
Setelah membersihkan diri dibantu oleh pelayan, aku kembali menemui Nina yang tadi ada diruang tamu, aku sudah meminta pelayan untuk memasak buat makan siang bersama Nina.
"Maaf ya Nina, lama nunggunya, soalnya aku mandi dulu, sudah lengket rasanya badan ini, ingin mandi air hangat biar segar"
Aku berjalan tertatih menghampiri Nina yang sedang asyik menikmati cemilan. Kami menikmati makanan untuk pertama kalinya dengan dilayani oleh beberapa pelayan.
"Aku tidak menyangka ternyata suamimu orang tajir. Nggak nyangka ya orang seperti Anggara mau jualan gorengan. Aku benar-benar kagum dengan perjalanan rumah tangga kalian. Suamimu hebat bisa hidup dalam situasi bagaimanapun.
Kalau orang lain yang mengalami kebangkrutan seperti Anggara, mungkin dia akan depresi dan merepotkan banyak orang karena tidak bisa menerima takdirnya yang semula kaya terus tiba-tiba jadi miskin.
Tapi berbeda dengan Anggara, dalam kondisi tak punya harta dia percaya diri melamar anak orang dan menikahi, dengan pesta seadanya dan kemudian mencari nafkah dengan cara apapun yang dia bisa.
Terus, yang yang membuat aku kagum padamu Elena, kamu mau dinikahi oleh lelaki miskin, yang bangkrut, belum lagi Anggara itu sangat arogan, sombong dan enggak ada romantis - romantisnya. Kalau dipikir-pikir saat itu Anggara itu tidak ada sisi menariknya sama sekali selain wajahnya yang memang tampan.
Setelah kalian menikah kamu juga begitu sabar menerima nafkah dari dia yang hanya jualan gorengan. Padahal waktu itu kamu kan kerja, bisa saja kan kamu menerima lelaki yang lebih baik dari dia.
Tapi semua kesabaran yang kalian jalani dengan ikhlas selama ini tidak sia-sia. Karena sekarang hidupmu bergelimang harta, Mungkin harta kalian tidak akan habis tujuh turunan," ujar Nina mengemukakan pendapatnya dalam mengomentari perjalanan pernikahan kami.
Aku membenarkan ucapan Nina, walau sebenarnya dulu aku menerima lamaran kak Anggara demi agar kedua orang tuaku tidak malu atas gagalnya pernikahan aku dengan Andrea.
Namun aku ikhlas menerima kak Anggara karena menganggap dia adalah takdirku. Dengan niat baik aku menikah dengan kak Anggara. Saat itu aku merasa kak Anggara adalah dewa penolong yang telah hadir menolong kami terhindar dari rasa malu.
__ADS_1
Sedangkan kak Anggara menganggap menikah denganku, wanita yang selama ini telah mengambil hatinya adalah suatu anugerah yang luar biasa. Apalagi dengan ikhlas aku mampu menerima dia disaat dia terpuruk. Aku juga tak malu saat dia harus jualan goreng, menerima dengan ikhlas berapapun nafkah yang dia berikan.
"Iya kamu benar Nin.... pengalaman hidupku dengan suamiku kelak akan aku ceritakan kepada anak dan cucuku sebagai sebuah pelajaran berharga, dimana kita tak harus menerima pasangan hidup karena harta dan popularitasnya. Karena harta bisa saja pergi saat Tuhan mengambilnya. Saat itu popularitasnya pun otomatis menurun. Tapi pilihlah pasangan hidup karena niat baiknya untuk berumah tangga dan dibarengi dengan usaha atau bukti tentunya," jawabku.
"Kalau sekarang jarang ada perempuan seperti itu, perempuan sekarang rata-rata memilih lelaki karena uangnya, karena isi dompetnya, karena alat transportasi yang digunakannya. Bahkan tak jarang mereka menggoda pria-pria beristri yang telah sukses demi bisa hidup enak tanpa harus bekerja keras. makanya sebagai istri dari lelaki sukses sepertimu harus hati-hati sama perempuan penggoda diluar sana," Nina menambahkan.
Setelah perut kenyang dan puas ngobrol panjang lebar, Nina pun pamit pulang. Sepeninggal Nina, tiba-tiba ada notifikasi masuk keponselku. Setelah aku buka ternyata dari ibu, ibu meminta aku dan kak Anggara mengunjungi mereka besok sore, dirumah ibu dan ayah akan mengadakan syukuran katanya.
Aku segera berjalan perlahan menuju kekamarku. Sejak tadi aku tidak melihat suamiku. Mungkin dia sedang istirahat dikamar kami, namun setelah aku cari kekamar dia tak ada disana.
"Mba ada melihat kan Anggara?"
Aku bertanya kepada seorang pelayan yang sedang melintas dihadapanku.
Wanita setengah baya yang menjadi pelayan dirumah suamiku mengantarkan aku menuju lantai dua menggunakan lift. Aku terus mengamati ruangan dan lorong yang kami lewati. rumah ini benar-benar besar sekali.
"Mba kalau boleh tahu siapa nama mba, apa mba sudah lama kerja dirumah ini? "
Aku bertanya pada pelayan yang sedang bersamaku agar hubungan kami menjadi lebih akrab.
"Nama saya Darmi nyonya, saya sudah bekerja dirumah ini sejak tuan muda Anggara belum lahir, dulu saya beketja sama tuan dan nyonya besar, orang tua tuan Anggara. Tapi sejak tuan muda bangkrut dan rumah ini dikuasai oleh orang kaya lain, saya diminta keluar dari rumah ini. Saat itu saya dirumah saja nyonya, menganggur.
__ADS_1
Setelah rumah ini diambil alih kembali oleh tuan Anggara, saya dihubungi dan diminta untuk bekerja kembali nyonya. Mungkin sekitar dua bulan yang lalu, rasanya hati saya bahagia sekali lho bisa bekerja kembali pada keluarga ini. Karena kerja disini tuh enak, sebab sang majikan sangat memanusiakan manusia nyonya. Dimana kami digaji lebih tinggi daripada bekerja ditempat lain, dengan pekerjaan yang sangat layak, kami disini juga diharga dan dihormati. Selain itu hubungan antara para pekerja yang satu dengan pekerja yang lain sudah seperti keluarga. Pokoknya kerja sama tuan itu enak selama kita patuh pada beliau tentunya," Ujar mba Darmi bercerita panjang lebar.
"Nih ruangan kerja tuan nyonya, sejak usia remaja tuan Anggara memang sering menghabiskan waktu selama berjam-jam diruangan ini"
Mba Darmi mengetok pintu yang ada dihadapannya, tak lama kemudian.
Kreet!
pintu terbuka, terlihat kepala suamiku menyembul dari balik pintu, netranya langsung menyoroti wajahku seraya tersenyum.
"Sayang ayo masuk, Ninanya apa sudah pulang?"
Tangan kak Anggara menyentuh pergelangan tanganku lalu menariknya masuk kedalam ruangan dimana dari tadi dia disitu. Tidak lupa dia mengucapkan terimakasih sembari mengangguk hormat pada mba Darmi. Benar kata mba Dari Darmi, tuannya memperlakukan dia dengan sangat baik.
"Ayo duduk, kamu suka baca novelkan, disini ada banyak novel peninggalan mama. Kamu bisa membacanya sembari menungguku bekerja," ujar kak Anggara sembari mengarahkan jari telunjuknya kearah rak-rak yang berjajar berisi banyak sekali buku-buku.
Aku langsung mengarahkan pandanganku kearah mana tulunjuk kak Anggara menunjuk. Setelah aku mengamati ternyata ruangan ini luasnya seperti sebuah perpustakaan. Dimana didalamnya berjajar Rak-rak buku dari berbagai disiplin ilmu.
Aku memandang satu rak buku yang panjangnya sekitar dua puluh meter dengan ribuan jenis novel tersusun disana. Namun sebelum langkahku bergerak kesana. Terlebih dahulu aku memyampaikan pesan ibuku pada suamiku bahwa besok sore ayah dan ibu mengundang kami untuk datang kerumah nya karena ada acara syukuran.
"Besok kita datang, aku akan pulang kantor lebih awal. Kamu tunggu saja dirumah. Oh... ya.. sejak perusahaan tempatmu bekerja mengetahui kamu koma, perusahaan meminta agar kamu berhenti bekerja karena telah ada penggantinya.
__ADS_1
******