
"Assalamualaikum"
istriku mengucapkan salam saat berada tepat di depan pintu ruang tamu dimana aku mengekor dibelakangnya. Serentak kedua anakku berlari menghampiri Tuti istriku.
"Ibu... kami senang akhirnya ibu pulang kembali kerumah ini. Entah bagaimana nasib kami kalau ibu meninggalkan rumah ini. Mungkin aku dan kak Tiana akan kelaparan karena tidak ada yang masak, " Sentiano anak bungsuku mengadu pada istriku.
"Iya nak....ibu sayang kalian, ibu selalu kangen dan tidak bisa hidup jauh dari kalian," ujar Tuti terisak. Hatiku rasanya tercabik- cabik menyaksikan pertemuan ibu dan anak yang saling rindu, padahal belum ada dua kali dua puluh empat jam mereka berpisah.
Aku sangat berharap rumah tanggaku kembali utuh agar hati anak-anak tidak terluka. Ternyata apa yang aku alami selama ini berdampak buruk pada kejiwaan putra dan putriku. Andai saja aku terus berjuang mencintai Tuti dan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Watiyem atau paling tidak aku menyimpan perasaanku ini rapat-rapat didasar hatiku yang paling dalam. Agar tidak seorang pun tahu, sehingga tidak berdampak buruk pada rumah tanggaku.
Bodohnya aku malah berterus terang saat Tuti menyatakan cintanya kepadaku. Aku sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Tuti saat itu. Kini aku baru tahu bagaimana sakitnya hati ini saat mengetahui orang yang aku cintai ternyata mencintai orang lain.
"Ayah, ibu kenalkan ini pak Tirta guru Matematika disekolahku. Beliau kesini ingin mencari ibu sebagai wali murid dari kami"
Aku ingat nama selling*kuhan istriku, baru saja disebut oleh Tuti yaitu Tirta, kalau memang benar dia seling*kuhan istriku. Rasanya sulit sekali untuk mendapatkan Tuti kembali mengingat lelaki itu begitu kaya, tampan, gagah dan paripurna.
Pantas saja istriku enggan berpisah dengan Tirta. Rupanya dia lebih unggul dariku dalam segala hal. Kembali aku merasa pesimis, mungkinkah biduk rumah tanggaku akan kembali utuh seperti dulu. Lelaki itu mendekati Tuti dan aku.
"Tuti kamu pulang lagi kerumah ini, ada apa? "
Ternyata benar lelaki bernama Tirta adalah kekasih istriku. Lelaki itu memandangku Sinis tanpa menyapaku sama sekali.
__ADS_1
"Jadi ibu sudah kenal dengan pak Tirta," tanya anakku Sentiano. istriku pun menganggukkan kepalanya.
"Dia pak Tirta, dia sangat baik nak," istriku menjawab pertanyaan Sentiano.
"Mas kenalkan dia mas Tirta calon suamiku, " lanjut istriku berbisik sepertinya dia belum siap hubungannya dengan Tirta diketahui oleh anak-anak.
Dengan berat hati aku menyalami kekasih istriku, kemudian berlalu pergi membawa dua buah koper Tuti dan meletakkannya didalam kamar. Kupandangi wajahku didepan cermin, perih rasanya hati ini melihat kenyataan ini, sepertinya aku tak mungkin menang melawan Tirta dalam merebut hati istriku.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci mukaku supaya terlihat lebih segar, kembali aku berdiri dimuka cermin untuk memarut diri, dan mengembalikan rasa percaya diriku yang sempat hilang.
Kini aku melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Tirta. Ternyata anak-anak sudah masuk ke kamarnya masing-masing, yang ada diruang tamu hanya Tuti dan Tirta yang sedang bicara sambil berpegangan tangan. Sengaja aku diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku bingung mas Tirta, rasanya aku tak tega menghancurkan hati anak-anakku. Mereka pasti akan membenciku jika aku nekat meminta cerai pada suamiku. Lagi pula suamiku sepertinya telah berubah, sekarang dia lebih perhatian padaku, dia juga janji akan berusaha mencintai dan tak lagi mengabaikanku.
Ada sedikit harapan mendengar ucapan istriku, semoga dia sadar dan kembali kepadaku mengarungi biduk rumah tangga yang sudah kita jalani selama puluhan tahun dalam suka maupun duka.
"Berhentilah merasa bersalah Tuti, jangan biarkan dirimu hidup dalam kesia-siaan karena menghabiskan sisa usiamu dengan lelaki yang sama sekali tidak menganggapmu ada. Terus terang aku tidak bisa melihat hidupmu menderita karena menikah dengan supir, harta tak kau dapatkan, apalagi cinta.
Kalau soal anak-anak, itu tinggal bagaimana kita menjelaskannya. Lambat laun seiring dengan bertambah usianya, dia pasti akan mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.
Pokoknya kamu harus yakinkan dirimu. secepatnya mintalah cerai pada suamimu yang tidak berguna itu, sudah pusakanya kecil, tidak memuaskan, kerjaannya memikirkan wanita lain. Apa kamu tidak berfikir saat kalian berhubungan badan yang ada dalam fikirannya adaah wanita lain"
__ADS_1
Kudengar Tirta terus mempengaruhi istriku. Lama-lama aku geram juga melihat lelaki itu. Tapi aku tidak boleh mengikuti emosiku. Aku harus bersikap baik dan bijaksana untuk mengambil hati istriku.
"Beri kesempatan aku untuk memikirkan kembali agar keputusan yang aku ambil tidak akan membuat aku menyesal dikemudian hari. Sekarang mas Tirta pulanglah dulu, tidak enak kalau terlalu lama kita berdua-duaan, soalnya kita kan belum halal," ujar istriku.
akhirnya Tirta pun pamit pulang, aku keluar dan pura-pura mengibas-ngibaskan rambutku yang sempat aku basahi tadi.
"Lho. ...pak Tirta kok buru-buru pulang, padahal saya ingin ngobrol panjang lebar lho sama pak Tirta, biar nambah pengalaman, " ucapku basa-basi agar aku terlihat baik di mata istriku. Tapi sepertinya dia tahu kalau aku tak menyukainya. Akhirnya dia pamit pulang sambil berbisik kepada istriku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak mendengarnya.
Sepeninggal Tirta aku mengajak Tuti kekamar kami dan mengunci pintu. Tuti terlihat ingin protes namun aku tak perduli.
Aku langsung menanggalkan seluruh pakaianku kemudian memeluk Tuti dari belakang.
"Lama kita tidak melakukannya, sekarang aku akan melayanimu dengan sepenuh hati dengan cinta yang aku miliki dan hanya aku berikan untukmu. Mulai hari ini aku akan memberikan kebahagian untukmu. Kita mulai yah"
Sengaja aku mengajak istriku untuk berhubungan badan. Karena sepertinya perseli*kuhan Tirta dan istriku dimulai oleh Tirta yang menggoda wanitaku. Karena kondisi Tuti yang sedang merindukan belaian cinta lelaki akhirnya istrikupun tergoda dan tumbang masuk dalam permainan Tirta.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan agar sedikit demi sedikit istriku tak lagi memikirkan Tirta. Aku harus sesering mungkin mengajaknya berhubungan badan dan memberikan kasih sayang yang tulus sepenuh hati.
Karena saat suami istri sedang berhubungan badan itu artinya dia sedang beribadah dalam pernikahan maka ikatan batin diantara keduanya akan semakin kuat sedangkan hubunganTuti dengan Tirta adalah sebuah hubungan yang haram. Jadi sampai kapanpun yang haram tak mungkin menang melawan yang halal.
Tuti berusaha menolak namun aku terus bergerak membelainya dengan sangat lembut. Bibirkupun terus memujanya dengan rayuan-rayuan yang menyentuh hati. Lama kelamaan Tutipun pasrah menerima percikan-percikan cinta yang aku siramkan keseluruh tubunnya.
__ADS_1
"Mas Sentul, kenapa kamu hari ini begitu berbeda, benarkan kamu sekarang mencintaiku, apa hanya ada aku dan Anak-anak dihatimu sekarang mas, " ucap Tuti dengan suara serak menahan hasratnya.
*****