
"Bang*saat....sialaan, apa yang kamu lakukan padaku wanita setan. Saaakittt... sakit sekali... aduuuuh.... aduuuh"
Andrea berteriak histeris, tangan yang satu menggenggam *********** yang mengeluarkan darah. Sementara tangan satunya lagi meraih botol minuman yang kebetulan ada didekatnya. Lelaki itu memukulkan botol itu kearah pangkal pahaku dan membuat aku seketika juga menjerit kesakitan.
Andrea terus berdiri dan menarik rambutku, kemudian dia menghempaskan tubuhku, hingga badan ini jatuh terbanting dengan kepala menghantam dinding. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, rupanya aku tak sadarkan diri.
"Elena... Elena... ih kenapa kamu malah bengong. Tadi kamu bertanya tentang Jhon yang sudah sehat, aku jelaskan, eh kamunya malah bengong"
Nina menggoyang-goyang tubuhku hingga aku terkesiap. Rupanya aku baru saja mengingat sederet peristiwa yang telah terjadi saat aku hampir dinodai oleh Andrea hingga aku tak sadarkan diri.
"Oh, ceritakan kabar tentang Jhon, nanti aku juga akan cerita bagaimana petualangan rohku saat aku koma," ujarku.
"Tadi aku kan sudah cerita" dengan perasaan menahan kesal Nina mengulangi kembali menceritakan Jhon. Ternyata menurut cerita Nina, Jhon sekitar tiga bulan dirawat dirumah sakit karena menderita luka tembak. Untung saja tidak ada organ dalam yang terluka.
Selama tiga bulan itu pula, ibu John selalu menyalahkan Nina, karena gara-gara Nina Jhon harus menghabiskan hari-harinya dirumah sakit. Mengonsumsi berbagai macam obat dan berbagai perawatan untuk menyembuhkan lukanya pasca operasi mengeluarkan peluru di dada sebelah kiri, tepatnya dekat dengan ketiak.
Sudah dua bulan ini Jhon bekerja dikantor Nina. Papa Nina memberikan beasiswa kepada Jhon untuk kuliah, agar dia mampu menempati posisi bagus diperusahaan putrinya. Sejak saat Jhon berhasil menyelamatkan cucunya, papa Nina sangat baik kepada Jhon, beliau juga sudah merestui hubungannya dengan Nina.
"Seandainya ibunya Jhon sudah merestui hubungan kami, mungkin saat ini aku dan Jhon sudah menikah dan bahagia. Aku kadang heran sama bu Suminah, segitu takutnya dia berbesan dan mempunyai menantu kami yang menurut beliau orang kaya. Sepertinya beliau mempunyai kenangan buruk atau mungkin trouma berhubungan dengan orang kaya.
__ADS_1
Berbagai cara sudah aku lakukan untuk mendapatkan simpati ibunya Jhon. Namun sepertinya wanita itu kekeh dengan pendiriannya. Padahal pak Jono, ayah Jhon sudah berulang kali menasihati bu Suminah agar segera merestui hubungan kami dan jangan menjadi penghalang kebahagiaan anaknya sendiri," Nina memelukku sembari terisak.
Aku merasa prihatin dengan nasib Nina, Disaat ada lelaki yang begitu tulus mencintainya. Restu orang tua menjadi penghalangnya. Aku sudah seharusnya bersyukur, walau pernikahanku dengan kak Anggara tidak pernah aku impikan. Tapi nyatanya kami hidup bahagia, dia benar-benar lelaki dambaan banyak wanita.
Tapi rasa khawatir mulai menggangguku saat ibuku bercerita, kalau banyak wanita yang menyukai suamiku. Mulai sekarang aku akan menjadi istri yang baik, istri sholeha yang senantiasa taat pada suami. Aku harus terus belajar bagaimana caranya membahagiakan suami, agar suamiku semakin mencintaiku dan tak mudah berpaling kepada wanita lain.
Aku terus menyoroti wajah Nina yang terlihat sangat sedih. Tanpa sadar tanganku mengambil tisu yang ada di belakang jok mobil dan ada di depanku. Kuusap air mata yang terus mengalir di pipi Nina. Beberapa kali ku usap perlahan. pundak Nina agar dia bisa melupakan masalahnya sejenak.
"Kamu tidak harus meratap begitu Nina, tetaplah tegar, toh kamu belum ada satu tahun menjadi janda. Masih banyak waktu untuk kamu dan Jhon buat memperjuangkan cinta kalian.
Mintalah yang terbaik kepada Tuhan, karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan. Saat ini ibunya Jhon belum terbuka hatinya untuk merestui hubunganmu dengan Jhon, bisa jadi itu terjadi Semata-mata agar kamu semakin dewasa dalam menyikapi berbagai masalah yang akan timbul dalam rumah tanggamu nantinya. Bisa juga agar kamu lebih sabar dan tidak melakukan hal-hal yang akan merugikan diri kamu sendiri, demi mendapatkan cinta yang selama ini kamu impikan.
Aku kembali mengusap bahu Nina, Nina kini tak lagi menangis, senyumnya mulai terbit dibibir indahnya.
"Kamu betul Elena, seandainya ini terjadi saat aku masih muda dan belum pernah merasakan betapa peliknya sebuah pernikahan. Mungkin aku sudah mengajak Jhon untuk kawin lari saja. Rasanya kok ribet banget memperjuangkan restu bu Suminah.
Sudah tidak tahan rasanya ingin merasakan nikmatnya meraba perut sixpack milik Jhon. Kalau ingat itu jantungku rasanya berdebar-debar"
Seketika itu aku dan Nina tertawa keras, hingga membuat kak Anggara yang duduk disamping pak Sentul menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Kamu itu harusnya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Nina. Mohon ampun atas segala kesalahan yang telah kamu perbuat dimasa lalu. Juga selalu berdoa agar niat baikmu untuk berumah dengan Jhon cepat mendapatkan restu dari kedua orang tua Jhon.
Mintalah kepada Tuhan agar hati bu Suminah dilembutkan dan terbuka hatinya untuk menerima kehadiranmu dan Rena. Memohon kepadaNya agar jalanmu di lancarkan, terkabul segala hazatmu. Bukannya berfikir mesum Begitu, " kak Anggara menyela dengan wajah datar.
Nina langsung tertunduk malu, menyesali ucapannya barusan, dia meminta aku membelanya, tapi aku hanya tersenyum dan angkat bahu, membuatnya semakin kesal.
Sesaat tak lagi ada obrolan diantara kami, hingga mobil memasuki halaman kantor polisi. Kami bertiga keluar dari mobil dan memasuki kantor polisi.
Kini aku sudah ada disebuah ruangan, siap memberikan keterangan sebagai korban penganiayaan yang dilakukan oleh Andrea terhadapku. Kak Anggara dan Nina terus berada didekatku untuk mendampingiku.
Polisi memintaku untuk menceritakan kronologis kejadian penganiayaan yang aku alami beberapa bulan yang lalu, yang terjadi beberapa jam setelah penangkapan Andrea dan Roky sebagai pelaku penculikan Nina dan Rena bayi dari Nina.
Aku berusaha tetap tenang saat menceritakan tahap demi tahap kejadian yang menimpaku menjelang dini hari waktu itu. Aku ceritakan dengan perlahan dan hati-hati agar tidak ada yang salah paham dan tak ada kisah yang terlupakan.
Aku berhenti bercerita setelah yakin, tidak ada kejadian yang terlupakan olehku. Kemudian kak Anggara juga menyerahkan beberapa bukti terjadinya penganiayaan terhadapku yang didapat dari lokasi kejadian yaitu dirumah yang aku dan kak Anggara tempati.
Setelah selesai memberikan keterangan dikantor polisi, kami semua berniat langsung kerumah. Sejak tadi aku merasa heran, karena jalan yang kami lewati bukanlah jalan menuju tempat tinggal aku dan kak Anggara.
Sepertinya kami akan mampir makan ke restoran dulu. Karena jalan yang kami lewati menuju kerestoran Tepi Sawah. Hatiku rasanya berdebar lebih cepat karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Leha. Wanita seksi yang sangat menyukai suamiku bahkan sempat mengajak kak Anggsra menikah. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa saat nanti harus bertatapan dengannya.
__ADS_1
*****