
Mendengar penuturanku wajah ibu semakin memerah, bibirnya semakin bergetar dan air matanya terus berderai.
"Apa.... kah ibu masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri Elena...."
Ibu menghapus kembali air matanya, nafasnya terlihat naik turun menahan rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Bibirnya terus bergetar menahan isakan yang sesekali lolos juga dari bibir.
"Ju... jur ibu tidak sanggup rasanya kalau harus berpisah dengan ayahmu, apalagi kalau ada perempuan lain sebagai istri ayahmu selain ibu, rasanya menyakitkan sekali. Membayangkan saja rasanya ibu tidak sanggup Elenaaaa.... huaaaa.....huaaaa...."
Ibu menangis sejadi-jadinya, wanita yang aku cintai ini memelukku sangat Erat. Melihat kondisi ibu sesedih ini rasanya aku tidak tega telah membohonginya. Tapi apa boleh buat, demi berubahnya sifat ibuku supaya lebih baik, terpaksa cara ini aku lakukan. Semoga saja harapan aku dan keluargaku terwujud mempunyai seorang ibu yang lemah lembut, arif dan bijaksana.
"Kalau ibu berniat merubah sikap ibu menjadi tidak bar-bar lagi, menjadi lemah lembut dan perhatian terutama kepada suami bagaimana kalau kita temui ayah diruang tivi bu, sebaiknya ibu minta pada ayah untuk membatalkan keinginannya menikah dengan nenek Rabi dan tetap setia pada ibu"
Kali ini sepertinya ibuku mulai menuruti apapun yang aku ucapan. Kami keluar dari kamar ibu turun kelantai dasar dimana ayah dan suamiku ada disana.
Sampai diruang tamu, ayah sedang duduk disofa sambil menonton bola kegemarannya. Begitupun suamiku, nonton pertandingan sepak bola sambil mengunyah kacang kulit dan ditemani segelas minuman bersoda.
Melihat kedatangan kami ayah dan kak Anggara menoleh kearah kami. Suamiku langsung tersenyum menyapa ibu, sedangkan ayahku langsung berpaling kembali ketika yang datang adalah ibu. Aku tahu ayah sedang berekting pura-pura tidak peduli pada ibu. Ayah justru mengangkat kedua kakinya yang menjuntai kebawah menjadi duduk bersila diatas sofa. Pandangannya terus kearah tivi yang sedang menyiarkan pertandingan bola.
"A... ayaaah"
__ADS_1
Ibu mendekati ayahku duduk bersimpuh diatas lantai tepat dihadapan ayah.
"Ayah apa ayah akan menikahi nenek Rabi, apa ayah sudah tidak mencintai ibu lagi"
Mendengar ibu yang berbicara sambil menunduk dan derai air matanya yang terus membanjiri kedua belah pipinya. ayah menarik nafas panjang dan melirik kearahku dengan pandangan bahagia, tanpa sepengeyahuan ibu tentunya.
"Sebenarnya ayah hanya ingin menikah sekali saja seumur hidup ayah. Ayah ingin hidup bahagia dihari tua bersama ibu yang sangat ayah cintai. Tapi melihat sikap ibu yang begitu tidak terpuji, dan selalu tidak terima bila diingatkan. Jujur... semakin hari hati ayah semakin tersiksa dengan pernikahan ini. Rasa cinta ayah juga terus berkurang setiap kali melihat kelakuan bar-bar ibu.
Bertemu nenek Rabi dan ngobrol dengan dia hati ayah merasakan kedamaian. Ayah bahagia bu didekatnya, apalagi nenek Rabi juga sepertinya sangat mencintai ayah, apa salahnya kalau ayah menerima lamaran nenek Rabi karena ayah fikir, ayah juga perlu bahagia dihari tua, ingin disayangi, dimanjakan dan dilayani dengan lemah lembut penuh kasih dan sayang oleh istri ayah.
Jadi kalau semua yang ayah inginkan tidak ayah dapatkan dari ibu, ya ayah akan menikahi nenek Rabi untuk menemani ayah di hari tua ayah. Terserah ibu mau minta cerai atau dimadu agar ayah tetap bisa memberi nafkah pada ibu. Daripada ibu hidup sendiri tidak ada yang menafkahi," ucap ayahku dengan sangat tenang.
Ibu mohon ayaaaah.... jangan tinggalkan ibu dan jangan ceraikan ibu, ibu tidak sanggup hidup tanpa ayah. Ibu juga tidak mau dimadu. sakiiit...sekali rasanya saat melihat ada perempuan lain yang mendampingi ayah dan menyayangi ayah.
Ibu mohon ayaaah....jangan lakukan itu, ibu berjanji akan terus berubah seperti yang ayah mau. Bener yah... ibu janji"
Ibu terus memohon pada ayah, tanganya terdengar begitu sedih. Ayah melirik kearahku sembari menahan senyum. Aku juga merasa geli dan ingin tertawa melihat apa yang ibuku lakukan.
"Ayah belum bisa seratus persen percaya pada ibu, ayah akan tetap menikahi nenek Rabi, tapi mungkin tidak sekarang. Ayah masih berharap ibu berubah menjadi lebih baik. Kalau ibu berharap ayah membatalkan pernikahan ayah dengan nenek Rabi nantinya, mungkin itu bisa terjadi kalau ibu merubah sikap ibu menjadi lebih baik. Belajarlah menjadi istri yang bisa membuat suaminya bahagia dan bangga memiliki ibu. Pokoknya ayah tidak mau melihat sikap buruk ibu, ayah tidak mau lagi ibu mempermalukan ayah di depan orang, karena ayah seperti kehilangan harga diri ayah.
__ADS_1
Jadi untuk sementara ayah akan sering bertemu dengan nenek Rabi, Jadi kalau ibu ingin tetap menjadi istri ayah satu-satunya. Bersikaplah baik kepadanya, lihat bagaimana dia membahagiakan ayah, belajarlah dari dia bagaimana menyenangkan seorang suami. ibu bisakan?"
Ibu mengangguk dan langsung memeluk ayah. Ibu juga berjanji akan bersikap baik kepada siapapun termasuk nenek Rabi saingannya. Saat ibu berada dalam pelukan ayah. kembali diam-diam ayah mengacungkan jempolnya kearah aku dan kak Anggara yang duduk berdampingan. Secara diam-diam pula kami berdua membalas apa yang ayahku lakukan.
Setelah ayah dan ibu mengurai pelukannya. Ibu melangkah mendekati aku dan kak Anggara.
"Anggara, maafkan ibu ya nak, kalau sikap ibu selama ini telah membuat kamu kesal dan malu dihadapan orang banyak. Mulai sekarang ibu berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong kamu tegur ibu jika ibu salah dalam bersikap.
Elena....maafkan ibu juga ya nak, karena ibu selalu menentang semua nasehatmu. Ibu selalu menyalahkanmu saat kamu mengingatkan ibu. Ibu selalu merasa benar sendiri sehingga semua nasihat orang lain ibu anggap salah. Kamu jangan pernah bosan untuk selalu ingatkan ibu ya nak, agar ibu bisa berubah menjadi lebih baik. Agar ayahmu tidak jadi menikahi nenek Rabi, doakan terus agar ayah dan ibu terus bersama sampai maut memisahkan kami ya nak"
Tak terasa air mataku mengalir deras. Aku sangat terharu dengan ucapan wanita yang telah melahirkan aku. Aku sangat berharap rumah tangga kedua orangtuaku tetap utuh seperti dahulu. Tentu saja tak ada seorang anakpun yang ingin kedua orangtua berpisah.
"Tentu saja Elena terus berdoa untuk keutuhan rumah tangga ayah dan ibu. Elena juga tak ingin ayah menikah lagi, anak yang mana yang tidak akan sedih kalau melihat ibunya tidak bahagia. Anak yang mana yang ingin rumah tangga kedua orangtuanya tercerai berai.
Elena ingin melihat rumah tangga ayah dan ibu bahagia sampai Dila dan Devan mempunyai anak bahkan kalau bisa sampai kami semua mempunyai cucu.
Ayah dengarkan keinginan kami. Ayah harus fikirkan masak-masak sebelum ayah memutuskan menikah dengan nenek tua itu. Ayah harus ingat Devan dan Dila belum menikah. Jangan sampai mereka malu pada mertua dan keluarga pasangan hidup mereka nantinya karena ayahnya mempunyai istri dua atau malah ayah dan ibu bercerai. Itu akan sangat menyakitkan bagi mereka," ujarku pura-pura mengingatkan ayah.
*****
__ADS_1