
"Lepaskan saya, biarkan saya memeluknya, dia anakku, dia butuh pelukanku," ujar wanita tadi lagi.
Aku terus mengamati wanita tadi sambil berjalan mendekat. Setelah dekat aku baru bisa mengenalnya, sesuai dugaanku tadi, dia ibunya Jhon. Aku ingat wajahnya dari sebuah foto yang selalu ada di dalam dompetnya Jhon. Perlahan aku mendekatinya dan menyapanya.
"Sabar ya bu, sebaiknya kita doakan saja Agar Jhon segera sadar dan kembali sembuh seperti sedia kala. Sekarang biarkan saja petugas medis yang menanganinya. Kita berdoa saja ya bu"
Aku menyalami lalu memeluk wanita itu yang katanya Jhon bernama Suminah. Aku terus memeluk dan membelai punggungnya untuk menenangkannya. Hingga tak lama kemudian dia mengurai pelukannya.
"Kamu siapa cah ganteng, apa kamu temannya Jhon anak lanangku, " ujar bu Suminah bertanya padaku sambil menghapus air mata yang masih mengalir dipipinya yang penuh kerutan halus.
"Namaku Anggara bu, kenalkan ya namaku Anggara ," ujarku mengulangi ucapanku untuk meyakinkan ibu Suminah.
"Oh, jadi kamu Anggara bosnya Jhon yang sering dia ceritakan itu," sahut bu Suminah lagi. Netranya terus menyapukan pandangannya dari atas kepalaku hingga keujung kakiku.
"Sebenarnya apa yang terjadi bos, ibu kesini dikabari sama polisi. Apa semua ini gara-gara perempuan bernama Nina yang dia taksir itu. Sudah berulang kali ibu bilang tidak usah bermimpi menjadi suami orang kaya. Jadi orang mbok ya sadar diri, dia itu siapa. Kalau Nina mau sama dia, orang tuanya pasti tidak mungkin membiarkan anak nya menikah dengan laki-laki biasa, apalagi pekerjaan Jhon yang tidak bagus. Ibu juga sudah beberapa kali mengingatkan dia untuk meninggalkan pekerjaan itu, ujar bu Suminah sangat sedih"
Nina dan papanya yang mendengar ucapan bu Suminah hanya diam saja dan tak berani menyela.
"Panggil saya Anggara saja, tidak usah pakai bos, cukup Jhon saja yang panggil saya bos, oh ya bu kenalkan dia Nina dan ini papanya dan yang ini Rena anak dari Nina," ujarku mengenalkan Nina dan papanya pada bu Sumilah. Aku sengaja mengenalkan mereka agar bu Suminah tidak terus mengutarakan rasa tidak setujunya pada hubungan NIna dan Jhon dan cara pandang dia dalam menilai orang kaya. Karena aku yakin beliau menilai orang bukan berdasarkan kekayaannya.
__ADS_1
Nina dan bu Sumilah saling pandang, lalu spontan Nina memeluk ibu Suminah dan menangis.
"Maafkan saya bu, gara-gara saya Jhon jadi terluka, dia yang menyelamatkan Rena anak saya, kalau tidak ada dia mungkin Rena masih di sandera oleh papa kandungnya sendiri. Kalau ibu mau marah, marahlah pada saya, pukul saya atau apapun lakukan pada saya yang penting ibu puas bisa melampiaskan sakit hati ibu pada saya, " ujar Nina sambil menangis sesenggukan.
Bu Sumilah mengurai pelukan Nina, wanita itu menatap iba kepada Nina. Namun rasa tidak sukanya kepada orang kaya membuat dia hanya diam dan menganggap ucapan Nina hanya manis dibibir saja.
"Maaf bu Nina, saya sedang tidak ingin marah kepada siapapun. Hanya satu yang saya inginkan saat ini, yaitu kesembuhan Jhon. Setelah itu membawa Jhon keempat yang jauh agar tidak mengganggu kehidupan bu Nina dan keluarganya," ujar bu Suminah dengan nada dingin kemudian pergi menjauh dan duduk disebuah kursi yang ada dipojokan.
Wanita itu terlihat murung dan terus berurai air mata. Tak lama kemudian seorang laki-laki yang seumuran bu Suminah datang menghampiri. Jika dilihat dari tato gambar kucing yang ada dilengan tangan kanannya sepertinya dia adalah ayah Jhon.
Kulihat lelaki itu terus menenangkan John dan memberinya air mineral yang ada di tangannya.
"Anggara...kenapa ibunya Jhon sepertinya tidak menyukaiku. Apa kamu tahu apa sebabnya," tanya Nina padaku.
"Bu Sumilah memang orangnya dingin kepada siapa saja. Apalagi sekarang hatinya pasti sangat shock melihat keadaan Jhon yang sedang kritis. kamu tidak perlu mengambil hati ucapannya. mari kita sama-sama doakan Jhon agar diberikan kelamatan dan bisa berkumpul lagi dengan kita, " ucapku pada Nina.
Karena waktu hampir subuh, aku meminta pak Hamidan dan Nina untuk pulang saja, agar mereka bisa istirahat. semula Nina langsung menolaknya karena tidak ingin meninggalkan Jhon, namun setelah aku jelaskan panjang lebar. Dia perlu istirahat dan makam yang cukup, jangan sampai stress agar asinya tetap lancar. Selain itu kita bisa gantian menjaga Jhon nanti jika kami semua merasa lelah dan ingin istirahat.
Setelah Nina dan papanya pulang. Aku kembali menghubungi Elena istriku. Tadi aku menyuruhnya untuk tidur saja, karena kemungkinan aku pulang besok pagi.
__ADS_1
Setelah dua kali melakukan panggilan, Elen tak menjawabnya, aku pun memasukan kembali ponselku kesaku celanaku. Mungkin istriku sedang tertidur pulas.
Perlahan aku mendekati Bu Suminah dan suaminya lalu duduk tak jauh darilnya. Aku sengaja tak menyapanya karena takut menganggunya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dokter yang menangani Jhon pun keluar. Aku, bu Sumilah dan suaminya yang bernama pak Jono langsung melangkah tergesa-gesa menghampiri dokter.
"Bapak dan ibu ini keluarga pasien yang bernama saudara Jhon," tanya dokter.
"Betul pak dokter, saya ini ibunya Jhon, bagaimana keadaan anak saya pak dokter, apa dia selamat, tolong selamatkan dia jangan biarkan dia mati pak dokter, saya tidak sanggup rasanya kalau harus berpisah dengan dia Huaaa....huaaaa"
Tangis bu Sumilah langsung pecah saat menanyakan keadaan Jhon. Sepertinya wanita paruh bayah itu belum sanggup kalau harus menerima berita buruk tentang anak semata wayangnya. Aku bisa merasakan rasanya takut akan kehilangan orang yang aku cintai.
"Iya bu....alhamdulillah berkat doa ibu dan seluruh orang yang mencintai pasien atas nama Jhon, operasinya berhasil. Namun saudara Jhon masih harus dirawat secara intensif karena luka akibat peluru yang bersarang di dadanya cukup dalam, tapi syukurnya tidak mengenai organ bagian dalam. untuk sementara pasien belum sadar dan masih didalam ruang ICU.
Kalau keluarganya mau menjenguk silakan, tapi mohon patuhi aturan dari pihak rumah sakit," Ujar Dokter yang menangani Jhon dia bernama Dokter Rafli.
Setelah memberitahu kondisi John Dokter Rafli langsung pamit kepada kami untuk menangani pasien yang lain. Sepeninggal Dokter Rafli, tiba-tiba bu Sumilah terisak, dia terlihat sangat sedih. Aku segera mendekati dan berusaha menenangkan bu Sumilah.
"Sabar ya bu, John pasti sembuh, ibu dengar sendiri kan tadi penjelasan Dokter, John hanya butuh dirawat untuk bisa sembuh seperti dulu lagi," ujarku menasihati.
__ADS_1
"Iya bos... eh Anggara, ibu juga dengar tadi. yang ibu fikirkan bagaimana cara ibu mendapatkan uang banyak untuk biaya rumah sakit John dalam waktu singkat," jawab ibu Suminah sembari menangis.
******