Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
74. Tidak Sadar Diri


__ADS_3

Seketika itu juga pak satpam terperangah mendengar celotehan nenek Rabi. Aku yakin lelaki berumur sekitar empat puluh tahun itu tidak paham kemana arah bicara nenek yang lagi puber kedua didekatku ini.


"Nenek Rabi kok enggak nyambung gitu ya bicaranya, apa karena pengaruh usia ya, jadi sudah mulai pikun, bisik pak satpam padaku, tentu saja dengan suara pelan, namanya berbisik.


"Aku biar sudah tua tapi dengar kamu ngomong apa pak satpam, wajar kamu tidak paham dengan arah bicaraku, nggak bakal sampai fikiranmu," teriak nenek Rabi sambil melotot kearah satpam.


Aku segera memberi isyarat agar dia tak usah meladeni nenek Rabi, karena hanya akan membuat masalah semakin ruwet saja.


"Sudah ya nek, aku sudah mengantar nenek sampai sini. Sekarang nenek pulang ya, aku tidak mau melihat ibuku memarahi nenek, aku tidak tega nek, aku kasian sama nenek, jadi nenek sekarang pulang ya," bujukku pada nenek Rabi.


"Iya kalau kamu yang suruh aku pasti pulang, tapi sebelum pulang nenek ingin bicara serius dulu sama kamu"


Ternyata nenek Rabi masih ingin mengulur waktu, heran aku sama nenek yang satu ini, apa sebenarnya mau dia. Mana perutku sudah lapar banget minta diisi, tadi aku belum sempat makan keburu ibu datang marah-marah.


Sampai diusia empat puluh tahun lebih ternyata sikap bar-bar ibuku bukannya berkurang justru malah semakin bertambah. Kata orang tua dulu jika diusia empat puluh tahun, sifat buruk seseorang tidak berubah menjadi lebih baik, maka sifat itu akan selamanya melekat pada dirinya.


Sepertinya aku harus meminta pendapat kak Anggara bagaimana cara menyadarkan ibuku agar bisa mengubah sifat buruknya menjadi lebih baik.


"Nenek ingin bicara apa, bicaralah, Elena siap mendengarkannya, " ucapku berusaha tetap ramah walau hati ini dongkol pake banget.


"Aku kasian dengan nasib ayahmu yang mempunyai pendamping hidup yang kasar dan kejam seperti ibumu, apalagi setiap bicara ibumu selalu ketus dan tak pernah menghargai suaminya. Pokoknya aku sangat sedih setiap kali melihat nasib ayahmu"

__ADS_1


Nenek Rabi menghentikan ucapannya,wanita tua itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, tapi masih ragu. Aku segera meminta nenek Rabi menyampaikan uneg-uneg hatinya dan jangan sungkan, kalau aku bisa memberikan solusinya, aku pasti akan bantu dia, ujarku dengan sabar.


"Nenek lihat Edwan tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Dinda. Berulang kali ayahmu mengatakan menyesal sekali telah menikahi Dinda. Semakin tua cintanya pada Dinda malah semakin memudar, karena sikap bar-bar Dinda yang sering membuatnya malu didepan orang banyak. Ayahmu juga akhir-akhir ini tidak lagi dimasakkan oleh ibumu. Kasian Edwan, hidupnya terlunta-lunta, kurang kasih sayang dan kurang nafkah bathin"


Lagi-lagi nenek Rabi berhenti bicara, wanita itu belum juga mengutarakan maksud dan tujuannya kenapa dia ingin bicara serius denganku. Kembali aku meminta nenek Rabi meneruskan bicaranya.


Karena nenek tidak bahagia dengan Dinda dan sekarang mereka juga sudah pisah ranjang, bagaimana kalau aku yang membahagiakan Edwan ayahmu. Aku yang akan melayani segala keperluannya, aku yang akan selalu memasakannya setiap hari.


Jadi kita sama-sama diuntungkan, aku bisa mencurahkan rasa cintaku yang terpendam puluhan tahun lamanya pada Edwan, ibumu menjadi lebih ringan tugas, karena sudah ada wanita yang mau membahagiakan suaminya, melayani suaminya, mencucikan bajunya, memasakkannya, pokoknya Dinda tinggal duduk manis saja, " rayu nenek Rabi.


Antara rasa tidak percaya, namun aku mendengar sendiri, bagaimana nenek Rabi mengutarakan keinginannya yang tidak masuk akal. Aku berfikir sejenak untuk memberikan jawaban terbaik pada nenek dihadapanku ini.


"Kalau memang begitu keinginan nenek, saya akan sampaikan pada ayah dan ibu, biarlah mereka berdua yang memutuskan. Disini posisi saya hanyalah seorang anak yang sudah seharusnya menurut bagaimana pun keputusan kedua orangtua Elena nantinya," lanjutku menjelaskan.


"Iya saya paham maksud kamu Elena, sebenarnya aku ingin bicara baik-baik pada Dinda, tapi kan kamu tahu sendiri, melihat wajahku saja dia sudah keluar taringnya begitu. Bagaimana kalau aku mengutarakan isi hatiku yang telah lama terpikat pada kebaikkan suaminya. Bisa-bisa dia mengamuk dan seisi rumah dihancurkannya.


Tapi melihat tingkah Dinda yang begitu bar-bar, tidak ada lembutnya sama sekali, aku menjadi tertentang untuk secepatnya mengajak Edwan menikah, agar dia tahu rasanya bahagia dalam pernikahannya. Karena aku tahu dia belum pernah merasakan ini selama pernikahannya dengan Dinda"


Sungguh luar biasa, aku bingung kata-kata apa yang pantas disematkan untuk nenek Rabi. Andai ini terjadi pada rumah tanggaku, mungkin aku akan sangat marah pada suamiku. Begitupun ibu atau wanita pada umumnya, marah, kesal, sakit hati dan terhina bercampur aduk menjadi satu saat tahu ada wanita yang nekat seperti nenek Rabi, berusaha masuk kedalam rumah tangganya.


"Ya sudah aku pamit dulu ya, jangan lupa sampaikan pesanku pada kedua orangtuamu, semoga Dinda bisa berbesar hati mau berbagi suami denganku ya, " ujar nenek Rabi. Kemudian dia pulang meninggalkan kami yang termangu didekat pos satpam.

__ADS_1


"Gila bener nenek Rabi, seperti bukan wanita baik-baik saja yang perbuatannya patut dicontoh oleh wanita yang lebih muda," ujar pak satpam mengomentari.


Mendengar komentar pak satpam yang menurutku memang benar aku justru cepat-cepat balik kerumah. Pusing sekali melihat masalah orang tuaku. Aku tidak tahu harus menyelesaikan mulai dari mana.


Tapi sebaiknya aku bicara dengan suamiku untuk mendapatkan solusi terbaik. Saat aku kembali keruang makan, ternyata hanya suamiku yang sedang menyantap makan siang.


Aku langsung menanyakan keberadaan ayah dan ibu pada suamiku. Sudah ku duga, ayah dan ibu pasti berantem lagi, kedatangan nenek Rabi benar-benar telah mengganggu ketenangan dirumah ini. Tapi dari pada stres dan berdampak pada kelancaran asiku. Lebih baik aku makan saja dulu, setelah itu baru lanjut menemui ayah dan ibu untuk menyelesaikan masalah mereka.


Selesai makan aku langsung mengajak kak Anggara kekamar kami yang ada dirumah ini.


"Kamu jangan menggodaku Elena, ingat kamu kan masih nifas, kita belum bisa ngapa-ngapain, " ujar suamiku salah faham.


"Aku tidak bermaksud ingin menggodamu kak"


Aku langsung menceritakan pesan nenek Rabi untuk ibuku. Aku meminta pendapat suamiku, langkah apa yang harus aku lakukan. Suamikupun mengajak aku untuk menemui ayah yang sekarang sedang istirahat dikamar tamu pasca ribut dengan ibu.


"Maafkan ayah, ayah tidak mengira semua ini bisa terjadi. Semoga kalian masih percaya bahwa antara ayah dan nenek Rabi tidak ada hubungan spesial. Ayah memang salah telah menceritakan kondisi rumah tangga ayah dan ibumu pada nenek Rabi.


"Tentu saja kami masih percaya ayah, tapi bisakah ayah ceritakan sudah sejauh mana hubungan ayah dengan wanita tua itu ayah, agar kami tidak salah paham," pintaku pada ayah.


*****

__ADS_1


__ADS_2