Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
93. Pernikahan


__ADS_3

Semua persiapan acara pernikahan ini dibantu oleh warga sekitar mengikuti tradisi yang ada. Suka atau tidak suka, pro maupun kontra yang terjadi diantara warga terhadap pernikahanku ini. Mereka tetap akan membantu kami, karena jika mereka tidak membantu, maka hukum sosial masih berlaku ditempat ini.


Barang siapa tidak ikut gotong royong saat tetangganya mempunyai hazat maka mereka akan dikucilkan oleh warga yang lain. Begitu pula kalau ada warga yang kerjanya malas-malasan dan tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya, warga yang lainnya yang akan menegurnya. Mereka menegur dengan mengatakan kalau mereka juga akan malas-malasan jika suatu saat warga yang malas-malasan punya hazat. Begitu pula kalau ada yang tidak mau hadir karena tidak sedang berhalangan. Warga yang lain juga mengancam akan tidak hadir saat dia punya hazat.,


"Lihat kalau wanita sudah tua di rias, tetap aja keriputnya kelihatan. Orang sudah bau tanah tinggal menunggu malaikat maut menjemput saja kebanyakan tingkah. Pakai menikah. lagi segala, mana jadi istri kedua lagi"


"Yang namanya pelakor ya, biar dirias pakai make up semahal apapun. Tetap saja gurat-gurat dosanya terlihat jelas diwajahnya.


"Beruntung benar ya bule Rabi bisa menikah lagi, mana dapat orang kaya lagi. Hebat betul dia"


Berbagai komentar miring terdengar jelas dibelakangku. Tapi tidak semua orang tidak suka dengan pernikahan ini. Ada juga yang merasa kagum denganku. Diusia yang sudah renta begini aku bisa menikah dan dapat orang tajir melintir.


Terdengar sorak sorai para warga yang meneriakkan kalau pengantin pria telah datang. Rahmat berlari tergopoh-gopoh menuju kearahku, wajahnya terlihat gugup dan nafasnya turun naik. Sepertinya anak sulungku sangat bahagia menyambut pernikahanku. Aku sangat bersyukur karena dia begitu peduli dengan kebahagiaan orang tuanya yang hanya tinggal ibunya. Dialah yang dengan gigih menasihati aku agar jangan putus asa dalam meraih bahagia.


"Bu...bersiaplah! pak Edwan dan keluarganya sedang menuju kesini"


Rahmat langsung meraih tanganku dan menuntunnya seperti seorang ayah yang akan mengantarkan anak gadisnya kepada calon suaminya untuk melangsungkan pernikahan.


Dari jarak yang masih puluhan meter, kulihat Edwan berjalan dengan gagah, dalam balutan baju pengantin. Wajah lelaki itu terlihat datar, dingin dan diam tanpa ekspresi. Sedangkan disampingnya, Dinda sang istri pertama menggandengnya dengan penuh cinta. Wanita itu tersenyum manis kepada setiap orang yang bertemu pandang dengannya. Hal ini menunjukan betapa dia sangat bahagia dengan pernikahan suaminya, berbanding terbalik dengan Edwan yang kini malah tampak murung.


Juru bicara dari pihak kami yang merupakan ketua Rt kami menyambut kedatangan pengantin pria dengan beberapa patah kata sebagai kalimat selamat datang. Mereka semua dipersilakan memasuki halaman rumah kami yang telah dipasang tenda oleh para warga.

__ADS_1


Rombongan terus masuk kehalaman hingga naik keteras dan akan menuju keruang tamu dimana akan dilangsungkan akad nikah. Aku yang berdiri tidak jauh dari ruang tamu dan digandeng oleh anakku Rahmat segera menyalami mereka.


Pertama aku ingin menyalami Edwan, namun wajahnya justru tak memandang kearahku, dia justru memandang kearah lain. Mungkin bagi pasangan pengantin lain, ini terasa menyakitkan. Tapi bagiku ini merupakan hal biasa. Edwan memang sering bersikap begini kepadaku. Sebagai seorang calon istri yang sebentar lagi akan menjadi pendampingnya, aku harus siap dan memahami karakter suamiku.


"Ayah itu pengantin wanitanya mau menyalami ayah, " ujar Dinda memberitahu suaminya seraya memandang kearahku lalu dia tersenyum.


"Belum halal tak perlu salam-salaman, " sahut Edwan dengan tegas dan wajahnya tak sedikit pun memandang kearahku.


"Huuuu.....kasian dicuweeekiiin, "ku dengar beberapa orang berseru dengan suara pelan nyaris tak terdengar.


"Namanya juga nikah paksa"


Seseorang menyahut dengan suara lebih nyaring dari sebelumnya.


"Kira-kira perempuannya tahan nggak yah, takutnya ambruk sekali hendak malah masuk IGD


Semakin kesini suara-suara itu semakin nyaring. Kulihat Dinda menggelengkan kepalanya dan kurasakan tangannya menepuk-nepuk pundakmu, berusaha menenangkan hatiku yang mulai memanas mendengar cibiran beberapa orang.


"Tidak usah didengar," bisik Dinda tepat di depan gendang telingaku.


Kini semuanya telah duduk berkumpul di ruang tamu. Dinda masih setia duduk disamping Edwan dan sesekali dia mengusap bahu suaminya yang terlihat tegang. Semua keluarga kecil Edwan datang dalam pernikahan ini. Elena dan suaminya bersikap ramah kepadaku tidak seperti Dila dan Devan yang enggan menyapaku.

__ADS_1


Sekarang calon dua anak tiriku yang kembar pengantin itu justru duduk dipojokan sehingga tak seorang pun dari warga desa ini yang tahu kalau mereka adalah anak-anak Edwan. Sepertinya mereka berdua juga tidak ingin dikenal sebagai anaknya Edwan, lelaki yang akan menikah denganku sebentar lagi.


Semua saksi telah siap, baik dari pihak Edwan maupun dari pihak kami. Karena orang tuaku telah tiada dan aku juga tak punya saudara atau seseorang yang bisa menjadi wali. Maka yang menikahkan kami adalah wali hakim.


Setelah beberapa kali Edwan melakukan kesalahan dalam mengucapkan kalimat qabul, akhirnya Edwan berhasil juga mengucapkan kalimat qabul dengan suara lantang dan satu kali tarikan nafas.


Semua orang yang hadir di ruangan ini berteriak sah setelah pak penghulu bertanya apakah pernikahan ini sah atau tidak.


Aku merasa sangat lega karena kini aku telah resmi menyandang gelar istri kedua Edwan. Aku kembali menatap wajah Edwan yang saat ini telah resmi menjadi suamiku. Lelaki itu berulang kali menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan sangat perlahan sekali. Berulang kali pula lelaki yang sudah beberapa menit menyandang gelar suamiku itu menyeka wajahnya dengan tisu yang ada di hadapannya. Tampaknya wajahnya terus berkeringat, wajahnya terlihat memerah entah apa yang dia rasakan saat ini.


"Ibu sudah resmi menyandang nyonya Edwan. Ibu harus selalu bahagia ya agar kami semua anak-anak,cucu dan menantu ibu juga bahagia," bisik Rahmat ditelingaku.


Kini Dayat putra keduaku datang menghampiriku. Dia menatapku dengan binar bahagia seraya memelukku.


"Akhirnya pernikahan yang selalu ibu impikan menjadi nyata. Sekarang ibu sudah punya suami, ibu tak lagi kesepian, malam yang indah penuh cinta menantimu bu," gumam Dayat. Dia pun mengajakku menemui pengantin pria setelah mengurai pelukannya. Sedangkan Rahmat hanya mengiringiku dibelakang sambil memegangi pakaian pengantinku yang menjuntai kelantai sepanjang beberapa meter agar tidak terinjak oleh tamu.


"Kasih jalan....ayo kasih jalan pengantinnya mau lewat,"seru beberapa warga sambil bergeser memberiku jalan untuk menuju kearab calon mempelai pria.


Aku langsung menyalami Edwan yang kini sudah menjadi suamiku lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Seperti sebelumnya dia hanya diam tanpa kata, bagaikan boneka manekin dengan pakaian pengantin.


Setelahnya semua menyalami kami berdua, berbagai ucapan selamat mereka lontarkan kepadaku dan suamiku. Semoga saja ucapan mereka tulus dari hati, terutama ucapan semoga bahagia.

__ADS_1


*****


__ADS_2