
Sekarang aku merasa punya bukti untuk menuntut Andrea, ucapannya barusan adalah sebuah pengakuan siapa sebenarnya pelaku penganiayaan istriku.
"Terimakasih Andrea, terimakasih banyak atas pengakuan yang telah kamu ucapkan tadi, disini aku sudah merekam semuanya, polisi tentunya tidak bodoh bukan, mereka bisa mengambil kesimpulan atas apa yang sudah kamu ucapkan. Selamat menikmati dinginnya jeruji besi.
Sekarang kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa kamu takkan bisa memuaskan wanita yang menarik perhatianmu. Aku ingatkan kembali sebaiknya kamu sayangilah Rena putrimu, cintailah dia setulus hatimu, karena setelah ini kamu tidak mungkin akan punya anak lagi.
Aku pulang dulu, Elena tentu sedang merindukanku dirumah sakit, tadi dia pesan minta belikan pizza," ucapku berbohong untuk membuat Andrea sakit hati, kemudian aku meninggalkan Andrea yang begitu penasaran dengan ucapanku.
Andrea ingin bangun, namun kondisi tubuhnya tak mampu untuk dia melakukan itu. Apa yang terjadi pada Elena membuat rasa kasianku pada Andrea hilang tanpa sisa.
"Anggara....apakah Elena selamat Anggara, apakah dia dalam kondisi baik-baik saja? " Aku masih mendengar pertanyaan Andrea dengan suara lemah.
Setelah pulang dari kantor polisi aku langsung kembali kerumah sakit. Sepanjang jalan aku terus memikirkan Elena, aku tidak tahu kedepannya seperti apa nasib kami, mungkin aku harus mulai mengencangkan ikat pinggang demi agar mendapatkan pengobatan terbaik bagi istri ku.
Andai saja aku masih mempunyai papa dan mama, mungkin masih ada tempat aku berkeluh kesah. Tapi sebagai laki-laki yang berstatus suami aku harus kuat, bagaimana istriku akan kuat berjuang melawan maut, kalau aku sebagai suaminya lemah.
"Pak.... bagaimana tadi hasil dari kantor polisi, setelah bertemu pak Andrea, apa musibah yang terjadi pada ibu Elena ada kaitannya dengan pak Andrea," pak Sentul supir yang sudah puluhan tahun ikut kerja denganku, memang tak pernah segan bertanya tentang hal-hal yang sifatnya pribadi kepadaku. Bukan maksud dia kepo, dia memang orangnya perhatian dan selalu memberi usul ataupun saran saat dia ada ide. Aku sudah menganggap dia seperti orangtuaku.
__ADS_1
"Dari hasil pembicaraan kami, aku menyimpulkan begitu pak. Aku sudah mempunyai bukti rekaman hasil pembicaraan tadi. Semoga polisi akan secepatnya mengungkap siapa pelaku penganiayaan istriku," ucapku lirih.
"Syukurlah kalau begitu, bapak selalu mendoakan semoga pak Anggara dan bu Elena bisa hidup berdampingan hingga kalian menua bersama. Jujur saja, saya ikut merasa bahagia saat pak Anggara terlihat bahagia bersama istri bapak yaituv ibu Elena. Saya yakin papa dan mama pak Anggara pasti merasa sangat senang melihat bapak sangat bahagia dengan wanita yang sejak dulu bapak cintai
Menjalani pernikahan dengan orang yang kita cintai memang terasa sangat bahagia ya pak. Kadang saya merasa iri kepada pak Anggara dan ibu Elena yang rumah tangganya selalu harmonis, kalian sama-sama romantis.
Tidak seperti rumah tangga saya yang tanpa cinta. Rasanya begitu dingin dan hampa," ujar pak Sentul yang terlihat sedih teringat istrinya yang selalu di rumah saja dan jarang bergaul dengan tetangga.
"Kok bisa pak Sentul menikah tanpa cinta, memang ceritanya Gimana," tanyaku.
Aku jadi penasaran dengan kehidupan pribadi pak Sentul, ingin rasanya aku tahu bagaimana kehidupan mereka agar aku bisa membandingkan dengan perjalanan hidupku mungkin dengan begitu aku akan lebih bersyukur dengan segala ujian yang Tuhan berikan kepadaku.
"Saya ini dijodohkan sama orangtua saya Pak, jadi dulu tuh istri saya akan menikah tapi calon suaminya meninggal sehari sebelum akad nikah. Orang tua istri saya tidak mau acara pernikahan anaknya gagal karena tidak sanggup menanggung malu. Akhirnya beliau mencari calon suami dadakan untuk anak gadisnya.
Saat itu orang tua saya mempunyai hutang pada orangtua istri saya. Lalu mereka meminta saya kepada orang tua saya agar saya mau menikah dengan putrinya yang bernama Tuti. Kalau saya menolak maka, orang tua saya harus segera membayar hutangnya atau mereka akan menyita rumah kami, harta kami satu-satunya.
Akhirnya ya demi bakti saya kepada kedua orangtua saya, saya bersedia menikah dengan Tuti," ujar pak Sentul menceritakan.
__ADS_1
Yang aku tahu anak pak Sentul ada dua dan sudah besar-besar. Masa selama itu pernikahan yang mereka jalani tidak tumbuh rasa saling cinta diantara keduanya. Aku pun menanyakan hal itu pada pak Sentul.
"Tapi bapak kan sudah punya anak dua sama Bu Tuti, berarti pas buat anak, bapak melakukannya tanpa cinta. bagai rasanya tuh pak," tanyaku terkekeh. Jujur aku tidak bisa membayangkan itu semua bisa terjadi. Ku perhatikan wajah pak Sentul, sepertinya dia akan bicara lagi untuk menceritakan kisah hidupnya.
"Ya gimana yah...pak Anggara, fisik istri saya itu terlalu menggoda iman sih. Apa lagi saat Awal-awal menikah dia sudah berulang kali menyatakan kalau dia jatuh hati pada saya. Dia selalu menggoda saya minta disentuh setiap malam.
Hampir setiap malam pula kami selalu melakukan hingga lahirlah anak-anak saya. Tapi sampai saat ini saya belum bisa mencintainya, sebaik dan seberbakti apapun dia pada saya. Hati saya sudah terlanjur diberikan pada teman kuliah saya yang bernama Watiyem,"
Mendengar nama itu, aku jadi ingat tante pemilik restoran Tepi Sawah, tapi mungkin itu hanya namanya saja kebetulan sama.
"Apa tidak terfikirkan andaikan dia pergi meninggalkan bapak suatu hari nanti, apakah bapak tidak akan kehilangan"
Pak Sentul terdiam tampaknya dia sedang memikirkan ucapanku ada rasa sedih dalam gurat wajahnya.
"Kalau menurut saya sih sebaiknya bapak berusaha untuk mencintai istri bapak buang Jauh-jauh perasaan cinta bapak pada wanita yang tidak halal buat bapak. Ingat pak setan akan selalu membisikan kata-kata yang bertujuan agar pasangan suami istri itu berpisah. Setan tidak suka melihat manusia hidup bahagia.
Bisa jadi perasaan cinta yang bapak rasakan pada wanita lain adalah merupakan bisikan setan. jadi jangan pernah bapak hiraukan, lawan terus perasaan cinta itu dan berusahalah mencintai istri bapak yang telah mengorbankan hidupnya untuk kebahagiaan bapak dan Anak-anak," imbuhku.
__ADS_1
Kini mobil kami telah sampai dirumah sakit. Aku langsung menuju keruangan dimana istriku dirawat. Namun tak jauh dari sana, aku melihat ada suara ribut-ribut dua oran wanita sedang baku hantam. Awalnya aku tak perduli karena itu bukan urusanku. Aku terus melangkah menuju ruangan Elena dirawat. bagiku bertemu dengan Elena jauh lebih penting, aku sudah sangat rindu padanya. Namun setelah aku berusaha menajamkan pendengaranku. Aku seperti mengenal suara orang yang sedang bertengkar itu. Setelah ingat siapa yang sedang bertengkar, aku langsung berlari mendekati mereka berusaha untuk melerainya.
*****