Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
91. Pantang Menyerah


__ADS_3

Walaupun keluarga Edwan telah membatalkan lamaran ini, namun aku tidak boleh menyerah. Aku harus berfikir keras bagaimana menyiasati agar pernikahan ini tetap terjadi.


Edwan... aku mohon, menikahlah denganku. Aku janji akan menerima apapun mahar yang kamu berikan. Demi cintaku padamu aku rela menerima apapun keinginanmu, asal jangan kamu batalkan pernikahan kita yang sudah lama sekali aku impikan, " ujarku sambil melirik kearah Rahmat dan Dayat agar mereka berhenti meminta apapun kepada Edwan dan keluarganya.


Tampaknya mereka pun paham dengan isyarat dariku. Kulihat kemarahan Edwan sudah mulai Reda. Mereka juga nampak berunding. Edwan, Dinda, Elena, pak kades dan istrinya yang terlihat begitu akrab dengan Dinda. Mungkin mereka teman lama. Dulu aku kurang begitu memperhatikan siapa saja teman-teman Dinda. Yang selalu aku perhatikan hanyalah Edwan dan Edwan.


Karena umur yang terpaut begitu jauh, akhirnya aku hanya bisa berderai air mata saat mengetahui Dinda dan Edwan telah menjalin hubungan cinta dan kasih hingga kejenjang pernikahan.


Aku kembali fokus pada pak kades sebagai juru bicara Edwan. Sepertinya beliau akan menyampaikan sesuatu.


"Begini ya bu le Rabi, kalau memang bu le Rabi masih bersikeras ingin menikah dengan pak Edwan, apakah bu le Rabi akan menerima syarat apapun dari pak Edwan, " tanya pak kades kepadaku.


"Tentu...apa pun syaratnya aku akan penuhi, asalkan aku dan Edwan bisa hidup bersama menjadi sepasang suami istri," ucapku lantang tanpa ragu sama sekali.


Bagiku menjadi istri Edwan adalah yang utama, jadi apapun syaratnya pasti akan aku terima. Nanti setelah kami sah menjadi suami istri, barulah aku susun kembali strategi bagaimana supaya bisa menikmati harta lelaki kaya itu.


Selanjutnya Edwan langsung yang bicara untuk memberitahu syarat apa saja yang dia ajukan. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku itu menarik nafas panjang kemudian menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Berdebar hati ini saat kami saling menatap. Ada desiran indah di dalam dada yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ternyata ketampanan Edwan tidak lekang diterpa jaman. Sampai hari ini lelaki itu tetap terlihat tampan dan berwibawa menurutku. Walaupun menurut para wanita kebanyakkan, wajah Edwan selalu dingin dan datar membuat orang enggan untuk menyapa dan dekat dengannya, namun bagiku wajahnya yang dingin dan kaku tampak begitu menggoda dan membuat aku tertentang untuk terus mengejarnya tanpa lelah.

__ADS_1


"Begini ya Rabi, kamu kan yang bersikeras ingin menikah denganku. Kamu tahu kan aku punya istri dan aku tak akan pernah menceraikan istriku. Perlu kamu ketahui Rabi, dulu aku hanya anak desa, mahasiswa miskin yang sering telat bayar SPP.


Setelah menikah dengan Dinda, berangsur-angsur rezeki kami terus meningkat. Semua itu karena doa-doa istriku, karena suport darinya dan anak-anak kami. Kamu tahu Rabi, tidak mudah untuk bisa sampai dititik ini.


Banyak peristiwa suka dan duka, tawa dan air mata mengiringi perjalanan rumah tangga kami. Sekarang kami sudah bisa dibilang sukses dan kamu ingin menjadi istriku yang kedua.


"Aku dengar beberapa kali kamu bilang rela menjadi yang ke dua. Benarkah itu?


Aku langsung mengangguk tanpa ragu sedikitpun.


"Jadi begini Rabi, sebagai suami yang mempunyai istri dua. Aku harus berbuat adil kepada kedua istriku. Setelah aku mempelajari ilmu tentang adil ternyata adil itu tidak harus sama, namun harus diiringi dengan penjelasan mengapa tidak sama.


Begitu juga soal waktu, kalau aku bermalam dengan Dinda kamu tidak boleh iri apalagi mengganggu. Begitu juga pembagian waktunya. Aku akan bermalam bersama Dinda lima hari dalam seminggu yaitu mulai hari senin sampai hari jumat. Sedangkan hari Sabtu dan minggu aku baru bisa bersama kamu. Itulah yang saya maksud adil itu tidak harus sama. Istri kedua tidak boleh iri dan protes karena istri pertama kan harus selalu diutamakan dalam segala hal, namanya juga yang pertama. Itulah versi adil menurutku.


Edwan berhenti bicara sejenak dan menatapku. Kembali lagi hatiku berdebar saat bertemu pandang dengan lelaki tampan yang akan menjadi suamiku itu.


"Oh ya satu hal yang aku tidak suka darimu yaitu kamu terlalu bucin. Perlu kamu tahu aku tidak suka wanita bucin dan bersikap manja ditengah orang banyak. Tolong jangan lakukan itu. Karena aku tidak suka itu. Selain itu, kamu juga harus bisa menjaga hati kakak madumu, beda halnya kalau Dinda yang bermanja kepadaku didepan banyak orang. Itu tak mengapa karena memang sudah menjadi kebiasaannya.

__ADS_1


Perlu kamu ingat kalau orang bucin itu biasanya cintanya tidak tulus, dia hanya merasa takut kehilangan karena dia merasa tidak sanggup untuk menjalani kehidupan seorang diri. Orang bucin juga biasanya bodoh otaknya kurang waras sehingga logikanya tidak aktif, akibatnya dia susah untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Itu alasannya kenapa aku tidak suka dengan sikap bucinmu itu Rabi," ujar Edwan sedikit ketus dan wajah datar yang terlihat menggemaskan.


Tanpa perhitungan dan tak pernah perlu pikir panjang, aku langsung menyetujui semua syarat pernikahan yang diajukan oleh Edwan.


Setelah semua disepakati akhirnya kamipun menentukan tempat pernikahan dan waktunya yaitu sekitar dua minggu lagi dan berlokasi di desa bambu kuning yaitu tepatnya dirumah anakku.


Aku merasa sangat lega, dan melepaskan kepulangan calon suamiku dan keluarga kecilnya dengan penuh bahagia.


"Semoga kita akan menjalani pernikahan poligami ini dengan bahagia ya Dinda. Semoga juga kita dihindarkan dari mara bahaya, " ucapku pada Dinda sambil memeluknya saat mereka pamit pulang.


Dinda hanya mengangguk seraya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. Aku ingin sekali menyalami dan memeluk Edwan, namun melihat wajah datarnya, akupun menghentikan niatku, takut salah nanti malah Edwan membatalkan lagi lamarannya.


"Jadilah madu yang baik, kalau jadi istri kedua itu harus sadar diri. Jangan pernah kamu sakiti kakak madumu. Karena kalau sampai Dinda sakit hati karena ulahmu. Kamu akan berhadapan denganku. Jadilah istri kedua yang sadar diri, karena tanpa istri pertama kamu tidak akan mungkin bisa menjadi istri kedua, ingat itu baik-baik bu le Rabi," ujar bu kades dengan nada sinis. Tampaknya wanita itu tidak rela melihat cinta Dinda pada Edwan di duakan. Namun aku sama sekali tidak peduli. Kalau aku terlalu mempedulikan dia terus siapa yang akan peduli kepadaku kalau bukan diriku sendiri.


"Kamu tidak ngaca dulu, bu le Rabi. lihat itu istrinya Edwan masih cantik dan bohai sekali. Mana mungkin kamu akan sanggup bersaing dengannya.


Apa bu le tidak mikir dulu sebelum memutuskan menikah dengan suami orang. Kalau dua wanita satu suami atau dua cinta dalam satu atap. Isinya itu hanya persaingan, siang bersaing rupa dan malam bersaing rasa.

__ADS_1


Apa bu le sanggup bersaing rasa dengan wanita yang jauh lebih menarik, muda gesit dan pasti dalamnya sempit. Lihat wajah dan kondisi tubuh bu le yang semakin renta, yakiiin masih mampu bersaing sama yang masih muda," ujar pak kades membuat aku semakin tertantang.


******


__ADS_2