
Aku mulai mempersiapkan bagaimana nanti saat aku bertemu Leha. Ada beberapa rencana melintas dikepalaku. Bersikap ramah kepadanya, dan menggandeng suamiku seromantis mungkin, agar dia tahu betapa kuat jalinan cinta kami berdua. Sehingga tidak mudah kandas hanya karena godaan perempuan sepertinya, atau mungkin aku harus bersikap angkuh dan sedikit kasar agar dia tahu kalau aku sakit hati dengan apa yang telah dia lakukan. Tapi lihat situasi nantilah bagusnya sikap yang mana yang akan aku ambil.
Mobil terus melaju, kini kami telah sampai dijalan depan restoran Tepi Sawah. Namun mobil kak Anggara terus saja melaju mengambil jalan lurus ke depan, bukan berbelok masuk kehalaman restoran.
Aku semakin penasaran, sebenarnya kami ini mau kemana. Aku terus berfikir ingin bertanya sebenarnya kami ini akan kemana, agar aku tidak menebak-nebak dan salah sangka.
"Kak... kok lurus terus, sebenarnya kita mau kemana, aku fikir kita mau kerestoran Tepi Sawah," tanyaku pada suamiku yang dari tadi hanya diam saja.
"Pulanglah, emang mau kemana lagi," jawab kak Anggara agak ketus.
"Ampun deh....suamimu Elena... enggak ada romantis-romantisnya jadi suami," gerutu Elena pelan. Namun sepertinya suamiku mendengarnya, terlihat dari wajahnya yang langsung menyoroti kami berdua.
"Nggak semua yang romantis itu bagus terus. Buktinya Andrea yang sangat romantis hingga kalian berdua sampai terlena hanyut dalam cintanya. Nyatanya apa yang sudah kalian dapatkan dari dia. Mending aku yang tidak romantis dan biasa saja. Tapi bertanggung jawab dan setia dalam kondisi apapun," sahut kak Anggara lebih ketus lagi.
"Sudahlah kak tidak usah ketus terus, kayanya situasi hati kakak lagi sedang tidak baik-baik saja. Apa kakak ingin makan direstoran Tepi Sawah biar ketemu Leha, kangen sama dia"
Nina mengerutkan dahinya dan memandang kearahku. Sedangkan kak Anggara malah tertawa membuat aku semakin kesal.
"Rasanya aku bahagia sekali hari ini, ternyata istriku bisa juga cemburu, itu artinya dia mencintaiku dan takut kehilangan aku. Tapi sebenarnya yang kepingin makan direstoran Tepi Sawah bukan aku, tapi lelaki tua yang ada disampingku," ujar kak Anggara sembari melirik lelaki yang ada disampingnya yaitu pak Sentul yang sedang menyetir mobil. Wajah pak Sentul terlihat bingung tidak mengerti apa maksud dan tujuan ucapan suamiku, begitu juga aku dan Nina.
__ADS_1
mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, kini kami memasuki perumahan elit yang biasanya dihuni oleh para konglomerat. Netraku terus menyoroti rumah megah yang ada dikanan dan kiri jalan yang kami lewati. Pemandangan disini terlihat begitu indah dan Asri.
Sepanjang jalan ditanami tanaman buah dalam pot yang sedang berbuah. Ada buah naga yang pohonnya kecil dengan tinggi sekitar setengah meter, namun buahnya yang sudah berwarna merah sangat lebat sekali. Entah berapa puluh buah naga yang berwarna merah menempel ditangkainya.
Ada juga pohon jeruk yang berbuah lebat, ada pohon mangga yang baru berbunga, sawo dan beberapa tanaman buah lainnya yang mempunyai ukuran mini dan tumbuh didalam pot lalu diletakan sepajang jalan komplek, baik sebelah kiri maupun kanan jalan.
Kini kami sudah sampai disebuah rumah dengan ukuran paling luas dan paling megah diantara bangunan rumah yang lainnya.
Ternyata mobil kami memasuki halaman rumah tersebut. Pintu pagar terbuka secara otomatis, sepertinya pintu gerbang rumah tersebut di buka dengan remot control. Satpam yang berada dipos satpam langsung keluar dan menunduk hormat kepada kami. Mungkin kak Anggara adalah teman dari penghuni rumah ini. Sehingga dia menghormati kak Anggara seperti menghormati bosnya.
Mobil berhenti dicarport rumah, kak Anggara langsung keluar, dia menyiapkan sebuah kursi roda untukku.
"Kakak tadi bilang mau langsung pulang kerumah, tapi kok malah mampir kesini. Ini kan rumahnya orang kaya, apa dia teman kakak? "
Kak Anggara hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Dia mengangkat tubuhku dan mendudukanku dikursi roda kemudian mendorongnya menuju keteras rumah, dimana pintu ruang tamu telah terbuka. Sepertinya dia sudah tahu akan kedatangan kami. Aku melirik kebelakang, Nina mengikuti kami dibelakang, sedangkan dibelakangnya lagi ada pak Sentul yang sedang membawa barang-barang kami dari rumah sakit.
Pandanganku terus menyapu kesegala arah, demi melihat-Lihat tanaman bunga yang tersusun rapi diteras rumah dengan penataan yang begitu elegan. Aku sangat menyukai tanaman bunga yang ditanam di sini. Kayanya selera penghuni rumah ini tentang bunga, mirip denganku.
Saat kami masuki ruang tamu aku terkejut, karena sekitar sepuluh orang pelayan berpakaian seragam yang biasa dipakai oleh para pelayan hotel atau restoran. Mereka berbaris rapi menjadi dua baris dalam menyambut kedatangan kami.
__ADS_1
"Selamat Siang Nyonya Elena, selamat datang dirumah ini," ucap para pelayan berpakaian seragam. Jujur aku terpana menyaksikan bagaimana keluarga ini menghargai kami sebagai tamu. Hal ini menunjukkan kalau tuan dirumah ini sangat menghargai kak Anggara dan aku.
Satu persatu mereka menyalamikua dan mengangguk sangat sopan. Seumur hidupku baru kali ini aku diperlakukan bagai seorang ratu. Kulihat mereka juga menyalami Nina dan mempersilakan Nina untuk duduk diruang tamu diatas sofa yang mahal. Dua orang pelayan datang dan menyuguhkan makanan kepada sahabatku.
Setelah itu kak Anggara mendorongku masuk kerumah itu, tanpa menemui tuan rumah terlebih dahulu. Kak Anggara begitu santai menyuruh para palayan ini dan itu seperti dirumah sendiri.
Kini kami sudah berada disebuah kamar yang luasnya setara dengan luas rumahku. sebuah ranjang tidur yang megah dengan ukuran basar. Kak Anggara ingin mengangkat tubuhku ketempat tidur, namun aku menolaknya. Karena aku harus banyak berlatih berjalan, agar otot-ototku terasa lemas.
"Kakak dirumah ini seperti di rumah sendiri saja, masa tamu langsung masuk kekamar, tanpa menemui pemilik rumah terlebih dahulu. Apa kakak sudah biasa bersikap seperti ini," tanyaku pada suamiku.
Suamiku tiba-tiba berjongkok ditepi ranjang, kedua tangannya diletakkan diatas pahaku.
"Elena....kitalah pemilik rumah ini, kita tidak sedang bertamu. Jadi bersikaplah seperti dirumahmu sendiri karena memang ini kita. Rumah ini adalah rumah peninggalan papa dan mamaku sewaktu masih hidup. Setelah semua perusahaan dan semua aset kembali kepadaku. Aku menebus rumah ini yang telah dijual oleh Roky.
Aku sangat terkejut mendengar pengakuan suamiku, kalau rumah ini adalah rumah peninggalan orang tuanya. Aku baru tahu kalau kedua orangtua kak Anggara sangat kaya raya.
Yang membuat aku sangat kagum dengan sosok suamiku. Saat dia kehilangan semuanya, diterima dengan lapang dada, padahal sejak kecil hidupnya bergelimang harta. Bahkan dia rela menjadi penjual gorengan demi bisa menafkahi aku.
Ternyata lelaki ini benar-benar tahan banting mampu hidup dalam situasi bagaimanapun. Kemiskinan dia alami tidak membuatnya hancur dan kekayaan yang dia miliki tak membuatnya sombong.
__ADS_1
*****