
Sesaat aku terdiam untuk menyusun kata demi menyangkal bahwa ucapan ibu tidak mutlak benar.
"Ah ibu ini terlalu berlebihan, kalau saran aku sih bu, tapi ini cuma saran ya bukan nyuruh, kalau menurut ibu bagus lakukan dan kalau tidak ya sudah.
Kalau menurutku ucapan ibu dan ayah itu sama-sama menyakitkan. Tapi ibu kan tahu ayah memang dari dulu seperti itu, egois dan maunya menang sendiri. Kalau bicara suka seenaknya, tidak pernah merasa takut kalau ada orang yang sakit hati dengan ucapannya.
Beda sama ibu yang mempunyai kecerdasan diatasi rata-rata. Sudah pastilah kalau bicara selalu hati-hati dan berbobot"
Aku terpaksa menjelekkan. ayah dan mengunggulkan ibu, agar ibu tak terus marah pada ayah.
"Nah sebagai orang yang lebih tahu dan lebih waras, lebih baik ibu temui ayah, ajak bicara baik-baik dan meminta maaf, ya walaupun sebenarnya ibu tidak salah menurutku. Tapi berusaha berbesar hati dan mengaku salah jelas terlihat lebih elegan daripada merasa benar terus dan sok gengsi tapi sebenarnya sangat mengharap berbaikkan kembali, " lanjutku.
ibu berfikir sejenak, matanya memandang kelantai dengan pandangan kosong. Dengan sabar aku menanti reaksi ibu, apakah beliau sependapat denganku.
"Nanti sajalah ibu minta maaf, ibu masih sakit hati dengan ucapan ayahmu. Soalnya ibu harus menyiapkan kata-kata seandainya ayah nantinya semakin menasehati ibu seolah-olah ibulah yang salah.
"Ya sudah ibu fikir-fikir dulu masak-masak. Tapi ingat bu sudah seminggu ibu dan ayah marahan itu artinya sudah seminggu ibu mengabaikan tugas ibu sebagai istri. Jangan sampai hal ini justru membuat ayah semakin terbiasa hidup tanpa ibu disisinya.
Apalagi kalau ayah menginginkan hubungan diranjang, terus ibu masih marah. Ayah juga manusia bu, walau ayah mungkin tak akan berseling*kuh, tapi bagaimana kalau suami ibu yang selalu mesra dan romantis sama ibu, diam-diam bermain solo dengan membayangkan janda-janda cantik yang ada dikomplek kita ini. Apa ibu rela? "
__ADS_1
Aku mencoba memanasi ibu agar dia punya keinginan untuk menyembuhkan masalahnya sama ayah.
"Atau bagaimana kalau kita kedepan saja, di depan ada kak Anggara. Ibu pura-pura menyambut kedatangan menantu kesayangan ibu dan lihat reaksi ayah, kalau dia kelihatan baik, ya ibu minta maaf, kalau tidak ya tidak usah," aku terus memberinya masukan agar dia mempertimbangkan keputusannya. Hingga akhirnya ibu pun setuju untuk keluar kamar dan menemui kak Anggara yang sedang ngobrol sama ayah.
Aku menggandeng tangan ibu untuk turun kelantai bawah dimana ayah dan suamiku ada di sana
"Eh... ibu sehat, lama tidak bertemu ibu, Anggara kangen lho ingin di omelin sama ibu, " ujar suamiku sembari menyongsong kedatangan ibu, cium tangan dan memeluknya. Kak Anggara memang aneh juga, terkadang jutek banget, bicaranya ketus termasuk sama orang tua, tapi dilain waktu dia bisa berubah sikapnyanya menjadi sangat ramah dan hangat pada siapa saja, termasuk pada ibu saat ini. Mendengar celotehan menantu kesayangannya, ibu langsung memukul bahu suamiku dengan gemas sekali.
Ibu baik-baik saja kok, ibu cuma lagi kesal sama seseorang, makanya ibu lebih suka menyendiri dikamar.
Diluar dugaanku dan ibu, ternyata ayah bangkit dari duduknya dia memeluk ibuku. Maafkan ayah bu, ayah tidak bisa menjaga perasaan ibu. Ayah sudah bicara kasar, seharusnya sebagai imam dalam keluarga ini, sebagai kepala rumah tangga juga, ayah bersikap legowo walau mendapatkan ucapan yang tidak baik dan menyakitkan dari bibir ibu.
"Kalau ucapan ibu menurut ayah menyakitkan, apa kabar dengan ucapan ayah yang menyuruh ibu untuk seling*kuh saja karena ayah ingin mencari yang lebih muda dan lebih bahenol, " sahut ibu dengan suara ketus.
Maaf bu, ayah kan waktu itu bicara seperti itu karena terpancing omongan ibu. Kalau saja ibu bersikap baik dan menjaga lisan ibu mungkin ayah tidak mungkin bicara kasar seperti waktu itu," sahut ayah.
Mereka saling berdebat mempertahankan kalau sikap mereka paling benar. Aku memandang ke arah kak Anggara dan memintanya untuk menengahinya, dengan bahasa isyarat tentunya.
Kak Anggara mendekati ayah dan membisikkan sesuatu ditelinga ayah. Ayahku sepertinya mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh suamiku. Setelah itu kak Anggara pergi melangkah meninggalkan kami menuju kedapur dimana disana ada meja makan.
__ADS_1
"Baiklah ayah mengaku salah bu, ayah tidak bisa menjaga lisan ayah. Mungkin karena pengaruh usia jadi mudah marah. Maafkan ayah ya bu kita baikkan lagi, kita sayang-sayangan. Pokoknya kedepannya ayah akan memjadi suami yang baik, yang senantiasa menyenangkan ibu, ya kita baikkan ya bu, ayah minta maaf"
Ayah mencium telapak tangan ibu dan kemudian dia bersujud didepan wanita yang aku sayangi.
"Ya sudah.... sudah....kalau memang ayah maksa minta dimaafkan terpaksa ibu maafkan. Tapi janji jangan pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan ibu. Ibu juga janji akan menjaga lisan ibu agar tidak menyakiti ayah," ujar ibu terisak. Ayah memeluk ibu, kami semua merasa haru melihat kedua orangtua baikkan kembali setelah seminggu lamanya melakukan gencatan senjata.
Aku melirik suamiku dan berbisik, apa kakak yang sudah membujuk ayah untuk meminta maaf pada ibu. Dia menganggukkan kepala. Aku berhasil memberi pengertian pada ayah yang ingin membalas perlakuan ibu dengan cara mendiamkannya agar dia merasa tersiksa.
Aku bilang pada ayah, mendiamkan wanita disaat dia marah bukanlah sikap yang tepat. Karena akan membuat wanita semakin marah dan tidak dihargai keberadaannya. Lebih baik meminta maaf dan mengaku salah, karena itu justru membuat dia merasa tersanjung dan menyadari kalau dia salah. Walaupun pada kenyataannya wanita tak pernah mau mengakui kesalahannya, karena wanita adalah mahkluk yang paling benar. Tapi ya tidak apa-apa, sudah resiko kita sebagai lelaki yang menikahi wanita yang selalu harus mengalah karena kita lebih waras.
Kalau kita tidak mau mengalah pada wanita dan selalu ingin menang ya tidak usah menikahi wanita. Artinya tidak ada pilihan selain mengalah dan meminta maaf, walaupun merasa tidak salah.
Aku mencubit lengan suamiku, ternyata akalnya ada-ada saja agar bisa membuat kedua orangtuaku yang merasa benar bisa membuat ibu mengakui kesalahannya secara tidak langsung.
"Ayo Anggara, Elena kita makan dulu, itu asisten sudah menyediakan menu makan siang untuk kita," ujar ibuku yang dari tadi bicara dengan ayah, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun yang nyata ibu terlihat lebih ceria.
Saat kami sedang akan memulai menyantap makan siang. Seorang asisten datang menghampiri kami. Bu, pak....ada nenek Rabi datang berkunjung," ujar asisten dirumah ibu dan ayah yang dibayar oleh suamiku.
"Suruh saja dia masuk, sekalian ajak kemeja makan kita makan bersama. Karena ini sudah jam makan siang," jawab ayah singkat.
__ADS_1
******