
Suasana hening didalam mobil yang dikemudikan oleh suamiku sendiri. Aku merasa malas untuk berbicara karena sibuk berbicara dengan hatiku sendiri.
Saat melewati tempat sepi, tiba-tiba sekitar lima orang berpakaian serba putih menghadang mobil kami. Wajahnya yang garang membuat aku menduga mereka adalah orang-orang yang dibayar untuk mencelakai kami.
Dengan tubuh gemetar aku mengambil hand phone di dalam tasku. Aku ingin meminta pertolongan namun bingung harus menghubungi siapa. Rasanya otakku ini benar-benar blank tak mampu berfikir lagi.
Dalam kondisi panik kak Anggara langsung merebut ponsel ditanganku. Dia menekan sederet angka hingga terdengarlah nada sambung dari ponsel tersebut.
"Cepat hubungi yang lain, aku dalam bahaya, aku share lokasinya," suamiku melakukan share lokasi, kemudian dia langsung melemparkan ponsel yang tadi dia rebut dari tanganku pangkuanku.
"Bersiaplah aku ingin ngebut," mendengar aba-aba dari suamiku, aku langsung berpegangan kuat pada handel pintu mobil dan juga jok mobil.
Jantungku seolah berhenti berdetak saat kak Anggara melajukan mobil yang dia kemudikan dengan kecepatan tinggi, mobil kami menerobos lima kawanan lelaki berpakaian serta putih yang menghadang mobil kami. Bersamaan dengan itu empat orang dari mereka langsung menghindar dengan melompat kesamping kiri dan kesamping kanan, satu orang sepertinya tertabrak oleh mobil suamiku. Entah bagaimana nasibnya kini.
Empat orang yang sempat menghindar tadi langsung menaiki sepeda motor gede, mereka mengejar mobil yang dikendarai oleh suamiku.
Dooooor!..Dooooor! Doooor!
Tiga kali tembakan terdengar menghantam kaca mobil bagian belakang. Aku baru tahu kalau mobil suamiku ternyata anti peluru. Pantaslah harganya sangat mahal. Seandainya mobil yang kami pakai hanya mobil biasa mungkin Adam sekarang telah menyandang gelar yatim piatu.
Keempat lelaki berbaju putih tadi terus mengejar kami hingga posisi kami sekarang sejajar dengan mereka. Kak Anggara terus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Kami masih berada dijalan yang sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berpapasan dengan kami. Namun tak satupun dari mereka yang berani menolong kami. Walaupun mobil kami terus ditembak oleh sekawan lelaki berbaju putih tadi.
__ADS_1
Satu dari empat lelaki yang mengejar kami tadi melepaskan kendaraannya dan melompat keatas mobil kami. Sedangkan motor besar yang dia tumpangi langsung melesat tanpa pengendara hingga rabah tepat dihadapan mobil yang kami tumpangi. Kak Anggara langsung berhenti seketika.
Aku langsung menjerit histeris karena kami tak lagi mampu melarikan diri. Aku pasrah dengan keadaan ini, mungkin ini adalah akhir dari perjalanan hidupku yang harus mati ditangan penjahat yang kami tidak tahu siapa dia.
"Duduklah dibawah Elena, turun dari jok mobil dan berdoalah agar kita bisa selamat"
Aku langsung menuruti apa yang tadi dititahkan suamiku. Mataku terus menatap ketiga penjahat tadi, keempat orang tadi kini sedang berusaha membuka pintu mobil dengan menghantam kacanya dengan menggunakan besi panjang. Ternyata kaca mobil ini begitu kuat sehingga tak mudah dipecahkan oleh mereka.
Sedangkan suamiku tiba-tiba telah mengeluarkan sebuah pistol yang aku tidak tahu dia simpan dimana. Sesaat kemudian kaca yang ada di samping kemudi berhasil dipecah oleh sekawanan penjahat berbaju putih. Seorang penjahat menembakkan pistolnya kearah kak Anggara. Aku terpekik histeris melihat peluru yang melesat begitu cepat, tepat mengenai dada suamiku. Namun secepat kilat lelaki yang sangat aku cintai menghindar dengan menjatuhkan diri kesamping jok mobil dimana aku menyembunyikan tubuhku.
Dengan cepat pula suamiku bangun kembali dan menembakan sebutir peluru tepat mengenai wajah penjahat itu. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi sirine mobil polisi yang berhenti tepat dihadapan mobil kami. Sedangkan dibelakangnya mobil Jhon dan kawan-kawannya juga telah datang. Beberapa orang polisi melompat turun mengepung mobil kami dan mengacungkan pistolnya ke udara sambil berteriak.
Dooor! Dooor!
Beberapa orang polisi yang lain menangkap dan langsung memborgol ketiga tangan penjahat yang masih hidup. Kulihat John dan kawan-kawannya membantu polisi dalam mengevaluasi dua orang korban yang meninggal, yaitu satu tertabrak mobil kak Anggara saat ngebut tadi. Sedangkan satunya lagi terkena tembak oleh suamiku tadi saat dia membela diri.
Aku tidak tahu seberapa herpengaruhnya suamiku sehingga dia dan teman-temannya mempunyai izin untuk memiliki senjata api.
Dengan tubuh bergetar aku keluar dari mobil setelah polisi membawa tiga orang penjahat dan sebuah ambulan yang membawa penjahat yang menjadi korban insiden yang telah terjadi.
"Sebenarnya siapa pak mereka itu, apakah kakak tahu siapa mereka, " tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kita belum bisa memastikan siapa dia apakah mereka orang-orang dimasa laluku yang hadir kembali atau orang-orang suruhan anaknya nenek Rabi yang ingin membalas sakit hatinya kepada kita. Yang jelas kita saat ini harus senantiasa waspada.
"Jhon kamu hubungi beberapa orang-orang kita untuk menjaga keamanan dirumah mertuaku dan dirumahku juga," titah kak Anggara kepada Jhon.
"Okey bos... saya juga akan mengerahkan beberapa pengawal untuk menjaga keselamatan anda dan istri anda, juga untuk menjaga mertua anda yang sekarang sedang ada di rumah sakit"
Suamiku langsung mengacungkan jempol tanda setuju dengan langkah kerja John. Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk ayah dan tiga orang pengawal yang tadi bersama Jhon mengikuti mobil kami di belakang menggunakan motor balap.
Sesampainya dirumah sakit ayah sudah masuk ruangan karena kondisinya yang semakin membaik.
"Ayah....syukurlah kondisi ayah semakin baik. Elena sangat khawatir dengan ayah takut terjadi sesuatu. Elena belum siap untuk kehilangan ayah," ujarku memeluk ayah dan menangis tersedu.
"Ayah juga merasa bersyukur nak karena ayah masih diberi kesempatan untuk bertobat. Seandainya ayah meninggal. Mungkin kepergian ayah akan meninggalkan kesan buruk dimasyarakat. Anak-anak ayah terutama Dila dan Devan yang tidak mengerti apa-apa akan merasa kecewa kepada ayah karena pasti mereka menyangka ayah meninggal di habisi oleh seling*kuhan ayah. Ini semua salah ayah, andai saja ayah tidak pernah dekat dan curhat dengan wanita itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ayah sepertinya sangat menyesali perbuatannya.
"Ini tidak hanya salah ayah, kami juga ikut salah karena telah mendukung ayah. Seandainya kami tidak mendukung ayah, mungkin ayah juga tidak berani mengerjai ibu dengan memanfaatkan nenek Rabi.
Maka dari itu aku dan Elena berencana untuk mengunjungi rumah nenek Rabi untuk meminta maaf pada beliau, bagaimana menurut ayah, " ujar suamiku.
Tentu saja ayahku sangat setuju, walaupun menurut ayah nenek Rabi mungkin tidak ,,,,,,,mau memaafkan kesalahan kami semua.
Setelah ayah dan ibu setuju dengan rencana kami, Aku dan suamiku langsung pamit ingin kerumah nenek Rabi yang saat ini tinggal bersama anaknya di kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kota ini. Mobil terus melaju menuju keluar kota dan memasuki desa bambu kuning dimana nenek Rabi sekarang tinggal bersama dua orang anaknya yang sudah berkeluarga.
__ADS_1
*******