
Mendengar ucapan Sentul, reflek aku langsung mendekap tubuh Elena dengan erat dan berusaha bangun, sambil mengangkat tubuh Elena aku membuka pintu mobil. Sentul berlari dan membantuku membukakan pintu yang akan aku lewati, dengan hati-hati aku melangkah turun dari mobil. Sementara Sentul membantuku mengangkat Elene agar terasa lebih ringan.
Beberapa menit kemudian dua orang perawat datang menyambut kedatangan kami sambil menarik sebuah brankar rumah sakit. Aku langsung membaringkan tubuh Elena diatas brankar. kedua perawat menarik brankar menuju ruang penanganan untuk dilakukan tindakan lebih lanjut. ingin rasanya aku ikut kedalam untuk memberinya semangat dan menguatkannya. Namun perawat tidak mengijinkannya.
Aku hanya duduk termenung disebuah kursi bersama beberapa keluarga pasien yang lain. Aku mulai merasakan penyesalan yang teramat sangat. Seandainya saja aku malam tadi langsung pulang setelah mengantarkan Jhon kerumah sakit. Mungkin sekarang kami masih bisa mengobrol bersama.
Tapi sayang semua sudah terlanjur terjadi, entah siapa yang tega sekali menyakiti istriku. Aku berjanji akan mengungkap siapa dalang dibalik penganiayaan istriku.
"Anggara....apa yang terjadi pada Elena nak, kenapa hal itu bisa terjadi, apa ada seseorang yang engkau curigai? "
Mertuaku ternyata telah datang dan menghampiriku. Aku langsung bersujud mencium kaki ayah mertua untuk memohon maaf karena aku telah gagal menjaga putrinya.
"Ayah maafkan aku ayah, ini semua salahku, aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk putri ayah, ayah boleh melakukan apa saya terhadapku, kalau memang memukulku bisa membuat ayah lega, pukul saja aku ayah, aku ikhlas dan pantas diperlakukan seperti itu. Tapi tolong jangan pecat aku jadi menantu ayah....aku mohon ayah"
Tangisku pecah dihadapan mertuaku, jujur aku merasa tak berguna, aku sangat malu sekaligus sedih dihadapan mertuaku. Aku pasrah apapun yang akan dilakukan mertuaku karena memang aku pantas mendapatkan hukuman apapun. Hanya satu hal yang aku tidak mungkin sanggup dan sangat aku takut yaitu jika ayah mertua memintaku untuk meninggalkan belahan jiwaku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menjalani hidup tanpa Elena disampingku.
Aku sudah siap apapun yang akan dilakukan oleh mertuaku, mungkin ayah akan menamparku, menendangku atau bahkan menganiayaku seperti apa yang terjadi pada Elena. Aku terima saja semua apa yang akan ayah mertuaku lakukan.
__ADS_1
Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang menyentuh bahuku dan menarikku keatas. aku segera menyorotkan pandangan kearah bahuku untuk melihat tangan siapa yang ada diatas bahuku.
"Bangunlah menantuku, aku bukan mertua yang kejam seperti yang ada dalam fikiranmu. Aku tahu kamu sudah menjaga Elena dengan sangat baik, apa yang telah terjadi hari ini diluar kuasa kita. Sebaik apapun kamu menjaga istrimu, kalau memang itu sudah takdir, semua akan terjadi tanpa mampu kita kendalikan nak.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah berdoa dan lakukan yang terbaik agar dia bisa sembuh seperti sedia kala untuk menjadi istri yang baik untukmu, ibu yang baik untuk anak kalian dan putri terbaik untuk ayah tentunya"
Aku memeluk ayah mertuaku, kami sama-sama menangis untuk menumpahkan rasa sedih yang teramat sangat. kami sama-sama terpuruk menyaksikan wanita yang kami cintai.
"Sebaiknya kamu istirahat nak, tidurlah barang sejenak. aku sudah tahu apa yang kamu lakukan semalaman ini. Ayah tahu kamu pasti lelah, jangan sampai kamu jatuh sakit, nanti siapa yang akan menggantikan ayah menjaga Elena"
kembali ayah mertuaku berbicara. Dalam kondisi terpuruk dan tak berdaya, ada rasa syukur yang begitu besar atas anugerah Tuhan yang luar biasa, karena aku dipertemukan dengan seorang mertua yang begitu baik dan pengertian.
Baru saja aku merasa sedikit lega, tiba-tiba pukulan bertubi-tubi menghantam punggungku. Rasanya sakit sekali, mungkin karena dalam kondisi tidak siap.
"Kemana saja kamu semalaman Anggara, bagaimana mungkin Elena mengalami penganiayaan yang begitu parah, tapi kamu malah tidak ada dirumah. Dimana janjimu dulu, katanya kamu akan menjaga anakku dengan baik walaupun nyawa yang harus jadi taruhannya.
Kamu lihat sekarang, Elena dalam kondisi kritis, kita tidak tahu apakah dia akan selamat atau tidak. Ibu tidak akan memaafkanmu kalau sampai anaku tidak selamat. Ingat kamu tidak akan bahagia jika kelak menikah lagi dengan perempuan lain, andai umur Elena hanya sampai disini, " ujar ibu mertuaku sembari terus memukuliku.
__ADS_1
Aku hanya diam tak bergeming menerima setiap pukulan dari orang yang telah melahirkan wanita tercintaku. Sedikitpun tak ada rasa marah, apalagi dendam, aku pantas menerima semua ini. Andai aku berada di posisi beliau pun mungkin aku akan melakukan hal yang sama.
"Tahan bu.... tahan emosi ibu, ibu tidak bisa menyalahkan Anggara sedemikian rupa. Ini semua sudah takdir, andai Anggara tidak meninggalkan Elena sekali pun. Belum tentu Elena saat ini dalam kondisi baik-baik saja. Bahkan bisa jadi yang terbaring dan terluka mereka berdua. Anggara tidak mungkin membiarkan anak kita disakiti oleh orang lain. Bisa jadi Anggara akan melawan habis-habisan orang yang berani melakukan penganiayaan terhadap anak kita.
Coba ibu fikirkan seandainya Anggara tidak selamat, mungkin anak kita akan sangat menderita kehilangan orang yang sangat dia cintai. Ibu bayangkan andai ibu harus kehilangan ayah," ujar ayah mertua sambil berusaha menghentikan pukulan ibu terhadapku.
Sepertinya ayah tak sanggup menghentikan pukulan ibu kepadaku, namun setelah merasa lelah ternyata dia berhenti sendiri. Beliau terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya. Beberapa pengunjung rumah sakit memperhatikan kearab kami, namun mereka hanya diam saja, sepertinya pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi dirumah sakit.
Setelah puas menumpahkan segala rasa sedih, marah yang menyesakkan dada, ibu mertuaku pun berhenti menangis. Dia melangkah mendekatiku. Aku segera bersiap-siap untuk menerima amukan dan pukulan yang bertubi-tubi seperti tadi atau bahkan lebih dari wanita setengah baya yang sangat disayangi oleh Elena istriku.
"Anggara, maafkan ibu ya nak, ibu telah gelap mata, tak sanggup menerima kenyataan, mengetahui kondisi anakku yang begitu mengenaskan. Ibu malah menumpakan segala kemarahan dan kesedihan ibu kepadamu. Sebagai seorang ibu tidak sepantasnya ibu memperlakukanmu dengan sesuka hati.
Sekali lagi ibu minta maaf ya, jauh dilubuk hati ibu, ibu sangat percaya, kalau kamu sangat mencintai anakku. Ibu sadar apa yang terjadi pada Elena saat ini adalah diluar kuasamu. Itu semua terjadi atas kehendak Tuhan, jadi tak sepatutnya bila kita saling menyalahkan atau saling merasa benar," ujar ibu mertuaku yang langsung dipotong oleh ucapan ayah mertua.
"Kita dari tadi disini tidak ada yang saling menyalahkan. Justru ibu sendiri yang datang-datang langsung menyalahkan Anggara. Jadi tidak usah sok menasehati kami yang nyata-nyata sudah bisa mempraktekkannya. Tidak seperti ibu yang hanya ngomong saja," ujar ayah mertua dengan suara ketus.
Aku menahan senyum, rasa sedih yang menyesakkan dada terasa lebih terhibur mendengar perdebatan sepasang suami istri yang sudah lanjut usia.
__ADS_1
"Keluarga pasien bernama Elena Edwan Putri," Seorang dokter yang menangani Elena keluar dari ruang tindakan. Aku, ayah dan ibu mertua dengan langkah setengah berlari mendekati dokter tersebut.
******