.


"Bapak disuruh menunggu diruang tamu. silakan masuk pak, kendaraannya silakan diparkir disana. Nanti ada asisten yang akan menemui anda," titah satpam dengan sopan.


Aku segera memarkir kendaraanku ditempat parkir kendaraan roda dua. Setelahnya melangkah perlahan menuju pintu masuk rumah tersebut. Seorang Asisten menyambutku.

__ADS_1


"Mari pak ikut saya, anda sudah ditunggu tuan Tirta"


Aku segera mengikuti wanita setengah baya dengan dandanan menor dan rambut warna ping yang tergerai lurus. Jika dilihat dari belakang dia persis seperti seorang gadis cantik karena tubuhnya yang nampak masih kencang sepertinya wanita ini belum pernah melahirkan.


Aku terus mengikuti wanita itu, melewati beberapa ruangan dengan perabotan yang sangat mewah. kemudian wanita itu berhenti tepat di depan sebuah lift, aku melihat dia menekan tombol lift untuk naik kelantai tiga. Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka.


"Mari pak silakan masuk kedalam lift, tuan Tirta ada diruang kerjanya dilantai tiga," titah wanita berambut warna ping.


Setelah beberapa menit kami turun dari lift dan menyusui lorong sekitar beberapa meter hingga kami berada di depan sebuah ruangan dengan pintu kembar yang tertutup rapat. Wanita itu mengetuk pintu tersebut. Terdengar suara orang yang akan aku temui yaitu Tirta kekasih istriku.


"Masuk"


Wanita berambut ping langsung menyentuh knop pintu dan memutarnya.


Cekreek!


Sebuah ruangan yang yang luas, mungkin dua kali lipat dari luas rumahku. Netraku terus menyapukan pandanganku kesegala arah tuk memindai semua perabot yang mengisi ruangan tersebut sepertinya serba unik dan tak pernah kulihat sebelumnya.


Misalnya sebuah jam dinding besar berbentuk kepala harimau dan berwarna keemasan. Sebuah ranjang berbentuk amor yang tertutup bad Cover berwarna keemasan pula.


"Ada apa kamu kasini, apa kamu akan menyerahkan istrimu yang montok itu kepadaku"


Aku amat terkejut suara Tirta yang sedang duduk dikursi yang tinggi dan besar mirip seperti sebuah singgasana dikerajaan yang pernah aku lihat dalam sebuah sinetron.


"Ternyata kamu disini Tirta, aku fikir kamu sedang dimana," jawabku santai saja.


Tirta sepertinya tidak suka kalau aku memanggil namanya saja. Maklumlah mungkin dirumah ini orang-orang yang bekerja padanya memanggilnya dengan nama kehormatan seperri tuan, bapak atau sejenisnya.


Aku tidak peduli dengan reaksinya, bagiku dia hanyalah seorang pebinor yang telah merusak rumah tanggaku.

__ADS_1


"Silakan duduk, katakan kapan kamu akan menceraikan istrimu karena aku akan segera menikahinya"


Tirta bicara dengan lantang, dia seperti sedang mengintimidasiku. Aku harus tetap tenang dan tidak perlu terpengaruh oleh gertakkannya.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikannya karena aku sangat mencintai. Berhentilah mengharapkan istriku karena itu hal yang sia-sia saja. Tuti pasangan halalku, tentu dia akan lebih memilih kembali kepadaku demi menjaga mental anak-anak kami.


Lebih baik kamu cari saja wanita yang lebih cantik dari pada Tuti, yang masih perawan juga banyak. Untuk apa mengharap wanita bersuami dan beranak dua," ujarku santai.


Wajah Tirta terlihat marah sepertinyavdia tidak suka dengan ucapanku.


"Kamu dengarkan baik-baik ucapanku Semprul!"


Aku langsung protes karena Tirta sembarangan saja menyebut namaku.


"Namaku Sentul bukan Semprul, jangan sampai salah sebut soalnya beda artinya, " protesku.


"Iya maaf, dulu aku dan Tuti adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Aku terpaksa menyuruh orang memberi kabar pada kedua orang tua Tuti bahwa aku meninggal dalam sebuah kecelakaan perusahaan plywood milikku dikalimantan beberapa hari sebelum acara pernikahan kami. Aku berharap orang tua Tuti membatalkan acar pernikahan kami yang siap digelar karena aku tidak bisa hadir sebab sedang tersandung kasus ilegal logging sehingga dilarang meninggalkan wilayah kalimantan.


Saat aku kembali, aku akan melanjutkan acara pernikahanku dengan Tuti yang sempat tertunda. Tapi aku tidak menyangka kamu sudah menikahi Tuti menggantikanku.


Walau hatiku hancur, sehancur-hancurnya. Namun aku mencoba berusaha untuk ikhlas karena memang itu salahku. Aku relakan dia menjadi milikmu yang penting bagiku dia bahagia, walaupun aku harus menderita karena perpisahan itu.


Setelah puluhan tahun berlalu, aku baru tahu ternyata kamu tidak pernah mencintai Tutiku yang cantik, yang manis, yang bohai. dan tinggi semampai. Jujur saja, aku sangat kecewa padamu, wahai Semmmprul," Tirta berteriak meluapkan emosinya.


"Sentul"


Aku langsung memotong ucapan Tirta dengan suara keras.


******

__ADS_1


__ADS_2