Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
55. Meminta Kembali


__ADS_3

Wanita yang sudah puluhan tahun menemaniku berdiri tertegun menatap. kedatanganku, Dia tak bereaksi apapun, tak juga berbasa-basi menyuruhku masuk.


"Assalamualaikum, Bagaimana kabarmu Tuti, apa kamu baik-baik saja"


Tuti sepertinya terkejut melihat sikapku masih ramah setelah apa yang dia lakukan, untuk kasus yang normal memang jarang terjadi, seorang suami masih bersikap baik-baik saja saat mengetahui istrinya telah berselingkuh.


Tapi berbeda dengan yang telah terjadi dalam rumah tanggaku. Istriku berselingkuh karena memang salahku telah menyia-nyiakan keberadaannya. Aku berniat memaafkan dan membawanya kembali kerumah memulai semuanya dari nol lagi.


"Seperti yang mas lihat aku baik-baik saja. Mau apa mas kasini setelah mas Sentul mengetahui semua penghianatan yang telah aku lakukan. Sekarang aku sudah siap menerima apapun keputusan mas Sentul," ujar Tuti istriku dan langsung duduk dikursi yang ada diteras kontrakannya tanpa menyuruhku duduk, apalagi menyuguhkan secangkir kopi susu kesukaanku.


Aku segera mendekat dan duduk dikursi sebelahnya lalu menggenggam tangannya, namun dia berusaha menepaskannya, tapi aku terus mengggenggamnya lebih erat hingga dia pun pasrah membiarkan saja tangannya dalam genggamanku.


"Kamu ini apa-apaan sih, suami baru datang bukannya cium tangan disambut dengan senyum, kok malah sewot begitu, kamu tahu aku sudah memutuskan untuk mengajakmu pulang kerumah, aku dan anak-anak rindu padamu. Memang kamu engga kasian sama Tiana dan Tiano, tadi seharian mereka makan gado-gado, kamu kan tau aku bekerja, mana sempat memasak buat mereka," jawabku.


Setetes air bening mengalir dari sudut mata Tuti, sepertinya dia sedang mengingat nasib anak-anaknya.


"Maaf mas aku tidak bisa pulang karena aku sudah janji mau menikah dengan mas Tirta mantan pacarku yang sekarang sudah resmi jadi seling*kuhanku. Untuk apa kita hidup bersama kalau hatimu kamu berikan pada wanita lain.

__ADS_1


Sudah cukup kesabaranku menunggumu, menanti cinta yang tulus dari hatimu. Aku ini juga manusia biasa mas, ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, disayangi. Disaat ada seseorang yang dengan tulus mencintaiku apa adanya, masa aku harus menyia-nyiakanya.


Aku mohon pengertian mas untuk kita berpisah. Beri kesempatan aku untuk bahagia dengan lelaki yang mencintaiku dan akupun mencintainya disisa usiaku mas, " Tuti terisak, sepertinya dia berat untuk mengucapkan itu. Namun demi seseorang yang mencintainya dia harus katakan itu.


Pedih rasanya hati ini mendengar pengakuannya. Sepertinya tak ada lagi kesempatan untukku. Ada rasa hangat dipelupuk mataku, hingga butiran kristal bening pun jatuh juga bersamaan dengan denyut nyeri diulu hatiku yang kian terasa.


"Apa kamu sudah tidak ingin memberikan aku kesempatan lagi. Apa tidak ada sisa cintamu untukku, aku mohon tinggalkan lelaki itu dan kembalilah padaku dan anak-anak. Aku janji akan mencintaimu setulus hati, kamu tahu enggak saat ini tidak ada wanita manapun yang mengisi hatiku kecuali kamu. Aku sangat mencintaimu Tuti, kembalilah kepadaku, aku mohon," hampir saja aku tak sanggup meneruskan ucapanku. Aku kecup punggung tangan Tuti dengan takzim agar dia merasakan cinta yang ada dalam hatiku untuknya.


"Mas Sentul-mas Sentul, kemana saja kamu selama ini mas, kamu sibuk memikirkan wanita lain, dan mengejar cintanya saat aku dengan setia memberikan seluruh hati dan cintaku, menunggu dengan sabar setiap waktu dan setiap saat.


Kenapa disaat aku telah lelah menunggu dan telah menyerahkan jiwa dan ragaku kepada lelaki lain. Kamu malah menyatakan cinta, maaf ya mas sudah telat. Aku sudah tidak sanggup mencintaimu yang penuh perjuangan dan pengorbanan tapi sia-sia.


Inikah balasan dari segala luka yang aku torehkan dihati istriku. begitu gampangnya dia meminta cerai. Wanita yang dulu begitu sabar, lemah lembut dan baik hati kini setiap ucapannya bagai sembilu yang terus menyayat-nyayat dinding-dinding hatiku.


"Apa dia begitu hebat Tuti hingga kamu begitu tega meninggalkan kami, aku dan anak-anak demi dia, yang belum jelas akan setia kepadamu. Lebih baik kamu fikirkan matang-matang dulu sebelum memutuskan hal yang sangat penting untuk masa depanmu. Paling tidak fikirkan perasaan anak-anakmu.


Memang aku yang salah, aku gagal move dan terjebak dalam cinta dimasa lalu. Seharusnya aku melawan cinta yang datang tidak pada tempatnya, bukannya terus terbawa hingga aku tidak sadar ada hati yang terabaikan dan terluka akibat perbuatanku.

__ADS_1


Tapi walau begitu aku masih punya kesadaran, dan memikirkan perasaanmu dan anak-anak. Andai tidak mungkin aku sudah lari dan mengejar perempuan itu. Tapi aku tidak melakukannya bukan, walau seberapa tersiksa hatiku, aku tetap berusaha setia pada komitmen kita dihadapan Tuhan dan pak Penghulu. Aku tidak mau menghianati janjiku pada Tuhan, karena aku tidak mau menjadi pencundang yang mempermainkan pernikahan," ujarku putus asa. Aku sudah bingung harus bicara bagaimana lagi agar Tuti mau pulang kerumah.


"Sekarang aku mau pulang, terserah kamu mau ikut atau tidak, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu mempunyai jiwa seorang ibu yang sayang pada anak-anaknya sebaiknya ikutlah pulang. Kamu masih sah istriku, jadi sebaiknya kita tinggal satu atap dulu demi menjaga perasaan anak-anak"


Akhirnya aku menemukan kalimat yang tepat untuk membawanya pulang kerumah, semoga saja dia mau ikut denganku. Kasian anak-anak pasti rindu pada ibunya.


Kulihat Titi merenung dan memicik kepalanya, sepertinya dia sedang berfikir keras.


"Baiklah...aku ikut mas Sentul pulang, tunggu dulu ya aku berkemas dan pamit pada pemilik kontrakan dulu," ujar Tuti sambil beranjak masuk kedalam kontrakannya. Sambil menunggu aku menghubungi pak Anggara untuk menceritakan apa yang terjadi disini.


Pak Anggara merasa sangat bersyukur dengan kabar yang aku ceritakan. Dia menyarankan agar aku menemui selingkuhan istriku. Alamat dan nomor hand phonenya sudah dia dapatkan dari anak buahnya. Lalu pak Anggara mengirimkannya kepadaku.


Bertepatan aku selesai menelepon pak Anggara, Tuti keluar membawa dua buah koper, dia meletakkan koper-koper itu teras kontrakannya dan ijin padaku untuk pamit pada pemilik kontrakan.


Aku langsung mengangkat kedua koper itu kedalam bagasi mobilku. Setelah Tuti berjalan mendekati mobilku, dengan sigap aku membukakan pintu mobil dan mempersilakan untuk masuk. Kemudian aku berlari kecil mengelilingi mobil dan membuka pintu mobil disamping kursi kemudi. Sebelum menjalankan mobilku aku membantu Tuti untuk memakaikan safety belt. Tentu saja wanitaku ini terlihat heran menyaksikan tingkahku yang mendadak romantis.


Dengan perlahan aku melajukan mobilku, seakan enggan melewatkan momen indah ini. Setelah sekitar setengah jam, kamipun sampai dirumah.

__ADS_1


Saat kami pulang, aku merasa heran karena pintu ruang tamu dalam posisi terbuka. Aku menajamkan pandanganku untuk melihat kedalam lewat jendela kaca rumahku. Sepertinya ada seorang laki-laki dengan tubuh atletis sedang berbincang dengan kedua anakku.


******


__ADS_2