Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
45. Mengambil Gunting


__ADS_3

Mendengar luapan kemarahanku, seketika ayah berjalan mendekatiku dan membelai rambutmu.


"Kendalikan perasaanmu nak, jangan biarkan emosi menguasaimu. Apa yang terjadi dihari kemarin, itu merupakan pelajaran bagi kami agar bersabar dan berfikir jernih sebelum mengambil keputusan.


Ayah menyesal dengan keinginan ayah saat itu. Ayahmu sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanmu. Karena saat itu kamu sedang terbaring tak berdaya. Bahkan beberapa dokter meminta ayah dan keluarga untuk menghentikan penggunaan peralatan canggih penunjang kehidupanmu, karena sudah tidak ada harapan lagi, buatmu untuk hidup.


Namun syukurnya Anggara bersikeras menolak karena dia yakin kamu akan sadar dari koma suatu hari nanti. Dari situlah ayah tahu betapa luar biasanya menantu Ayah," ujar ayah menasehatiku.


Aku hanya terdiam mencoba merenung dan meresapi ucapan ayah. Aku menatap suamiku dengan penuh rasa syukur, yang ditatap diam tanpa ekpresi.


Beberapa hari kemudian, kondisiku semakin sehat. Aku sudah bisa berjalan kekamar mandi dan mengurus diriku sendiri. Dokter juga sudah mengijinkanku pulang. Tentu saja aku sangat bahagia, aku sudah rindu dengan suasana rumah.


Pagi ini aku keluar rumah sakit menggunakan kursi roda, Karena Kakiku. belum mampu berjalan agak jauh. Suamiku mendorong kursi roda yang aku duduki, sementara pak Sentul membawa semua barang yang kami gunakan selama dirumah sakit.


"Elena, Anggara....ya ampun kalian sudah mau pulang. Elena kamu sudah sehat....


maaf ya Elena aku beberapa hari tak menjengukmu, karena ada kesibukan. Saat akan menjengukmu ternyata kamu sudah mau pulang. Aku senang sekali kamu sehat Elena"


Aku terkejut saat seorang wanita berparas cantik. Dia yang baru saja keluar dari mobil, langsung berlari memelukku setelah aku dan dia saling pandang sejenak. Aku langsung ingat, wanita itu adalah Nina. Seorang sahabat yang diculik oleh Andrea mantan suaminya pada malam dimana aku mengalami nasib naas.


Tentu saja aku langsung membalas pelukannya karena rindu, beberapa bulan tidak bertemu, Nina terlihat lebih langsing. Aku mengarahkan pandanganku kepada seorang lelaki yang berdiri dibelakang Nina.

__ADS_1


Tentu saja aku langsung mengingatnya dia Adalah Jhon dengan penampilan berbeda. sekarang dia terlihat lebih tampan karismatik dengan pakaian kantoran. Rupanya lelaki itu telah bekerja pada Nina.


"Sebaiknya kita pulang dulu, tidak baik ngobrol diparkiran. Kalau kalian kesini berniat menjenguk Elena, mending kalian ikut kami pulang kerumah. Elena pasti kangen sama kamu Nina. Namun sebelum pulang, kita mampir dulu kekantor polisi. Sudah beberapa hari yang lalu, polisi memanggil Elena untuk dimintai keterangan. Namun aku meminta kepada polisi untuk membawa Elena hari ini, karena kemarin-kemarin kondisinya belum stabil.


Nina setuju ingin ikut bersama kami, dia bilang kangen padaku dan ada banyak hal yang ingin dia ceritakan kepadaku. Nina masuk kedalam mobilku sementara Jhon mengemudi mobil yang mereka bawa dibelakang mengiringi mobil kami.


"Alhamdulillah banget ya Elena akhirnya kamu sadar dan pulih seperti dulu lagi. Beberapa waktu yang lalu ibumu menelponku. Aku takut sekali, karena ibumu sering kali menyalahkanku, hampir setiap kali kami bertemu, ya walaupun setelah memarahiku, ibumu selalu minta maaf dan menyesal katanya. Tapi kan aku tetep trauma.


Waktu itu aku fikir ibumu mau memarahiku seperti biasanya, eh ternyata beliau membawa kabar gembira. katanya kamu sudah sadar dari koma dan kondisimu terus membaik.


Ibu bercerita dengan sangat antusias lho, beliau pasti sangat senang, akhirnya kamu sadar dan mulai saat itu, ibu sering menelepon mengabarkan keadaanmu. Karena ibu tahu aku sedang repot diluar negri untuk mengurus perusahaan," Ujar Nina sambil merangkulku, sesekali dia mengelus pundakku.


Aku hanya menjawab pertanyaan Nina dengan tersenyum sambil terus merenung. Ternyata sikap ibu tidak berubah dan suka seenaknya saja marah sama orang yang menurutnya salah. Untung saja Nina tidak mengambil hati ucapan ibu yang menurutku pasti sangat menyakitkan.


"Maafkan ibu ya Nina, ibu memang seperti itu. Suka bersikap semaunya. Padahal kami sudah berulang kali menasihati agar dia belajar mengontrol emosi. Jangan suka melabrak orang tanpa mengetahui apakah orang tersebut salah atau tidak. Oh ya.... aku tadi melihat Jhon datang sama kamu. Aku senang dia sehat, soalnya pada malam itu kak Anggara menelpon kalau Jhon tertembak dadanya," ucapku pada Nina


Saat Suamiku yang pergi karena ditelpon oleh pak Hamidan papa Nina yang mengabarkan kalau Nina diculik oleh seseorang. Dia langsung pergi menemui pak Hamidan.


Aku menunggu dirumah dengan rasa cemas. Berulang kali aku menelepon suamiku, namun tak juga diangkatnya. Tentu saja hal itu semakin membuat aku cemas dan tak bisa tidur.


Hingga dini hari saat aku terlelap diruang tengah. Suara ponselku membuat aku terkejut dan langsung bangun. Aku yakin yang menelpon adalah kak Anggara suamiku, setelah aku manatap layar ponselku, ternyata dugaanku benar. suamiku menelponku dan mengabarkan kalau Nina dan Rena telah ditemukan dirumah Roky bersama Andrea.

__ADS_1


Tapi Jhon justru terluka parah karena tertembak saat menyelamatkan Rena dan kak Anggara bilang akan terus mendampingi Jhon sampai dirumah sakit, karena Jhon adalah sahabat yang sangat baik kepadanya.


Setelah itu aku memejamkan kembali kedua mataku yang masih sangat mengantuk. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Namun aku dikejutkan oleh suara dobrakkan pintu yang sangat keras.


Baru saja aku mau bergerak, sebuah tangan kekar justru meraba dan memeluk tubuhku. Tangan itu terus merayap bergerak kemana-mana tanpa bisa aku hentikan. Seketika itu aku langsung membuka mata, ingin mengetahui siapa gerangan yang berani masuk kerumah suamiku dan melecehkan aku.


Jantungku hampir saja meloncat, aku sangat terkejut dan shock, saat mengetahui orang yang melecehkanku adalah Andrea, mantan kekasihku dan sekarang sudah menjadi mantan suami sahabat baikku Nina.


"Andrea lepaskan aku, untuk apa kamu masuk kerumahku malam-malam begini dan ingin melecehkanku Andrea. Istigfar Andrea, apa yang kamu lakukan tidak akan membuat hidupmu lebih mudah. kamu justru akan bertambah sengsara karena suamiku pasti akan melaporkanmu kepada polisi karena melecehkanku.


Jadi aku mohon Andrea, jangan berbuat nekat. Mumpung belum terlambat, sebaiknya kamu pergi dari sini," aku terus berontak dengan tangan berusaha meraba mencari gunting yang ada diatas nakas tidak jauh dari kami berada.


Setelah beberapa kali aku gagal, akhirnya aku berhasil meraih gunting dan langsung aku masukan kedalam saku dasterku.


Entah bagaimana caranya, Andrea telah menindih tubuhku dengan tubuh tanpa busana. Dia sedang mengarahkan miliknya kearah pangkal pahaku. kebetulan aku hanya mengenakan daster untuk tidur.


"Sebentar lagi aku akan masuk penjara, namun sebelum itu aku harus bisa menikmati tubuhmu, walaupun bukan untuk yang pertama kali. Tapi yang penting aku bisa tersenyum bahagia saat Anggara murka karena aku telah menyentuh istrinya malam ini, saat dia sibuk mengurus sahabatnya yang terluka parah"


Saat Andrea sedang bicara, tanganku diam-diam mengambil gunting dalam saku bajuku dan dengan cepat aku menggunting ujung ***********.


*****

__ADS_1


__ADS_2