Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
65. Dinodai


__ADS_3

Aku langsung meminta kepada pelayan untuk membawa Nina kekamarku. Kebetulan setelah pulang dari rumah sakit, kak Anggara memindahkan kamar kami kelantai bawah agar aku tidak cape naik turun lift dimana kamar kami yang dulu berada. Jadi tidak perlu waktu lama Nina sudah muncul dari balik pintu.


"Hallo Adik bayi, kenalkan ini kaka Rena, adik bayi namanya siapa Ya? "


Nina ternyata datang membawa Rena putri semata wayangnya dengan Andrea. Dia mendekatkan putrinya yang sudah bisa berjalan kepada Adam. Gadis kecil itu terlihat mengemaskan, dia mencium adam dan ingin menggendongnya untuk dibawa pulang.


"Tidak boleh dibawa pulang sayang, ini kan miliknya tante Elena dan om Anggara, jadi tidak boleh dibawa pulang oleh Rena, Rena paham kan maksud mama"


Gadis kecil itu mengangguk tandanya setuju.


"Ama dedenya ciapa tante?"


Dengan suaranya yang masih cadel khas anak kecil Rena bertanya nama putra tercintaku.


"Namanya Adam sayang, Rena ingin punya adek seperti adam tidak? "


Aku bertanya sembari menatap Rena dengan gemas. Rambutnya yang dikuncir dua benar-benar lucu banget.


"Mau banget tante, nanti belikan ya mama dimall, setelah pulang dari sini, " ujar Rena sambil mengulurkan tangannya minta dipangku sama Nina. Aku semakin menahan tawa mendengar permintaan gadis kecil itu. Sedangkan Nina memelototkan matanya kepadaku.


"Iya nak... tapi kalau dedek yang bentuknya seperti itu, tidak bisa langsung dibeli. Kita harus memesan dulu, baru deh dibuatkan sama pengrajinnya. Karena pengrajinnya hanya memproduksi sesuai pesanan saja dan itupun jadinya lama sekali karena harus antri. Tante Elena itu lho mesannya sudah lama tapi baru aja jadinya, Rena harus sabar ya kalau ingin punya dede bayi," jawab Nina sambil menahan senyum.


Janda satu anak itu langsung mencium dan memeluk anak perempuannya.


"Betul apa kata mama kamu sayang. tapi sebelum kamu punya dede sendiri, Rena boleh kok mencium dede Adam. Oh iya Rena tadi tanya namanya dede kan, namanya adalah dede Adam Putra Anggara, " jawabku.

__ADS_1


Saat sedang Asyik bercanda dengan Rena, lagi-lagi seorang suster masuk.


"Nyonya diluar ada tamu namanya pak john dan ibunya, katanya tuan Anggara kalau nyonya tidak repot disuruh keluar. Beby Adam biar saya yang jagain ya nyonya," Ujar pelayan yang langsung mengambil Adam dari pengkuannya kemudian menimang-nimangnya membuat bayi laki-laki itu semakin tertidur pulas.


"Yu Nina, kita temui Jhon dan ibunya, kamu sudah pernah kenal belum sama ibunya Jhon. Kalau kamu belum kenal mungkin ini kesempatan buat kamu mengenalnya," ujarku mengajak Nina menyambut kedatangan kekasih dan calon mertuanya. Namun dari raut wajahnya dia nampak bimbang dan ragu.


"Aku takut Elena, aku sudah pernah ketemu ibunya Jhon saat Jhon masih dirumah sakit. Orangnya Judes banget, emosian, dia sepertinya sangat benci sama orang kaya.


Terkadang aku juga bingung dengan hubunganku dan Jhon, mau diteruskan kayanya sia-sia. Karena terlalu sulit meminta restu ibunya. Mau putus tapi aku dan Rena sudah terlanjur mencintainya.


Jadi ya aku sabar aja, lihat bagaimana takdir akan membawa kami kemana," jawab Nina santai


"Tapi menurutku sih, sebaiknya kamu ikut saja, positif thingking aja. mungkin dulu beliau marah dan judes karena beban kesedihannya melihat anaknya terbaring kritis dirimah sakit. Sedangkan sekarang beda kondisinya.


Setelah aku bujuk-bujuk, akhirnya Nina pun bersedia menemui orang tua dari kekasihnya.


Walau ragu ibunya Anggara, pun menyambut uluran tangan Nina dan yang mencium punggung tangannya.


"Ibu... ibu apa kabar, sehat aja kan bu?"


Nina memeluk ibunya Jhon setelah mencium punggung tangannya. Wanita itu ingin menghindari namun Nina bergerak cepat sehingga dia berhasil memeluk wanita itu. Kulihat Jhon tersenyum melihat kedua wanita yang dicintainya.


"Iya ibu sehat nak, kamu apa kabar?"


Dengan penuh rasa ragu bu Suminah akhirnya menyahut sapaan Nina, wanita itu melirik kearah Rena dan terus memperhatikannya.

__ADS_1


"Apa kabar bu Suminah, masih ingat dengan saya, saya Anggara bu, lelaki yang pernah bertemu ibu dirumah sakit saat Jhon kritis dulu," sapa suamiku pada bu Suminah.


Wanita itu langsung terlihat semringah, tampaknya dia sangat senang disapa oleh suamiku.


"Tentu saja saya selalu ingat dengan bos Anggara. Saya senang sekali diajak Jhon kerumah bos Anggara. Apalagi katanya bos memerlukan informasi dari saya. Suatu kehormatan bagi saya bisa memberikan informasi yang diperlukan oleh anda bos Anggara. Pokoknya anda tanyai saja saya tentang apa saja, kalau saya tahu saya pasti akan menjawab dengan sejujur-jujurnya," ujar bu Suminah sangat antusias, beliau juga memandang kearahku seraya tersenyum, akupun membalas dengan senyuman pula.


Suamiku pun langsung menceritakan tentang masalah yang terjadi dalam rumah tangga pak Sentul, dimana Tirta majikan bu Suminah adalah yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga pak Sentul. Suamiku juga menceritakan bagaimana Tirta meminta pak Sentul untuk segera menceraikan istrinya karena dia akan segera menikahinya. Kalau tidak dia mengancam akan membunuh kedua anak Sentul.


Mendengar cerita suamiku Wanita setengah baya itu langsung memotong.


"Tuan Tirta itu sangat jahat bos, dia itu bengis, sombong dan licik sekali. Sudah banyak istri orang yang diajak berselingkuh, bahkan ada yang sampai hamil dan diceraikan suaminya. Namun setelah diceraikan oleh suaminya, pak Tirta justru mencampakkannya. Bahkan ada wanita yang sampai meninggal bunuh diri akibat depresi," cerita bu Suminah, yang mengisahkan dengan berapi-api.


"Bahkan pak Tirta pernah curhat dengan saya kalau dia menaruh dendam pada bu Tuti dan suaminya. Karena itulah dia berniat menghancurkan rumah tangga bu Tuti dan pak Sentul dengan cara mendekati bu Tuti dan merayunya untuk kemudian berhubungan badan dan berharap hamil, selanjutnya but Tuti akan diperlakukan seperti beberapa wanita yang pernah menjadi rivalnya,


Pokoknya pak Tirta itu jahat sekali pak, saya sudah mengenal keluarga mereka, ayahnya juga sama jahatnya. Saya adalah salah satu korbannya. Dulu saya pernah dinodai oleh papanya Tirta hingga hamil, setelah hamil dia memecatku dan melarangku meminta tanggung jawab padanya.


Sebagai seorang gadis yang hamil akibat diperkosa majikannya, aku merasa benar-benar terpuruk dan putus asa. Sekitika itu masa depanku terasa gelap, aku tidak tahu harus tinggal dimana, pulang ke kampung tidak mungkin, aku tidak tega melihat ibu dan ayahku bersedih menanggung malu akibat aku hamil tanpa suami.


Dalam kondisi kalut dan bingung, aku terus menyeret dua buah koper. Hari sudah gelap, namun aku masih bingung belum punya keputusan akan pergi kemana".


Saat melewati sebuah sungai yang mempunyai arus sangat deras. Aku terfikir untuk mengakhiri hidupku. Kebetulan didekat situ ada sebuah bengkel kendaraan roda dua. Aku segera menemui pemiliknya untuk meminjam sebuah tangga lipat yang kebetulan ada samping bangunan bengkel itu.


Aku segera menaiki tiang listrik yang tinggi dan berniat terjun dari ketinggian. Untuk mengakhiri hidupku dengan cara terjun dari ketinggian. Namun seorang lelaki baik hati menolongku.


*********

__ADS_1


.


__ADS_2