
"Maafkan aku Elena, harusnya aku memberikan semangat dan menguatkanmu. Tapi aku malah pingsan, aku tidak sanggup melihat kondisimu dan anak kita"
Mendengar ucapan suamiku aku hanya diam saja. Malas rasanya menanggapi ucapannya, mengingat kelakuannya yang sangat keterlaluan.
"Jangan cemberut terus seperti itu Elena, kelakuan suamimu yang keterlaluan tidak usah kamu ambil hati. Lak-laki memang seperti itu, Egois dan maunya menang sendiri"
Bisik ibu tepat didepan gendang telingaku. Tapi sepertinya ayah mendengar bisikan ibu, karena dari mimik wajahnya sepertinya ayah bertanya apa yang sedang kami bicarakan.
"Ayo Anggara diajani anakmu"
Ayahku ingin memapah kak Anggara namun dia menolak, dengan langkah tertatih dia mendekati bayi kami kemudian dia melantumkan Azan untuk anak lelakinya.
Sepanjang malam dirumah sakit, ibu mengajarkanku bagaimana cara memyusui yang benar. Bagaimana memasang pakaian bayi. Kebetulan asinya sudah mulai keluar sedikit demi sedikit, ibu memyarankan agar aku terus menyusui setiap dua jam sekali, karena bayi yang baru lahir mempunyai lambung yang kecil sehingga dia menyusu sebentar sudah kenyang, namun juga mudah lapar.
Sesekali kak Anggara juga membantuku memijit pundakku. Karena belum terbiasa menyusui, Rasanya badan pegal semua. Sepanjang malam hanya tidur beberapa jam saja. Ternyata menjadi ibu itu memang sangat melelahkan. Untung saja kali ini kak Anggara dengan sigap membantuku dan ikut begadang menemaniki, walau hatiku masih merasa kesal namun aku berusaha membuang rasa iti jauh-jauh.
Karena aku melahirkan secara normal, keesokkan paginya kami pun diperbolehkan pulang oleh dokter.
Sampai dirumah para asisten menyambut kami dengan gembira.
"Selamat ya tuan nyonya, atas kelahiran putranya, kalau tuan dan nyonya besar masih hidup, pasti beliau akan senang sekali mempunyai cucu lelaki yang tampan dan sehat begini"
"Waaah ternyata hidunnya mirip tuan, tapi bibir dan matanya mirip nyonya"
"Namanya siapa nyonya"
__ADS_1
kami semua ternyata lupa menyiapkan sebuah nama untuk putra tercinta kami. Mungkin karena ini adalah kehamilanku yang pertama dan aku sempat mengalami koma sehingga yang ada difikiran kami adalah bagaimana agar aku sehat dan bayiku selamat lahir kedunia dalam kondisi sehat wal afiat. Kalau masalah nama kami benar-benar tidak memikirkannya.
Aku memandang kak Anggara, namun suamiku justru menggelengkan kepala. Sepertinya dia tak punya ide untuk itu.
"Kalian sama sekali belum menyiapkan nama untuk cucuku yang ganteng ini?" tanya ibu.
Aku dan kak Anggara serentak mengangguk.
"Bagaimana kalau namanya Adam Putra Anggara," ujar ayahku menawarkan sebuah nama.
"Bagus itu ayah, aku suka, ada namaku diujungnya,"jawab suamiku sangat antusias.
"Sengaja aku membubuhkan namamu dalam nama putramu sebagai hadiah atas kerja kerasmu. Ayah tahu kamu sangat bekerja keras dan lebih dominan saat membuatnya, mendengar ucapan ayah, kak Anggata tersipu malu.
Sedang asyik ngobrol ternyata pelayan memberitahu kalau pak Sentul dan istrinya ada diruang tamu. Ibu segera membaringkan Adam diranjang bayi yang sudah kami sediakan.
"Ada pak Sentul dan istrinya didepan tuan," seorang asisten memberi tahu.
"Suruh dia masu langsung ke kamar ini, tapi sebelumnya suruh mereka cuci tangan, dan muka mereka dengan sabun. Aku tidak mau mereka membawa virus dari luar yang akan membahayakan anakku" titah suamiku yang mendadak posesif.
"Kakak ini lebay,"ujarku.
Namun ibu justru membenarkan apa yang dilakukan oleh kak Anggara, menurut ibu orang yang datang dari luar terkadang kena udara kotor, debu yang mengandung virus atau bahkan terkadang ada mahluk harus yang ikut sehingga bisa mengganggu bayi yang masih sensitif.
"Kamu juga Anggara, Kalau baru datang dari bepergian, bekerja atau kemanapun. Setiap pulang kerumah langsung saja kekamar mandi cuci tangan cuci kaki pakai sabun. Baru kamu masuk kamar, untuk mencium dan menimang anakmu.
__ADS_1
Aku baru tahu ternyata punya anak seribet ini.
"Selamat ya pak ternyata sudah jadi papa"
Pak Sentul masuk sedangkan Tuti istrinya mengikuti dibelakangnya. Wanita berkulit putih dengan body yang berisi dan besar dibeberapa bagian tubuhnya tersenyum kearah kami. Kami semua saling berkenalan ayah, ibu, pak Sentul dan istrinya duduk di sofa yang ada dikamar ini. Sedangkan aku duduk diranjang sambil memangku Adam.
"Apa kabar ibu Tuti, bagaimana sekarang apa akan tetap melanjutkan berumah tangga sama pak Sentul, saya ini sudah mendengar semua cerita ibu, karena pak Sentul dan saya sudah seperti keluarga, jadi ya kami sering bertukar cerita dan saling meminta pendapat jika ada masalah dalam keluarga. Jadi ibu tidak perlu sungkan sama saya, " ujar kak Anggara menyapa bu Tuti yang terlihat sungkan.
"Iya bu Tuti, bu Tuti kalau punya unek-unek apa saja cerita saja sama saya, anggap saja saya ini saudara. Kalau saya pribadi sih bu, saya sangat mendukung apa yang sudah bu Tuti lakukan. Sebagai seorang istri sekaligus ibu dari anak dua itu tidak gampang, setiap hari ngurus rumah tangga, ngurus anak, ngurus suami, biiiyuuh.... capeenya luar biasa. Ditambah lagi sisuami asik mikirin wanita lain. Tiap hari yg ngurusi istri, mau apa-apa istri, tiap malam yang nemani tidur istri. Giliran cinta diberikan keorang lain.
Terus terang ya bu, kalau itu terjadi sama saya, saya juga akan cari Mantan-mantan saya untuk diajak balikan. Biar tahu rasa si suami tidak tahu diri, " ujar ibuku yang langsung dipotong ucapannya oleh ayah.
"Ibu, kita ini sudah tua, berfikirlah yang bijaksana, biar jadi contoh yang baik buat mereka yang masih muda," ayah menegur ibu membuat muka ibu menjadi masam seketika itu juga.
"Jangan didengarkan ucapan istri saya ya bu Tuti, dia itu memang sering terbawa perasaan, tidak suka kalau ada kaumnya yang diperlakukan tidak semena-mena.
Tapi perlu bu Titi tahu, istri saya itu tidak pernah selingkuh, dia sangat setia, karena saya pun setia juga. Kalau saya tidak membenarkan perse*lingkuhan yang ibu lakukan. Walau bagaimana pun zina itu dosa besar bu. Tapi saya memaklumi apa yang ibu lakukan.
Mungkin ibu waktu itu dalam kondisi stress, karena bertahun-tahun berjuang untuk mencintai dan mengorbankan waktu dan hidupnya untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun sedikit pun tak ada tempat di hati suami untuk mendapatkan cintanya.
Tapi sekarang Si Sentul kan sudah jatuh cinta sama ibu, maka perbuatan buruk yang pernah ibu lakukan jangan diulang lagi. Sekarang fokus memperbaiki diri untuk menjadi istri dan ibu yang baik, " lanjut ayahku menasehati bu Tuti.
"Iya pak terimakasih sudah diingatkan. kemarin itu saya khilaf pak, mulai sekarang saya tidak ingin mengulangi lagi perbuatan bo*doh saya. Malu rasanya kalau ingat peristiwa itu. Saya sebagai seorang ibu tidak bisa memberi contoh yang baik untuk anak-anak saya. saya ini sangat malu sekali pak, bu kepada mereka, saya takut anak-anak saya meniru perbuatan saya," ujar bu Tuti terisak. Sepertinya wanita itu telah menyadari kalau perbuatannya adalah salah.
******
__ADS_1