Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
75. Perbaiki Diri


__ADS_3

Ayah menarik nafas panjang, nampaknya dia mau menceritakan apa yang terjadi diantara ayah dan nenek Rabi.


"Saat itu ayah lewat di depan rumah nenek Rabi, dia meminta ayah untuk mampir. Saat itu ayah sedang benar-benar kalut dan putus asa menghadapi sikap ibumu yang tidak mau menerima pendapat orang lain dan selalu merasa paling benar.


Ingin sekali ayah menelponmu dan mencurahkan isi hati ayah agar terasa lebih nyaman, namun ayah takut kamu banyak fikiran malah berakhir dengan beby blue.


Akhirnya aku bercerita pada nenek Rabi yang memang sangat ingin tahu kondisi rumah tangga ayah dengan ibumu. Ayah merasa nyaman bercerita dengan nenek Rabi karena menganggap nenek Rabi seperti ibunya ayah yang telah meninggal. Tak ada perasaan lain, apalagi perasaan seperti seorang lelaki kepada lawan jenis yang kerap kali terjadi. Ayah yakin itu dan ayah berharap kalian percaya.


Setelah nenek Rabi mengetahui banyak hal tentang masalah rumah tangga ayah dan ibumu. Dia menyarankan ayah untuk menceraikan ibumu. Jujur ayah tidak sependapat dengan pendapatnya. Mulai saat itu ayah merasa telah curhat pada orang yang salah. Bukan ketenangan dan solusi yang ayah dapatkan, justru masalah semakin rumit.


Sikap ibu kalian memang seperti itu, kalian tentu sudah tahu, tapi sedikit pun dihati ayah tidak ada niat untuk menceraikannya. Karena bagi ayah sifat buruk ibumu adalah kegagalan ayah dalam mendidiknya. Jadi ayah mendiamkan ibu bukan tanpa alasan, tapi ayah sedang memberi kesempatan pada ibu untuk introspeksi diri. Agar ibumu menyadari kesalahannya. Tapi yang terjadi, sikap ibu malah semakin parah," ujar ayahku penuh rasa kecewa.


Aku melihat suamiku malah tersenyum, dia berbisik ditelinga ayah, entah apa yang diucapkan suamiku pada ayah mertuanya.


"Kamu benar Anggara, kita bisa menggunakan momen nenek Rabi yang mengejar-ngejar ayah untuk memanasi, seolah ayah akan berpaling dari ibu," ujar ayah.


Seketika itu aku ingat lamaran nenek Rabi untuk ayah yang meminta dijadikan istri kedua ayah atau madu ibuku. Aku lalu menceritakan hal itu pada ayah dan suamiku. kedua lelaki yang selalu aku cintai itu manggut-manggut mendengar ceritaku.


"Sebaiknya sekarang kamu temui ibu Elena, sepertinya dia masih marah," titah ayah.


Aku segera naik kelantai dua setelah bicara dengan ayah dan suamiku. Terlebih dahulu aku masuk kekamarku untuk melihat Adam yang tadi tengah tertidur dengan ditunggui oleh asisten di rumah orangtuaku.

__ADS_1


Ternyata Adam sudah bangun dan sedang bermain dengan asisten dirumah ini yang kebetulan suka pada anak-anak.


"Adamnya tidak menangis kok bu, kalau ibu masih ada keperluan, saya masih suka menjaganya, kebetulan saya juga sedang tidak ada kerjaan," ujar mba Tini.


"Iya mba, saya juga mau nitip lagi sama mba Tini. Kebetulan masih ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu. Tapi saya mau nyusui Adam dulu biar dia tidak rewel," jawabku.


Setelah menyusui Adam dan menitipkannya pada mba Tini, aku segera masuk kekamar ibu. Didalam kamar ibu sedang menangis, aku tahu ibu sedang merasa sakit hati karena kedekatan ayah dan nenek Rabi.


Ibu segera menghapus air matanya dan duduk ditepi ranjang.


"Ngapain kamu kesini Elena apa kamu berada dipihak ayahmu yang membela nenek ganjen itu. Kalau kamu merasa tindakanmu dan ayahmu serta nenek-nenek itu benar dan ibumu yang salah. Silakan tinggalkan kamar ibu," tegas ibu dengan wajah geram.


Aku segera mendekati ibu dan duduk disisinya. Aku usap-usap pundak ibu agar merasa lebih tenang.


Ibu memelukku dan tangisnya pecah dalam pelukanku.


"Ibu takut ayahmu berpaling dari ibu, ibu takut cintanya mulai memudar karena beberapa kali ayah menentang apa yang ibu lakukan. Semarah dan sekesal apapun pada ayah, cinta ibu pada ayah tak pernah berubah, ibu masih tetap mencintai ayahmu seperti dahulu"


Aku tersenyum dalam hati, karena kini aku mempunyai celah untuk memberikan masukan dan nasihat pada ibu. Semoga ibu mulai berfikir untuk mengurangi sikap bar-barnya.


"Tadi nenek Rabi menyampaikan pesan pada ibu dan ayah"

__ADS_1


Aku menceritakan apa yang dipesankan nenek Rabi kepadaku, mengenai keinginannya untuk ikut merawat dan melayani ayah karena nenek Rabi merasa kasian pada ayah. Semua ucapan dan keinginan nenek Rabi aku sampaikan kepada ibu.


Dalam hati aku tertawa melihat reaksi wanita yang paling aku kasihi dalam hidupku. Terlihat sekali kalau ibu sangat marah, tangannya mengepal dan bibir bergetar wajahnya berubah memerah.


"Ku... kurang ajar sekali nenek-nenek itu, apa dirumahnya tidak ada cermin sehingga dia tidak ngaca. Enggak sadar apa kalau dia sudah bau tanah. Kok bisa-bisanya dia menyukai lelaki yang pantas jadi anaknya, suami orang lagi. Apa kamu sudah bicara pada ayahmu tentang keinginan nenek Rabi yang tidak tahu diri Elena," tanya ibu.


Yessss.... aku bersorak dalam hati, semakin terbuka jalanku untuk mempengaruhi ibuku.


"Sudah bu, tapi ayah sepertinya juga tertarik pada nenek-nenek genit itu. Ayah bilang walaupun sudah tua, tapi nenek Rabi lebih mengerti keinginan ayah, sikapnya lebih santun dan tidak bar-bar seperti ibu.


Sebenarnya ayah tidak ingin menghianati ibu, tapi sikap ibu yang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau dinasihati oleh ayah. Membuat rasa cinta ayah pada ibu semakin hari semakin berkurang," aku bicara sembari terisak agar ibu percaya pada apa yang aku katakan.


Kulihat bibir ibu bergetar, air matanya kembali berderai membasahi kedua pipinya yang mulai ada kerutan. Kedua tangan ibu meremas bantal dengan kuat.


"Jadi ayahmu sudah mulai berubah huu...huaaa... terus ayahmu mau menceraikan ibu dan menikahi nenek itu?"


Dengan suara terbata-bata, ibu bertanya tentang rencana ayah selanjutnya.


"Ayah belum memutuskannya bu, ayah masih bimbang. Disatu sisi ayah sudah kehabisan akal dan ingin menyerah mempertahankan ibu, karena sikap ibu yang selalu melawan ayah, ayah merasa tidak dihargai oleh ibu. Ayah merasa telah gagal mendidik ibu, tapi ayah masih ingin mempertahankan ibu andai ibu bisa berubah menjadi lebih baik. Ayah sangat berharap ibu menjadi istri yang baik, istri yang selalu patuh pada suami dan yang jelas tidak bar-bar dan suka melabrak orang sana-sini. Katanya ayah sangat malu punya istri seperti itu bu,


Namun sepertinya kalau ibu tidak bisa dan tidak mau berubah menjadi lebih baik. Ayah akan menerima nenek Rabi menjadi istrinya. Jadi terserah ibu mau dimadu atau mau dicerai. Kalau nenek Rabi sih oke saja walau jadi istri kedua," ujarku

__ADS_1


*****


__ADS_2