Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
38. Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Setelah mengetahui isi hati bu Sumilah aku langsung tersenyum agar bu Sumilah dan Suaminya tak lagi merasa khawatir. Namun reaksi mereka sungguh diluar dugaanku.


"Hai anak muda...kamu jangan menertawakan kami. mungkin bagi anda biaya rumah sakit Jhon tidak seberapa. Tapi berbeda bagi kami orang miskin, biaya rumah sakit Jhon pastilah banyak walaupun pihak rumah sakit belum menyebutkan angkanya, " pak Jono menimpali.


Aku terkejut mendengar ucapan sepasang suami istri yang ada di hadapanku. Sekarang aku baru sadar, mereka mengira aku sedang tersenyum untuk meremehkan mereka. Sepertinya aku harus segera menjelaskan kepada mereka agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara kami.


"Maaf bu, pak, kalian sepertinya sudah salah mengartikan senyum saya, saya bukan sedang mengejek kalian, saya cuma ingin membuat kalian tidak panik lagi, tidak khawatir lagi dengan biaya rumah sakit John. karena semua biaya rumah sakit Jhon sudah ditanggung oleh Nina.


Sebenarnya Nina dan Jhon saling mencintai, namun cinta mereka masih terhalang restu orang tua. Namun setelah kejadian ini, papa Nina mungkin akan merestui mereka. Tadi beliau bilang kalau beliau tidak mengira jika Jhon mempunyai hati yang sangat baik. Jhon juga begitu mencintai dan menyayangi Nina dan Rena, kalau dia tidak sayang pada anak dan cucunya, tidak mungkin lelaki itu mau berkorban demi menyelamatkan Rena. begitu bu katanya tadi," ujarku menjelaskan.


"Tapi ibu belum merasa yakin, kalau mereka akan menerima John apa adanya. Ibu takut kalau John hanya dimanfaatkan saja. Siapa tahu mereka akan mempekerjakan John sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh para rival mereka, atau mungkin mereka akan menjadikan Jhon sebagai tambal pesugihan," sahut bu Suminah lagi.


Aku tercengang mendengar penuturan bu Suminah. Susah sekali ternyata merubah pola fikir wanita dihadapanku, yang selalu berfikir negatif saja.


Tak lama kemudian aku segera pamit pulang, sebentar lagi Nina datang. Aku sudah memberitahu dia tentang bagaimana keadaan Jhon sekarang.


Tentang bagaimana hubungan Bu Suminah dan Nina, biarlah menjadi urusan mereka. Aku malas sudah mengurus wanita paruh bayah yang kekeh dengan pendapatnya. semoga saja Nina bisa sabar menghadapinya.


Setelah sampai dirumah, aku langsung masuk dengan menggunakan kunci cadangan. Saat melewati sebuah ruang tengah aku sangat terkejut melihat Elena ternyata tidur diruang tengah dengan mata sembab. Aku segera mengangkatnya membawa masuk kedalam. kamar dan kubaringkan dia diatas ranjang.

__ADS_1


Saat mengamati tubuh Elena aku sangat terkejut ternyata banyak luka lebam disekujur tubuhnya. Aku melihat ada noda darah diantara kedua pahanya.


"Elenaaa bangun sayang.... Elena bangun"


Aku menggoyang tubuh Elena, tapi ternyata tubuh itu tak bereaksi. Dengan perasaan sangat panik aku segera meraih pengelangan tangannya. Dengut nadinya terasa lemah, aku baru menyadari kalau dia ternyata pingsan.


Saat aku sedang begitu panik, ternyata ponselku berdering, dengan sigap aku segera mengambil ponsel yang ada di dalam kantong celanaku.


segera kusoroti layar ponsel ditanganku, ternyata ayah mertuaku yang menelpon.


"Anggara kamu dimana, tadi aku menelepon Elena karena firasatku tidak enak, tapi tiba-tiba panggjlan terputus, aku jadi merasa khawatir kalau ada apa-apa diantara kalian. Apa kalian sedang berantem, kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin ya. Kalian kan sebentar lagi punya anak, harus bisa bersikap dewasa"


Sepertinya ayah mertuaku akan menasihatiku panjang lebar, aku segera memotong ucapannya karena akan segera membawa istriku kerumah sakit.


Masih dalam kondisi panik aku menceritakan semua yang terjadi disini, namun secara singkat saja. Karena aku harus buru-buru mengangkat tubuh Elena. Aku langsung menelpon supir kami yang tadi mengantarku pulang. mudah-mudahan saja dia belum terlalu jauh. Setelah melakukan panggilan dua kali ternyata dia mengangkatnya.


Aku segera menyuruhnya putar balik dengan segera dan memberitahu keadaan istriku agar dia bisa bergerak lebih cepat. Selesai menelpon dan menyiapkan segala sesuatu denga begitu tergesa-gesa. Aku mengangkat tubuh Elena keluar dari kamar menuju garasi mobil. Dengan susah payah aku membuka pintu mobil dan membaringkan tubuh istriku di sana.


Setelah tubuh istriku aku baringkan di jok mobil nomor dua, tas yang berisi barang-barang yang sempat aku bawa kuletakkan disebelah Elena. Tiba-tiba pintu rolling door dibuka dari luar. Dugaanku benar, supirku yang bernama pak Sentul datang membuka pintu rolling door dengan menggunakan kunci yang selalu dia pegang.

__ADS_1


"Ayo pak cepat kita berangkat, jangan sampai kita terlambat, aku takut terjadi sesuatu pada istriku"


Setelah melirik tubuh Elena, yang sudah tak bergerak, tanpa sepatah katapun, Sentul langsung masuk lewat pintu kemudi, menyalakan mesin. beberapa menit kemudian, mobil langsung bergerak mundur, setelah mobil keluar dari garasi, aku menyuruhnya untuk langsung melajukan mobil menuju ke rumah sakit tanpa menutup garasi terlebih dahulu. Karena bagiku keselamatan Elena jauh lebih penting.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, aku terus memeluk tubuh Elena, melirihkan. doa pada yang maha kuasa agar kiranya istriku selamat dan sehat seperti sedia kala. Saat kupandang wajah pucat wanita yang sangat aku cintai, ada tetesan darah yang mengering disudut bibir. Dengan tangan gemetar aku langsung membersihkan darah itu.


Sakit rasanya tiada terkira saat menyaksikan belahan hatiku dalam kondisi tak berdaya. Dari tadi aku hanya sibuk berfikir dan menyiapkan bagaimana caranya agar bisa cepat sampai kerumah sakit. Supaya Elena bisa mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat.


Baru kali ini saat dalam perjalanan menuju rumah sakit, terfikir tanda tanya besar, siapa gerangan yang sedemikian rupa tega melakukan perbuatan keji pada wanita terkasihku yang sedang hamil.


Kalau aku ingat-ingat Elena tidak pernah punya musuh. Dia wanita ramah dan periang, dia juga banyak disukai oleh teman-temannya karena mempunyai jiwa yang penolong dan tak pernah itung-itungan dalam berbuat baik. Rasanya tak mungkin kalau ada orang yang tega berbuat jahat kepadanya.


Aku terus mengingat-ingat kisah perjalanan hidupku. Seingatku Andrea adalah orang yang tidak pernah menyukaiku, saat kami masih sama-sama mahasiswa. Ketidak sukaan Andrea berlanjut hingga saat kami sama-sama sudah bekerja.


Sebenarnya aku dan Andrea secara status sosial sungguh berbeda. Aku yang waktu itu seorang ceo dan dia yang hanya karyawan biasa. Namun kecerdikan dia mampu membuatku jatuh miskin melalui tangan jahat Roky. Aku masih ingat bagaimana wajah sinis Andrea dan Roky saat menatapku malam tadi.


Apa mungkin penganiayaan Elena ada hubungannya dengan kedua lelaki jahat itu? Andrea dan Roky telah ditangkap, rasanya tidak mungkin kalau merekalah pelakunya, tapi bisa jadi itu adalah ulang anteg-antegnya.


Seandainya ada Jhon, mungkin aku bisa dengan mudah mencari tahu. Dengan keuanganku yang masih terbatas, aku belum bisa menyuruh seorang detektif untuk melakukan penyelidikan. Tapi sebaiknya aku laporkan kasus ini kepihak yang berwajib saja.

__ADS_1


"Pak kita sudah sampai dirumah sakit,"ujar sentul mengagetkan lamunanku.


******


__ADS_2