
"Uwalah Jhon-Jhon, apa segitu kebeletnya nikah kamu ini, dari tadi kok nawar terus. Coba kamu hargai ibumu dan ayahmu. Seharusnya kamu membicarakan masalah pernikahan itu didepan ayah dan ibumu. bukan didepan ibumu saja. Ayahmu juga patut kamu hargai, dia berhak ikut dalam musyawarah kapan waktu yang tepat untuk kalian menikah, papa dan mamanya Nina juga harus tahu.
Kamu ini sepertii orang yang tidak tahu aturan saja, minta dinikahkan kaya minta uang saku buat sangu sekolah. Sekarang begini saja, Nina setelah kamu pulang dari sini ajak bicara kedua orangtuamu. Bilang pada beliau kalau kami sebagai orang tua Jhon sudah merestui hubungan kalian dan kami keluarga Jhon bermaksud melamar kamu pada kedua orang tuamu. Kapan orang tuamu punya waktu dan bisa menerima kedatangan kami.
Sedangkan kamu Jhon, setelah pulang nanti ajak duduk bareng ayahmu si Jono itu, bilang pada ayahmu kalau ibu sudah merestui dan ikhlas kalau kamu mau menikah sama kekasih kamu yaitu Nina. Ibu sudah tidak trauma lagi pada orang kaya. Karena setelah ibu fikir-fikir ucapan nak Anggara benar, tidak semua orang kaya itu jahat seperti halnya orang miskin, tidak semuanya juga baik, banyak juga yang jahat. Jadi ibu tidak boleh menyamaratakan. Nanti kamu minta pendapat ayahmu kapan waktu yang baik bagi kamu untuk melamar Nina. Setelah terjadi kesepakatan antara keluarga kita dan keluarga Nina untuk mengadakan lamaran. Barulah kita akan rundingkan antara dua keluarga yaitu keluargamu dan keluarga Nina. kapan waktu yang tepat untuk kalian menikah, Begitu John, jadi ada step bay stepnya yang apa itu artinya, eee.....langkah-langkahnya ya.... langkah-langkahnya, " ujar bu Suminah.
"Mau nikah aja ribet banget sih bu, kedua orangtua sudah merestui tinggal panggil pak penghulu, menikah terus malamnya belah duren, gampangkan! ," ujar Jhon tanpa memandang ke arah ibunya. Sontak kami yang mendengar pun tak dapat menahan tawa melihat kepolosan sang mantan pembunuh bayaran.
Bu Suminah langsung menepuk bahu putranya dengan sekuat tenaga. Hingga Jhon berteriak kesakitan.
"Kamu itu sebaiknya belajar lagi, menikah itu bukan cuma soal bersatunya anumu dan anunya Nina. Tapi soal bersatunya dua keluarga yang berbeda, baik berbeda tradisi, adat, kebiasaan dan juga perbedaan kekayaan sehingga mengarah pada perbedaan gaya hidup. Jadi ya tidak bisa seenak udelmu sendiri Jhon.
Dalam sebuah pernikahan yang bahagia bukan hanya sepasang pengantinnya saja, tapi kebahagiaan itu dirasakan oleh seluruh keluarga. Bagi kami para orang tua, kebahagian terbesar kami adalah saat melihat anak yang kami cintai, yang kami lahirkan dan besarkan, menikah dan bahagia hingga dari mereka lahirlah cucu-cucu penerus generasi kami," ujar bu Suminah panjang lebar.
__ADS_1
"Oh begitu ya bu, sekarang Jhon mengerti. Kalau kamu bagaimana Nina, apa setuju dengan yang ibu utarakan, " Jhon memandang kearah Nina.
"Saya baru tahu kalau aturan menikah ternyata panjang dan njelimet begitu. Tapi saya sependapat dengan ibu. Sekarang saya jadi sadar dengan kesalahan saya pada pernikahan saya yang terdahulu. Dahulu saya hanya memikirkan kebahagiaan saya. Tanpa peduli orang tua saya bahagia apa tidak. Bahkan dalam pernikahan saya ada beberapa orang yang hancur hatinya, seperti Elena yang pacarnya saya rebut. Papa dan mama yang tidak setuju karena menurut mereka calon suami saya bukanlah lelaki yang baik. dan ternyata itu benar akhirnya terbukti.
Terima kasih ya bu atas segala nasihatnya, sekarang saya akan ikuti langkah-langkah yang ibu sebutkan tadi, semoga kelak pernikahan kami sakinah mawaddah dan warrohmah, langgeng sampai kakek nenek" ujar Nina.
Akhirnya Jhon dan Nina setuju dengan keinginan bu Suminah. Karena hari sudah sore mereka pun pamit pulang.
"Terimakasih bos Anggara, berkat bos akhirnya saya jadi kawin sama Nina, kalau bos tidak pernah bertemu ibu saya, entah sampai kapan saya terus menyandang gelar bujang lapuk dan Nina juga entah kapan melepas masa jandanya, " ujar Jhon memeluk suamiku.
"Terimakasih bu atas informasi bu Suminah, karena informasi dari ibu akhirnya saya sadar bahwa langkah saya kembali pada suami dan anak-anak adalah langkah terbaik. Berkat informasi dari ibu saya tahu kebusukan hati Tirta sehingga langkah saya untuk membina rumah tangga kembali dengan mas Sentul semakin mantap. Apa yang pernah saya lakukan dengan Tirta akan saya jadikan pelajaran berharga dikemudian hari dan tidak akan saya ulangi lagi. Semoga hal ini cukup saya saja yang mengalaminya, semoga anak-anak saya selalu terjaga imannya. Sehingga saat apa yang dilakukan pasangannya tidak sesuai dengan keinginannya, dia tidak melampiaskan, mencari kebahagiaan lewat jalan pintas dengan berseling*kuh seperti saya," ujar bu Tuti.
Aku pun mendekati bu Tuti dan Bu Suminah yang sedang berpelukan lalu ikut memeluk mereka berdua seraya mengaminkan sederet doa yang terucap dari mulut bu Tuti.
__ADS_1
"Kami juga mau pamit bu Elena dan pak Anggara. Saya sangat berterimakasih kepada anda berdua karena begitu peduli dengan masalah kami. Kalau suami saya tidak mempunyai bos seperti anda, entah bagaimana nasib rumah tangga kami. Kami sangat beruntung bekerja pada anda pak Anggara"
Setelah kami mengurai pelukan pak Sentul dan bu Tuti juga pamit pulang. Lega rasanya hati kami bisa membantu masalah mereka. Kami merasa senang karena kini rumah tangga pak Sentul dan bu Tuti menjadi lebih bahagia karena adanya rasa saling cinta diantara mereka.
Hubungan Jhon dan Nina yang awalnya sulit mendapatkan restu dari bu Suminah, sekarang bu Suminah juga sudah memberikan restu, berkat nasihat suamiku yang mampu melemahkan kekerasan hati ibunya John.
Waktu terus berlalu, kini sudah seminggu setelah kedatangan Jhon, Nina, bu Suminah dan pak Sentul dengan istrinya, ibu dan ayah tak pernah lagi berkunjung kerumahku. Jangankan berkunjung, menghubungiku lewat pesan singkat juga tidak. Aku sudah menghubungi ibu dan ayah beberapa kali, namun mereka tak mengangkat panggilanku.
Aku mulai khawatir karena seminggu yang lalu. saat mereka meninggalkan rumahku dalam keadaan sama-sama marah. Apa mungkin mereka belum baikan. Karena rasa khawatir yang begitu besar, akhirnya aku bicara. pada suamiku yang nampaknya tenang-tenang saja. Kak Anggara selalu berpendapat kalau ibu dan ayah akan baikan dengan cepat. Karena umur pernikahan yang sudah lama karena diantara mereka telah terikat oleh rasa ketergantungan, baik ketergantungan hubungan sexs, ketergantungan untuk selalu bersama saling melayani dan dilayani sehingga membuat ikatan batin mereka semakin kuat.
Mengingat soal rasa ketergantungan yang timbul setelah memudarnya rasa cinta yang telah dijalin selama empat tahun, membuat dadaku terasa nyeri.
Benarkah diusia pernikahan kami yang ke empat tahun nanti cinta kami berdua yang senantiasa mengikat hati kami juga akan memudar seperti yang pernah aku baca tadi di gogel.
__ADS_1
******