
"Oh jadi seperti itu kejadiannya. Sekarang bapak tenangkan diri, atau bapak istirahat saja dulu. Nanti siang kita ketemuan dikantor, kita bicara bersama untuk mencari solusi dari masalah bapak, sekarang kirim foto istri bapak, biar orang saya yang akan mencari dia"
Kak Anggara menyudahi sambungan teleponnya dengan pak Sentul yang sekarang jadi supir pribadinya. Dia mengambil handuk dan memandang kearahku.
"Masih mau lanjut di kamar mandi," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku langsung mengangkat bahu dan kembali menarik selimut, ingin istirahat beberapa saat lagi. Lama tidak melakukan aktivitas ranjang, rasanya tenaga benar-benar terkuras atau mungkin karena pengaruh hamil jadi cepat lelah.
Setelah selesai mandi suamiku langsung pamit menuju keruang kerja, ternyata dirumah orang tuaku kak Anggara juga mempunyai ruang kerja khusus tepat disebelah kamar kami dan masih terhubung dengan kamar yang kami tempati. Sekarang lebih baik aku mandi saja. Rencananya hari ini aku ingin membuat masakan buat kak Anggara.
Setelah mandi dan salat subuh aku keluar kamar menuju dapur dilantai satu. Saat akan memasuki area dapur aku berpapasan dengan ibu.
"Kamu sudah mulai dinas Elena, hati-hati ya, jangan terlalu kecapean, bilangin juga sama Anggara, kalian kan sudah lama libur takutnya terlalu bersemangat, dan berpengaruh kurang baik untuk sijabang bayi yang ada di dalam kandunganmu"
Aku merasa tidak mengerti dengan arah bicara ibu, tiba-tiba membahas dinas, bukannya kemarin sore aku sudah bilang kalau aku sudah berhenti total dari pekerjaanku yang dulu. Aku mencoba bertanya pada ibu, apa maksud dari pertanyaannya. Ibu hanya menunjuk rambutku yang basah.
Sontak aku langsung tersipu malu, aneh-aneh saja pertanyaan ibu, apa memang seposesif itu sebagai seorang ibu saat anaknya hamil. Sampai harus mengatur-ngatur tentang aktivitas ranjang anak gadisnya.
Saat sarapan pagi, kami semua kumpul dimeja makan, ibu, ayah, aku dan suami serta Dila dan Devan. Dirumah ini ada beberapa asisten rumah tangga yang bertugas untuk bersih-bersih rumah. Semua pekerjaan dirumah ini dibayar oleh suamiku. Namun untuk memasak dan mengurus keperluan ayah, ibulah yang tetap melakukannya.
"Sengaja ibu tak mengijinkan asisten mengurus keperluan ayah kalian. Karena ibu takut ayah kalian nyaman dengan asisten nanti ibu malah menyesal, lebih baik ibu cape mengurus segala keperluan dan memasak untuk ayah kalian," ujar ibu memaparkan apa yang menjadi pekerjaannya.
"Ayah memang lelaki beruntung, sampai setua ini tetap saja istri ayah masih merasa cemburu dan takut kehilangan ayah. Dia memang dari dulu tergila-gila pada ayah, " ujar ayah memonyongkan bibirnya kearah ibuku.
__ADS_1
Mendengar ucapan ayah yang kelewat percaya diri, ibu mencebik kesal.
"Kalau ayah merasa bangga karena dicemburui ibu, berkebalikan dengan aku, aku justru merasa takut kalau Elena cemburu dan melampiaskan cemburunya dengan cara membuka hatinya untuk lelaki lain.
Maka dari itu ayah, aku takut banget kalau ada wanita yang naksir aku dan mendekatiku. Apalagi kata orang-orang aku kan tampan, banyak wanita yang menyukaiku, Apalagi kekayaan warisan papa dan mama kini telah kembali. Banyak wanita-wanita cantik sok-sok'an sosialita yang mata duitan berusaha mencari perhatianku. Aku bukannya senang seperti lelaki pada umumnya, justru aku merasa ketakutan sendiri," ujar kak Anggara yang membuat semuanya tertawa.
Hari sudah menunjukkan pukul tujuh aku dan suamiku pamit pulang karena kak Anggara harus ke kantor.
Baru jam sepuluh siang, saat aku sedang ngobrol dengan mba Darmi, terdengar suara mobil suamiku dicarport rumah kami.
"Itu sepertinya mobil tuan muda Anggara nyonya, tumben jam segini sudah pulang, apa tuan mau kerja dirumah saja, sambil memandang wajah nyonya, " ucapnya seraya terkekeh.
Setelah siap kami bertiga pun berangkat, mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Saat kami berada didepan restoran tepi sawah. Tiba-tiba mobil langsung berhenti mendadak. Terdengar bunyi letus.
Pak Sentul segera keluar untuk memeriksa ban mobil yang sepertinya meletus.
"Bagaimana pak bannya meletus, aneh ya padahal ban ini baru beberapa bulan dibeli, jangan - jangan pabrik bannya lupa memberi pengawet di dalam adonan bannya," ujar pak Sentul, aku dan kak Anggara saling lirik dan saling menahan senyum. Ada-ada saja omongan pak Sentul, mungkin dia sedang pusing memikirkan tingkah polah istrinya yang kelewat kreatif.
"Ya sudah mungkin kita tidak harus membicarakan masalah bapak dirumah makan dekat kantor, direstoran ini saja ya. kebetulan ini restoran langganan saya. Menunya cocok dengan lidah saya, semoga cocok dengan lidah bapak, tadi saya sudah kirim pesan kepada orang kantor untuk mengantarkan mobil dan supirnya. Jadi khusus hari ini pak Sentul berhenti jadi supir," ujar Anggara terkekeh.
"Saya manut saja sama pak Anggara, saya ini pak, dibantu saja, dipedulikan sama bapak sudah senang sekali, ya sudah mari pak kita masuk.
__ADS_1
Akhirnya kami masuk kedalam restoran Tepi Sawah, terlihat sekali kalau pak Sentul sedang sangat bingung memikirkan istrinya.
Kami duduk dalam satu meja dengan pak Sentul. Tiba-tiba Leha datang menghampiri, wanita dengan tubuh mon*tok yang biasanya digemari oleh para kaum adam, langsung mencolek bahu suamiku.
"Mas.... mas Anggara datang untuk menemuiku kan, apa mas Anggara berubah fikiran. Jadi mas Anggara menerima tawaranku untuk menikah.
Bagaimana kalau kita nikah sirih saja. Nanti kalau mba Elena sudah sadar baru kita nikah resmi dengan ijin mba Elena. Aku yakin kok kalau mba Elena pasti akan merestui pernikahan kita," ujar Leha.
Aku sangat shock mendengar ucapan Leha yang begitu berani. Namun aku hanya diam saja, tidak mau ikut campur dengan pembicaraan mereka dan Agar Leha tidak terkejut kalau aku sudah sadar dan sehat seperti sedia kala.
Mba Elena kan kondisinya seperti itu, paling juga tidak ada harapan lagi untuk sadar, atau andai kata dia sadar, tidak mungkin pulih seutuhnya. Yang jelas dia tidak bisa melayani mas Anggara seperti dahulu. Kalau sudah begitu mau tidak mau dia akan merestui kita, karena kita saling mencintai dan aku pasti akan menggantikan aktivitasnya diatas ranjang.
Mas Anggara harus yakin, walaupun saya ini istri kedua yang selayaknya lebih disayangkan karena lebih muda dan lebih fresh Tapi saya cukup tahu diri, saya tidak akan menguasai mas Anggara seolah mas Anggara suamiku satu-satunya. Saya tidak akan bersikap zolim pada kakak maduku " lanjut Leha.
Kulihat wajah suamiku merah padam, sepertinya dia menahan marah, rahangnya terlihat mengeras, giginya juga gemertuk dan kedua telapak tangannya terlihat mengepal.
"Kamu sudah selesai ngomongnya pelayan, ini pesanan kami, tolong secepatnya hidangkan dimeja ini, tidak pakai lama, jangan lupa peyek udangnya, itu kesukaan Elena istri saya, iyakan sayang," ujar kak Anggara sembari merangkulku.
Tolong kamu panggilkan pemilik restoran, kami ingin bertemu," tambah kak Anggara sangat tegas.
*****
__ADS_1