
"Iya Elen...kami semua minta maaf, karena kami pernah menghina kamu dan suamimu. Tolong maafkan yah, kami menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi lagi," Ujar wanita yang berambut ikal.
"Makanya kalau ada orang yang mengambil keputusan tidak sepaham dengan cara berfikir kalian, kalian harus menghargai, jangan menghina. kaya Elena yang memutuskan menerima lamaran dan menikah dengan Anggara, menurut Elena itu keputusan yang tepat, mengingatkan situasi dan kondisi saat itu dan dengan pertimbangan kalau Anggara sangat mencintai Elena. Dia juga pemuda yang baik.
Apakah keputusan Elena menikah dengan Anggara telah menyakitikan hati kalian, apa Elena merebut suami kalian, tidak bukan?, " ibu yang baru datang langsung menyahut permintaan maaf para ibu-ibu tetanggaku.
Aku mengusap pundak ibu agar ibu tidak melanjutkan ucapannya. Tidak nyaman rasanya melihat raut wajah malu mereka. Lagian mereka sudah menyadari kesalahannya. Jadi untuk apa terus membuatnya semakin merasa bersalah.
Saat acara telah selesai semua tetangga menyalami kami, semua orang bersikap ramah.
"Alhamdulillah Elena akhirnya kamu sehat, ternyata tidak salah kamu memilih suami. Nenek lihat dia begitu sayang sama kamu, walaupun kalau sama orang lain dia begitu jutek dan sombong, tapi dia sayang sama keluarga. Lihat ini, mana ada menantu yang mau membangun rumah mertuanya hingga sebesar dan semegah ini, kalau bukan menantu yang sayang mertuanya, semoga nanti anak kamu juga sebaik papanya ya, " ujar seorang nenek yang tinggal disebelah rumah ibu, beliau mengelus perutku beberapa kali.
"Iya nak, terimakasih kasih doanya, ternyata nenek diam-diam suka memperhatikan Suamiku, " jawabku terkekeh.
Nenek itupun membalas dengan tertawa juga. Dia acapkali memperhatikan suamiku karena wajah gantengnya seperti wajah almarhum suaminya," nenek memberitahuku.
Aku mengantarkan sang nenek sampai keteras dan melewati ruang tamu. Ternyata diruang tamu suamiku sedang ngobrol serius dengan Dahlan tetanggaku yang rumahnya diujung jalan.
Lelaki itu tersenyum ramah saat berpapasan pandang denganku. Aku merasa sikapnya berbeda tidak seperti biasanya. Setahuku Dahlan sangat tidak suka kepadaku, tepatnya setelah aku menjalin hubungan dengan Andrea.
__ADS_1
Rasa tidak suka itu semakin dia nampakkan setelah aku dan kak Anggara menikah. Waktu aku menjalin hubungan dengan Andrea, dia bilang aku wanita matre karena Andrea sering membelikanku barang mewah. Tetapi saat aku menikah dengan kak Anggara dia bilang aku wanita murahan yang seenaknya saja ganti calon suami. Dia juga pernah bilang aku ini wanita bo*doh yang asal saja memilih suami, lelaki miskin, tukang gorengan kok dijadikan suami, mending dia seorang office boy diperusahaan bonafit, katanya.
Waktu itu ada tetanggaku yang lain bilang kalau Dahlan naksir padaku tapi selalu keduluan orang. Aku tidak tahu informasi itu benar atau salah, yang jelas aku tidak peduli. Karena aku hanya fokus pada rumah tanggaku.
"Nenek pulang dulu ya Elena, besok-besok kalau kerumah ibumu jangan lupa mampir kerumah nenek, nenek selalu ada dirumah, tidak pernah kemana-mana. Paling-paling cucu nenek yang sering mengunjungi nenek," ujar nenek tadi yang setelah aku ingat-ingat dia bernama nenek Rabi.
Setelah mengantarkan nenek Rabi aku kembali masuk keruang tamu dan kali ini aku duduk disamping suamiku, ikut gabung dan ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Dahlan dengan suamiku.
"Pak Anggara betul-betul hebat, selalu berhasil mengelola bisnis. Apa keluarga pak Anggara pebisnis turun temurun?"
Aku terus mengamati gerak gerik Dahlan yang sedang bertanya banyak hal kepada suamiku. Terlihat sekali kalau apa yang dia tanyakan hanya sekedar basa-basi untuk mengisi obrolan semata.
"Tapi pak Anggara sungguh luar biasa, dalam waktu singkat pak Anggara sudah mempunyai sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan. Padahal usaha bapak diawali dengan jualan gorengan dimuka rumah mertua ya, sekarang bisa bangun rumah mertua jadi besar begini.
Ini sepertinya lantai bawah untuk ruang tamu, ruang tengah sama dapur saja ya pak, lantai dua dan tiga untuk pak ya, kalau boleh tahu," tanya Dahlan lagi.
"Mungkin itu keberuntungan saya menikah dengan istri saya, Karena setiap istri mempunyai rezeki yang berbeda, mungkin istri saya ini rajin mendoakan saya, sehingga segala usaha saya jadi lancar," jawab suamiku lagi sembari menepuk-nepuk pahaku.
Refleks Dahlan memandang sinis kearah kan Anggara, netranya menyoroti tangan kak Anggara yang ada di atas pahaku, membuatku merasa risih. Aku sempat heran, seingatku dulu Dahlan hanya memanggil nama saja pada suamiku, tapi sekarang ada embel-embel pak. Benar-benar penjilat sejati batinku.
__ADS_1
Kalau rumah ini sengaja asisten saya yang mendesain, lantai bawah untuk ruang tamu, ruang tengah sekaligus ruang keluarga, dapur, ada juga garasi mobil ayah. kalau lantai dua khusus untuk kamar, ada kamar ibu dan ayah, kamar saya dan istri"
Lagi-lagi tangan kak Anggara menepuk-nepuk pahaku, dan kembali mata Dahlan melirik.
Ada kamar Dila, kamar Defan dan beberapa kamar tamu dan kamar untuk cucu nantinya. Kalau lantai paling atas untuk arena olah raga, soalnya ibu suka senam dan bapak suka bermain basket jadi saya buat sesuai hobi beliau saja"
Mendengar penjelasan kak Anggara aku merasa terharu. Dia benar-benar perhatian sekali dengan kedua orang tuaku. Tidak menyangka pernikahanku dengan lelaki yang dulunya bangkrut dan arogan sekarang telah mengangkat derajat orang tua dan keluargaku.
Kulihat Dahlan terperangah mendengar penjelasan suamiku. Mungkin dia juga tidak pernah menyangka, lelaki yang dulu dia hina karena miskin sekarang nasibnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Mereka terus bicara panjang lebar, aku hanya diam menjadi pendengar saja. Sudah dua kali ibuku menyuguhkan minuman untuk dua lelaki itu. Sampai akhirnya aku tahu apa maksud Dahlan berbaik-baik kepada suamiku.
"Begini pak Anggara, saya kan sudah bertahun-tahun bekerja sebagai office boy diperusahaan mebel, disana gajinya cuma UMP. Bagaimana kalau saya melamar diperusahaan bapak, saya ingin gajinya lebih tinggi soalnya kebutuhan saya kan makin besar, apalagi dua buah sepeda motor saya kan masih ngangsur. Bisa langsung diterima ya pak soalnya saya kan juga ingin memanjakan anak dan istri saya. Saya juga ingin sekali membangun rumah yang besar seperti rumah ini, bahkan kalau bisa lebih besar lagi," ujar Dahlan tanpa rasa malu.
Tanpa sepengetahuan Dahlan aku mencebikkan bibirku. Saat aku memandang kearah samping ternyata ibuku juga sedang mendengarkan pembicaraan antara suamiku dan Dahlan. Wajah ibu terlihat geram mendengar permintaan Dahlan dan hal itu malah membuatku tersenyum geli dengan sikap ibu.
"Kalau lowongan untuk office boy kebetulan sedang tidak ada. Gaji office boy ditempat saya juga semua UMP pak Dahlan. Memang rata-rata perusahaan sama," jawab kak Anggara.
"Kalau lowongan office boy tidak ada, saya dimasukan jadi staf juga mau, yang penting gajinya tinggi, bisa ya pak," Dahlan mulai memaksa.
__ADS_1
*****