Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
85. Tiada Maaf


__ADS_3

Sekitar jam satu Siang kami telah memasuki desa Bambu kuning. Aku dan suamiku singgah dimasjid terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat zuhur. Beberapa warga desa yang akan melaksanakan sholat memandang kearah kami yang baru saja turun dari mobil dilokasi parkiran masjid.


"Mba dan mas ini sepertinya bukan warga sini ya?"


Sapa seorang ibu dengan gamis berwarna merah marun, sepertinya beliau orang terpandang di desa ini terlihat bagaimana gaya berpakaiannya dan bagaimana ibu-ibu yang lain memperlakukannya.


"Betul bu, saya dari kota datang kedesa ini mau berkunjung kerumah anaknya nenek Rabi, " jawabku memberi tahu.


Sejenak para ibu-ibu itu saling pandang dan berbisik-bisik setelah itu mereka semua memandangku dengan lekat dan mereka pun saling pandang lalu saling menganggukkan kepala entah apa maksudnya.


"Kalau dilihat wajah kamu mirip Edwan lelaki yang sedang terlibat skandal dengan nenek Rabi, apa benar kamu anaknya Edwan. Oh iya kenalkan saya ibu Dina istrinya pak Kades di desa ini.


Ucapan bu Dina istrinya pak kades benar-benar membuat hatiku sedih karena dari ucapan bu kades menunjukkan seolah-olah ayah adalah lelaki murahan yang doyan perempuan. Tapi ya gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Wajar orang bicara seperti itu karena mereka kan tidak tahu bagaimana masalah yang sebenarnya.


"Aku tidak habis pikir dengan Edwan lelaki ganteng yang pintar itu kok bisa ya menjalin hubungan dengan bu le Rabi, padahal jelas-jelas istrinya Edwan lebih muda, cantik dan berpendidikan," ujar bu kades.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan beliau dan langsung permisi memohon pamit untuk melaksanakan shalat. Selain waktu shalat sudah sampai pada waktunya, aku juga tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada sembarang orang.


"Oh... silakan mba, kami juga mau shalat, ayo bareng saja. Nanti kalau perlu ditemani kerumah bu le Rabi, saya akan temani. Mba belum pernah kerumah bu le Rabi bukan.


Kebetulan beberapa jam yang lalu bule Rabi Baru saja pulang katanya dari kantor polisi dijemput oleh kedua anaknya yaitu Rahmat dan Dayat, " ujar bu Kades sambil melangkah menuju masjid dimana para perempuan menunaikan shalat


"Jadi benarkan kamu anaknya Edwan, " tanya bu kades lagi.

__ADS_1


Aku hanya menjawab pertanyaan bu kades dengan menganggukkan kepala. Tersenyum geli didalam hati saat mendengar pertanyaan bu kades.


Seingatku aku tidak ada menyangkal kalau aku adalah anak ayah, bukankah itu artinya aku anak ayah Edwan seperti dugaan mereka.


Setelah selesai shalat aku dan suamiku ditemani oleh bu kades dan beberapa orang warga menuju kerumah pak Rahmat dan pak Dayat anak nenek Rabi yang kebetulan rumahnya bersebelahan.


Sepanjang jalan bu Kades dan beberapa orang warga terus bercerita tentang masa remaja mereka. Menurut bu kades ayahku tinggal dikampung sebelah. dulu banyak yang ingin menjadi istri ayah termasuk Nenek Rabi yang saat itu sudah berumur dan Ibuku yang masih SMA.


Kami terus berjalan, beberapa saat kemudian kami sampai didua rumah sederhana sama sederhananya dengan rumah lainnya didesa itu yang berdiri berdampingan. Menurut bu kades itu adalah rumah Rahmat dan Dayat anak nenek Rabi bersama istri dan anak mereka.


Kami semua memasuki halaman rumah yang tanpa pagar, dihalaman rumah nampak dua anak kecil laki-laki sedang bermain.


"Bapaknya ada sayang," sapa bu kades kepada kedua anak itu. Namun kedua anak itu bukannya menjawab, dia malah berlari masuk kedalam salah satu rumah itu, sambil berteriak.


"Mbaaah..... ada orangggg"


"Untuk apa bu kades membawa mereka kasini?, pasti bu kades sudah mendengar cerita bohong mereka. Hati-hati bu kades jangan mudah percaya dengan orang kota!"


Seru Lelaki itu pada bu kades, namun bu kades hanya tersenyum dan langsung duduk diteras rumah itu, lalu memberi isyarat kepada kami untuk duduk juga.


"Begini pak Rahmat, saya ini cuma menjalankan tugas sebagai warga yang baik. Ada orang yang sedang mencari bapak, kebetulan kami ketemu dimasjid jadi ya saya bantu dia menemui bapak. Kalau perkara dia bohong atau tidak kan kita lihat dulu, jangan asal menuduh.


Ayo duduk dulu pak, kita bicara dengan kepala dingin," ujar bu kades mempersilakan kami semua untuk bicara menyampaikan maksud kedatangan kami.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bu kades yang sangat santun dan ramah, lelaki yang ternyata pak Rahmatpun duduk, walau wajahnya masih terlihat tak bersahabat.


Aku merasa bersyukur karena dipertemukan dengan bu kades yang begitu peduli pada orang lain dan sepertinya disegani oleh warga sini. Kalau tadi kami datang hanya berdua dengan suamiku, mungkin kami tidak akan diterima dan langsung diusir dari sini.


Suamiku langsung menyampaikan maksud kami mengunjungi mereka yaitu ingin silaturrahmi dan meminta maaf atas kelakuan kami sekeluarga.


Kak Anggara kemudian menceritakan secara detail apa yang terjadi dikeluarga kami yang memanfaatkan nenek Rabi yang memang menyukai ayah untuk memanasi ibu.


Kami sekeluarga mengaku salah dan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan kami yang tidak berfikir panjang mempertimbangkan bagaimana perasaan nenek Rabi nantinya," Begitu ujar suamiku.


"Enak saja mau minta maaf, minta maaf itu soal gampang. Tapi bagaimana dengan ibu saya yang sudah terlanjur tergila-gila dan terus minta dikawinkan dengan ayah kalian.


Sekarang kalian dengarkan baik-baik ya. Saya tidak akan memaafkan kesalahan keluarga kalian kalau ayah kalian tidak mau mengawini ibu kami.


pokoknya tidak ada maaf bagimu. Kalian enak tinggal minta maaf, masalah selesai, mentang-mentang kami orang miskin yang tidak mampu untuk maju memperkarakan masalah ini ke pihak yang berwajib.


Kalian tahu karena kesalahan kalian, sekarang ibuku sering mengamuk minta kawin. Suruh ayah kalian kasini nanti setelah sembuh dan segera nikahi ibu kami, baru kami maafkan kesalahan kalian, Begituuu! "


Aku, kak Anggara dan bu kades saling pandang. terus terang kami bingung harus bicara apa lagi untuk membujuk pak Rahmat agar dengan ikhlas memaafkan kami.


"Sabar ya, jangan keras begitu pak Rahmat, kalau si Edwan harus menikahi ibumu ya kasian Dinda yang mesti dimadu. Mungkin kamu sebagai lelaki tak pernah bisa merasakan betapa hancurnya hati saat ada wanita lain menjadi istri dari suami yang dicintainya. Saya sebagai perempuan tu bisa ngerasakan lho, kalau sakiitnya tuh disini," ujar bu kades menyentuh dadanya.


Bu kades berusaha menengahi, sepertinya beliau juga tidak sependapat kalau ayahku yang tidak mencintai nenek Rabi harus menikahinya. Apalagi jelas-jelas ibuku masih hidup. Sebagai seorang laki-laki yang baik, tentu menikah lagi bukanlah perkara mudah.

__ADS_1


"Pokoknya saya tidak mau tahu, pak Edwan harus menikahi ibuku. Kasian ibu sudah lama ditinggal bapak, tentu sebagai wanita normal dia pasti ingin berumah tangga lagi. Aku tunggu kedatangan kalian bersama ayah kalian untuk melamar ibu," ujar pak Rahmat sambil berlalu meninggalkan kami semua, lelaki itu masuk kedalam rumah dan kemudian membanting pintu.


******


__ADS_2