
Bugg!.... bugg!
Rasakan ini, makanya jangan seenaknya saja minta tolong pada suami orang saat malam. Karena jika malam hari keberadaan seorang suami sangat diperlukan oleh istrinya, apa lagi saat istri hamil muda. Dia butuh disayangi dan dilayani oleh suaminya," Suara ibu mertuaku berteriak, suaranya terdengar hingga sampai diujung koridor rumah sakit
"Sudahlah bu, jangan mengumbar emosi, semarah apapun ibu pada Nina, itu tidak akan membuat Elena membaik seketika. Apalagi kan ini bukan salah dia, papa dia yang menghubungi Anggara karena Nina berteman dengan istrinya. Begitu bu ceritanya, ibu jangan main serang saja, malu dilihat orang," ayah sepertinya sedang menasihati ibu mertuaku.
Kini aku semakin dekat dengan mereka, aku melihat Nina sedang jongkok sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Sedangkan kedua tangan ibu dipegang erat oleh ayah mertuaku.
"Ibu jangan berprasangka negatif dulu sama saya. Saya itu sama Elena sahabat baik, walau dulu saya pernah merebut kekasihnya, tapi itu dulu, sekarang saya sudah menyesal dan meminta maaf, Elena juga sudah memaafkan saya bu.
Saya kesini murni berniat menjenguk Elena, karena saat berpapasan dengan papanya, katanya Elena masuk rumah sakit karena di aniaya orang malam tadi.
Saya sangat sedih bu mengetahui kondisi Elena, ibu percaya sama saya ya, Nina yang sekarang bukanlah Nina yang dulu, Nina sekarang sudah berubah dan itu semua karena Elena. Sekarang alangkah baiknya kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan Elena. Semoga dia cepat sembuh, selamat sehat bayi dan ibunya," kudengar Nina berbicara, mungkin dia bermaksud menenang ibu mertuaku. Ibu yang sudah mulai tenang hanya diam menyimak yang Nina katakan. Air matanya terus mengalir menganak sungai dikedua pipinya. Sepertinya beliau mulai merasa bersalah atas perbuatannya yang kasar pada Nina.
Kondisi Elena yang sangat memprihatinkan membuat ibu mertuaku mudah marah dan berfikir buruk pada orang lain. selain sifat ibu mertua yang suka grusah-grusuh, situasi hatinya yang sedang sedih membuat beliau suka berbuat diluar nalar.
"Ibu, ayah ada apa?"
Aku yang baru datang langsung menyapa mereka. Ibu langsung melepaskan tangan ayah dan berlari menghampiriku.
"Anggara...apa kata polisi, apakah mereka akan segera menangani kasus ini. Terus terang ibu ingin secepatnya orang yang menganiaya Elena cepat ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. kalau belum ditangkap ibu merasa siapa saja yang datang kesini adalah dalang dari penganiayaan Elena.
__ADS_1
Ibu mertuaku menangis sambil memelukku. Aku terus mengusap punggungnya berulang kali agar dia tenang.
"Kamu pasti kesal punya ibu mertua sepertiku, kamu pasti jijik melihat kelakuanku yang suka labrak sana dan labrak sini Anggara. Saat ibu melihat kondisi Elena yang tak berdaya, ibu menjadi susah mengendalikan emosi"
Ibu mertua melepaskan pelukannya kepadaku, dia mendekati Nina yang sedang duduk merapikan rambutnya yang berantakan dan bajunya yang kusut.
Melihat ibu mendekatinya, Nina sepertinya langsung membuat ancang-ancang siap menerima serangan. Aku yakin dia mengira ibu mertua akan menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi tanpa henti. Padahal yang sesungguhnya aku tahu ibu mertua mau meminta maaf pada Nina.
"Nina....kenapa kamu malah menjauh nak, sini...kamu jangan menjauh,"
Ibu bergerak cepat ingin menangkap tubuh Nina, beliau sepertinya ingin memeluknya dan sekalian meminta maaf, namun Nina malah spontan bergerak melompat dan bergerak menjauh. Dia sepertinya sangat panik, mungkin takut dipukul lagi oleh ibu mertua.
"Nina kemarilah nak, ibu sudah tidak marah lagi kepadamu, ibu mau minta maaf, kamu jangan lari yah. Apa wajah ibu begitu menyeramkan menurutmu, jadi membuatmu sedemikian takut sama ibu"
Perlahan dengan perasaan waspada dan masih ada sedikit rasa takut. Nina melangkah setapak demi setapak mendekati ibu mertua.
"Nina tidak takut melihat wajah ibu, Nina cuma takut kalau dipukul sama ibu. habis pukulan ibu sakit sekali. jangan pukul Nina Lagi ya bu, ibu boleh kok marahin Nina yang penting ibu jangan bertindak anarkis pada Nina"
Dengan gerakan yang begitu cepat, ibu mertua memeluk Nina. Kali ini tak bisa lagi Nina mengelak dan dia juga sudah tidak ingin menghindari ibu mertua.
"Maafkan ibu Nina, tidak seharusnya ibu berbuat kasar kepadamu, kamu benar nak. Kamu dan Elena selama ini bersahabat baik. Walaupun dulu sempat ada masalah diantara kalian. Tapi sekarang kalian sudah saling memaafkan.
__ADS_1
Elena juga sering cerita pada ibu kalau kamu sebenarnya anak baik. Mungkin dulu kamu hanya sedang khilaf saja. Maafkan ibu yah, karena tadi fikiran ibu benar-benar kalut melihat kondisi Elena.
Aku lega karena ibu mertua sudah bisa menguasai emosinya. mereka juga sudah saling memaafkankan. Setelah itu Nina meminta izin pada ibu untuk membesuk Elena Diruangan khusus yang hanya orang tertentu yang boleh masuk.
Setelah Nina pergi meninggalkan kami bertiga yaitu aku, ayah mertua dan ibu mertua.
"Anggara....tadi kan ibu tanya bagaimana hasil kamu melapor pada polisi, apa kasus penganiayaan Elena akan segera ditangani oleh pihak yang berwajib," tanya ibu mertuaku
"Lha gimana Anggara mau cerita wong ibu dari tadi nyerocos terus. Makanya jadi orang itu otaknya dipakai, jangan sedikit-sedikit emosi," jadi ketinggalan info kan ibu, " sahut ayah mertuamu.
Kembali wajah ibu mertua terlihat kesal, namun kali ini beliau hanya diam menahan emosinya. Semoga kedepannya ibu tidak sembarangan memarahi orang. Kalau yang dimarahi aku sih tidak masalah. Aku tidak pernah sakit hati dengan segala omelannya. Karena aku sudah menganggap ibu seperti mamaku sendiri. Aku bersyukur mempunyai mertua yang begitu baik sehingga posisi mereka sudah seperti pengganti papa dan mama yang telah tiada.
Ibu kembali menyuruhku bercerita kapan polisi akan menindak lanjuti laporanku mengenai penganiayaan Elena. Aku langsung menceritakan apa yang terjadi dikantor polisi. Dimana Andrea yang kabur saat di bawa ke kantor polisi dini hari tadi dan ditemukan dalam kondisi bersimbah darah. Setelah diperiksa ternyata tongkat pencetak anak miliknya terputus.
Kemudian aku memutar kembali rekaman pembicaraanku dengan Andrea saat aku menemuinya dalam keadaan tak berdaya.
Mendengar ceritaku, ayah mertua meringis, sepertinya ayah merasa ngeri mendengar belalai Andrea terpotong. Memang tak terbayangkan bagaimana sakit yang di deritanya
"Kalau dari rekaman ini, sepertinya pelakunya memang Andrea, tapi itu baru dugaan ayah, kita tidak boleh gegabah, asal menuduh dia, nanti kalau tidak terbukti malah jatuhnya fitnah. Kita bisa dituntut balik dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik. Cukup ibu saja yang tuduh sana, tuduh sini, dan menyerang kesana kemari. Ujung-ujungnya nangis sendiri dan minta maaf sendiri kan," ujar ayah mertua seraya terkekeh.
*****
__ADS_1