
Terlihat sekali raut wajah kesal Leha. Namun tak sedikitmu suamiku memandang kearahnya.
"Ya ampun mas Anggara jadi laki-laki sombong sekali, mas Anggara tidak takut kalau kualat sama saya dan ujung-ujungnya malah tergila-gila sama saya. Kamu juga mba Elena, sepertinya kamu senang ya melihat mas Anggara tidak peduli kepadaku, dasar wanita pelit, tidak mau berbagi suami, serakah kamu mba!
Antara merah, kesal dan ingin tertawa, campur aduk menjadi satu. Aku jadi bingung harus menanggapi seperti apa ucapan Lega.
"Anggara, Elena, kalian kesini bawa bayi, boleh ya aku gendong ini cewe apa cowo?
Leha...ngapain kamu masih disini, cepat siapkan pesanan mereka, kalian Elena keburu lapar dia kan lagi menyusui"
Disaat suasana yang membuat aku bingung, tante Watiyem datang menyambut kedatangan kami. Dia mendekati kak Anggara lalu menggendong bayi kami.
"Dia laki-laki tante, namanya Adam Putra Anggara," jawab suamiku singkat.
Tante Watiyem terus menimang Adam dan memujinya, katanya kelak dia akan memiliki wajah setampan papanya. Kalau Anakku setampan pahanya aku bersyukur, tapi semoga sikapnya tidak sedingin dan sesearogan papanya, ucapku dalam hati.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, pesanan kami pun datang. Kami memang hanya memesan makanan satu porsi saja yaitu untukku. Kan Anggara menolak untuk memesan makanan karena memang sebenarnya kami sudah makan.
Padahal tadi jelas-jelas yang memesan makanan aku pada Lega. Tapi dia malah menghidangkan semua makanan tepat dihadapan kak Anggara. Melihat hal itu aku hanya bengong saja, tanpa ada niat untuk menegur wanita aneh penggila suami orang itu.
"He....tadi yang pesan makanan kan Elena kenapa di taruh disini, ayo pindahin," tegur suamiku yang terlihat kesal.
"Leha kamu itu kerja yang benar dong, kalau Elena yang pesan ya taruh makanannya dimeja Elena, jangan di meja suaminya. Ayo cepat pindahkan! "
__ADS_1
Tante Watiyem memerintah Leha, sementara kedua tangannya masih dengan masih menimang Adam. Setelah memindahkan semua makanan yang ada didepan kak Anggara kehadapanku, wanita seksi berkulit bersih itu pergi kehadapan kami menuju dapur restoran dalam keadaan kesal luar biasa.
Aku mulai melahap seluruh makanan yang ada dihadapanku. Rasa lapar membuat semua makanan terasa sangat nikmat. Selasau makan kan Anggara langsung menuju kasir untuk membayar makanan yang tadi aku makan. Sedangkan aku yang menggendong Adam berjalan menuju mobil setelah kami berdua pamit dengan tante Watiyem tentunya.
Kembali kami meneruskan perjalanan menuju kerumah kedua orangtuaku. Sepanjang jalan suasana terasa hening, kak Anggara serius melihat ponselnya, pak Sentul serius nyetir sedangkan aku terus menyusui Adam yang hampir tertidur.
Kini kami sudah sampai disebuah gerbang rumah kedua orangtuaku. Satpam membukakan gerbang, Pak Sentul langsung memarkirkan mobil tepat di carport rumah orangtuaku, dengan sigap satpam membukan pintu dimana aku dan Adam akan keluar. Akupun langsung bertanya pada satpam tentang kondisi ayah dan ibu, karena rasa penasaranku yang begitu besar.
"Ibu dan bapak sehat-sehat saja mba Elena, tapi mereka dirumah saja, dan jarang ngobrol berdua lagi seperti dulu," ujar satpam.
Mendengar keterangan dari satpam, aku sudah bisa membayangkan apa yang sedang terjadi dirumah ini. Dengan langkah cepat aku langsung menuju pintu yang langsung mengarah keruang tivi. Biasanya ayah atau ibu selalu menghabiskan waktu diruangan itu.
"Assalamualaikum Allaikum"
Sembari mengucapkan salam, aku langsung masuk lewat pintu samping yang memang jarang dikunci sejak dulu kalau orangnya ada dirumah. Suamiku mengekor dibelakangnya dengan membawa perlengkapan kami untuk menginap. Sementara pak Sentul kembali kekantor karena masih ada yang harus dikerjakan.
Terdengar suara ayah yang tanpa semangat menjawab salamku. Aku melangkah perlahan dan sambil menyorotkan pandangan kemuka tivi dimana ayah duduk sendirian ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya. Setelah mengetahui keberadaan ayah, kembali netraku menyapukan pandangan keseluruh ruangan yang masih terjangkau oleh pandanganku. Berharap menemukan ibu disana, namun yang aku cari tak ada disana.
Aku langsung menyalami ayah dan mencium punggung tangannya, begitu juga suamiku.
"Ayah sendirian, ibu lagi dimana ya?"
Ayah sepertinya gugup menjawab pertanyaanku. Ada rasa sedih dan pedih yang ayah rasakan, aku bisa merasakan betapa ayah sedang tidak bahagia saat ini.
__ADS_1
"Ibumu dikamar, ayo kamu tidurkan Adam dikamarmu, kalian dia tidur digendonganmu dari tadi," titah ayah.
Aku langsung mengikuti yang ayah sarankan, sedangkan suamiku malah duduk disamping ayah. Sepertinya kok Anggara ingin mendengar cerita ayah tentang rumah tangganya. Aku berharap ayah hanya bicara yang baik-baik saja. Aku rasanya malu kalau suamiku mengetahui sifat buruk kedua orangtuaku.
Setelah menidurkan Adam disebuah keranjang bayi yang sudah tersedia, aku memanggil salah satu asisten untuk menemani Adam. Sedangkan aku melangkah kearah kamar ibuku, untuk mengetahui keadaannya.
"Assalamualaikum bu"
Sapaku sembari membuka pintu kamar terbuka sedikit. Seperti halnya ayah, ibu juga menjawab sallamku dengan tidak bersemangat. Ternyata ibu sedang asyik bermain game, wanita yang aku cintai duduk bersantai ditepi ranjang.
"Ibu ini bagaimana, ditelponi tidak aktif padahal setiap hari pegangannya hand phone. Ibu tumben tidak menemani ayah dimuka tivi, padahal filmmya bagus-bagus lho," ujarku pada ibu.
Ibu memandangi aku dengan pandangan tidak suka. Aku merasa heran pada wanita yang telah melahirkanku. Kenapa raut wajahnya sinis kepadaku, apa aku telah salah menyapanya.
"Apa kamu kesini mau menyalahkan dan memojokkan ibu seperti ayahmu. Pasti ayahmu sudah mengadu yang macam-macam, menjelekkan ibu padamu. urakan? "
Sekarang aku paham kenapa ibu nampak marah kepadaku, ayahpun tadi kulihat tidak seramah biasanya kepadaku. Bisa jadi apapun mengira ibu telah mengadu dan menjelek-jelekkannya kepadaku. Mungkin itu pula yang menyebabkan mereka tak mau mengangkat teleponku.
"Ibu...ibu jangan berprasangka buruk dulu sebelum tahu kebenarannya. Ayah juga sama seperti ibu, jangankan menghubungi aku atau mengirim pesan singkat. Aku telepon juga ayah tidak mau ngangkat. Tadi pas aku datang ayah juga seperti marah padaku. Bisa jadi ayahpun seperti ibu mengira ibu mengadu dan menjelekkan ibu kepadaku.
Apa sejak seminggu yang lalu, waktu dirumahku, ibu dan ayah masih murahan. Apa ibu tidak meminta maaf pada ayah," ujarku, namun ibu langsung memotong ucapanku.
"Tuh....kan benar, ibu yang salah, ibu yang harus minta maaf, ibu yang harus berbaik-baik pada ayahmu yang ucapannya telah menyakiti hati itu. Kamu mungkin belum tahu bagaimana rasanya saat suaminya yang dilayani tanpa kenal lelah selama puluhan tahun, tiba-tiba berniat mencari wanita lain, karena wanita dimuat sana masih segar dan Seksi," ibuku mulai terisak, bulir-bulir kristal menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
Kamu fikir Elena, wanita mana yang tidak sakit hati, saat suaminya membandingkan sikap ibu yang kasar dengan sifat wanita yang lemah lembut dilarang sana, ternyata semua Laki-laki sama saja, baik dan mendambakan kita saat hidupnya masih susah, tapi kalau sudah merasa kaya sifat buruknya mulai terlihat, banyak menuntut hal-hal yang kita tidak sanggup mengerjakannya," ujar ibu berapi-api.
*****