Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
59. Keterlaluan


__ADS_3

"Pak Anggara kenapa begitu bingung, sabar pak orang melahirkan memang seperti itu, katanya sakitnya luar biasa bahkan katanya bagaikan diantara hidup dan mati. Bapak tidak perlu khawatir, kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja, bu Elena bisa melahirkan dengan lancar, ibu dan bayinya sehat," ucapku berusaha menenangkan lelaki yang baru pertama kali akan menyaksikan istrinya akan melahirkan.


Aku juga dulu seperti itu. Padahal aku sama sekali tidak mencintai Tuti, namun saat Tuti melahirkan, aku juga sangat panik. Aku takut terjadi sesuatu dengan Tuti dan juga anakku, apalagi jika Tuti yang tidak selamat, seumur hidupku mungkin aku akan selalu dihantui rasa bersalah.


"Itu aku tahu pak Sentul, mamaku juga pernah bilang kalau melahirkan itu sakitnya luar biasa. Tapi yang aku khawatirkan bagaimana kalau Elena melahirkan dengan cara normal, aku takut sekali hal itu terjadi pak Sentul.


"lho itu justru bagus pak Anggara, banyak para wanita ingin melahirkan dengan cara normal, katanya agar tampak seperti perempuan yang sempurna. Banyak juga para suami yang ingin istrinya melahirkan norma agar biaya rumah sakitnya tidak terlalu Mahal.


Tapi pak Anggara ini kok aneh, istrinya kemungkinan melahirkan normal malah bingung, alasannya apa pak? saya kok jadi tidak mengerti," jawabku sangat penasaran.


"Ini bukan soal biaya pak Sentul, kalau biaya sih tidak masalah buat aku, kamu tentu tahu bukan?


Coba kamu ingat, kepala bayi itu diameternya berapa, tentu kamu bisa bayangkan bukan?


Sedangkan miliknya perempuan kamu juga tahu perkiraan diameternya berapa. Kalau kepala bayi dengan diameter segitu melewati lubang yang kecil tentunya lubangnya akan membesar setelah melahirkan.


Kalau sudah begitu, bagaimana kita melakukan hubungan badan dan bagaimana dia buang air kecil? kalau lubangnya sudah membesar seperti diameter kepala bayi.


Aku terkejut dengan cara berfikir pak Anggara, bagaimana mungkin seorang lelaki cerdas orang nomor satu dibeberapa perusahaan yang dia pimpin lupa kalau milik wanita itu bentuknya elastis, bisa membesar kemudian mengecil seperti sedia kala setelah dilewati Bayi.


Hal in langsung aku jelaskan pada bosku yang sedang dalam kondisi hilang kewarasannya. Dia lalu menepuk jidatnya merasa konyol dengan pemikirannya.


Tak lama setelah kami menunggu, keluarlah perawat yang tadi ikut menangani ibu Elena.


"Kandungan bu Elena sudah mendekati pembukaan penuh, siapa yang akan menemani dia melahirkan, " tanya perawat tadi.

__ADS_1


"Ayo pak Anggara ditemani istrinya, ini adalah momen paling penting dalam perjalanan hidup pak Anggara, jangan sampai terlewatkan pak, " ucapku memberi pengertian pada bosku sekaligus menyemangati dia, karena ini adalah pengalaman pertamanya.


"Ayo Nina temani aku, rasanya aku tidak sanggup kalau harus menemani Elena sendirian, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," pak Anggara mengajak Nina. Namun Nina dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya tanda penolakan.


"Maaf sekali Anggara, aku takut darah, nanti kalau sampai pingsan malah merepotkan," tolak Nina.


"Kalau begitu sama kamu saja Jhon, kamu tidak mungkin takut darah kan, ayo cepat temani aku," Anggara langsung menarik Jhon menuju ruang bersalin. Namun John juga menolaknya.


"Rasanya tidak pantas bos, kalau aku ikut bos menemani istri bos melahirkan. Sebaiknya bos Anggara saja sendirian, bu Elena pasti ingin hanya suaminya saja yang menemaninya sebagai sumber semangat bos, bos ini bagaimana, waktu buatnya semangat empat lima, sekarang tinggal ngeluarin malah hilang semangatnya," ujar Jhon juga memberi Anggara pengertian.


"Ayoolah... Jhon, temani aku," Anggara merengek seperti anak kecil minta ditemani.


  Sepertinya lelaki itu kembali kehilangan kewarasannya.


"Kamu ini keterlaluan sekali Anggara, maunya enaknya saja. Waktu bikin maunya cuma berdua, eh setelah jadi tinggal ngeluarin aja minta ditemani. Apa kamu rela melihat aurat istrimu dilihat oleh laki-laki lain, dan nantinya akan selalu dia ingat, dan dia membayangkan tubuh istrimu saat bermain solo dikamarnya"


"Ya...terus bagaimana bu, aku takut sekali. Lihat tangan, kaki dan seluruh tubuhku gemetaran. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sangaaat bingung," keluh Anggara pada ibu mertuanya.


"Ayo sama ibu saja, kita akan temani Elena berdua," Ajak bu Dinda seraya memegang pergelangan tangan Anggara dan menariknya menuju ruang bersalin.


Aku terus memperhatikan tingkah bosku yang terlihat lucu. Ternyata secerdas dan sehebat apapun seseorang tetap ada saja saatnya dia memperlihatkan sisi lemahnya.


Sekitar kurang lebih lima belas menit kami menunggu terdengarlah suara tangis bayi.


"Itu bayinya sudah lahir, aku jadi ingat waktu melahirkan Rena dulu, setelah bayi lahir rasanya ploong!!! bahagianya luar biasa," bisik Nina pada Jhon kekasihnya namun masih terdengar olehku.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu ruang bersalin terbuka. Aku kaget saat melihat bu Dinda menarik kaki pak Anggara yang terbaring pingsan dilantai ruangan dan dibantu oleh beberapa perawat.


"Pak Sentul, Jhon dan yang lainnya tolong Angkat Anggara dia pingsan, bawa dia keempat yang nyaman. Aduuuh.... merepotkan sekali menantuku ini," celoteh bu Dinda.


Kami bertiga segera berlari menghampiri pak Anggara yang terbaring dilantai dan langsung mengangkatnya lalu membawanya menuju ruang tunggu yang kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini. Setelah djolesi minyak kayu putih oleh Jhon akhirnya pak Anggara pun sadar.


"Pak...apa yang terjadi pak, kenapa bapak disuruh menguatkan bu Elena saat melahirkan, malah bapaknya yang tidak kuat," selorohku.


"Aku tidak tahan saat melihat bayiku keluar dari jalan lahir dengan berlumuran darah. Aku takut sekali kalau terjadi sesuatu pada anak dan iatriku"


Aku menahan tawaku melihat kekonyolan yang dilakukan oleh bosku. Kulihat Jhon dan Nina juga menahan senyum, Jhon terus memijat-mijat bahu pak Anggara dan sesekali mengoleskan minyak kayu putih yang dibawa oleh Nina.


"Pak Anggara tidak perlu khawatir, bayi yang baru lahir memang seperti itu," ujarku menjelaskan.


Setelah dirasa cukup kuat, pak Anggara kami bawa keruang rawat inap yang sudah disediakan.


"Pak saya pamit pulang ya, mobilnya saya tinggal atau saya bawa, kalau bapak perlu apa-apa tinggal telepon saya," tanyaku pada bosku.


"Sebaiknya ditinggal saja, kamu pulang kerumahku naik taksi saja, tadi kamu bawa motorkan. Jadi kalau saya perlu apa-apa biar saya nyetir sendiri. Sekarang yang terpenting kita urus keluarga kecil kita masing - masing.


Aku akan mengurus istri dan bayiku. Sedangkan kamu fokus memanjakan istrimu, agar dia tahu kamu sudah mencintainya. Pertahanan pernikahanmu, kasian anak-anakmu yang akan menjadi korbannya jika kalian bercerai.


Bapak harus jalankan yang saya ajarkan, layani dia sebaik-baiknya ditempat tidur, buat dia puas. sehingga dia lupa pada selingku*hannya.


Kalau mengenai Tirta, sebaiknya lakukan. tarik ulur seolah kamu sedang mengurus perceraian.

__ADS_1


"Masa istri melahirkan di suruh mendampingi malah pingsan, lelaki macam apa kamu ini Anggara," Seseorang yang baru datang menepuk bahu pak Anggara.


*******


__ADS_2