Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
87. Kawini Ibuku


__ADS_3

Kini Dila dan Devan sudah bisa memahami masalah yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya. Mereka tidak lagi membenci ayah, apa yang terjadi pada rumah tangga kedua orangtua kami akan kami jadikan pelajaran dalam kehidupan kami. Agar jangan bertindak mengikuti emosi disaat kita sedang marah pada pasangan kita. Karena hal ini akan berdampak timbulnya masalah baru dan tidak menyelesaikan masalah yang sudah ada.


Hari ini kembali aku menerima telepon dari ibu yang memberitahu kalau kedua anak nenek Rabi datang meminta pertanggungjawaban ayahku untuk menikahi wanita tua itu. Karena menurut kedua anak nenek Rabi, nenek Rabi kerap mengamuk minta dikawinkan dengan ayah.


Karena kak Anggara sedang bekerja, dia menyarankan aku untuk datang kerumah ibu bersama Adam dan mba Darmi. Kami diantar oleh supir kantor yang telah diutus oleh suamiku. Suamiku akan segera menyusul sore hari nanti jika pekerjaan telah selesai.


"Semoga saja kedua anak nenek Rabi tidak mengamuk meminta pertanggungjawaban seperti yang di lakukan nenek Rabi ya Nyonya"


Mendengar ucapan mba Darmi, hatiku kembali was-was khawatir terjadi sesuatu pada ayah dan ibu. Apalagi Dila dan Devan sudah kembali kerumah tante. Semoga saja ayah dan ibu baik-baik saja. Hatiku sedikit lebih tenang mengingat ada bebeberapa asisten rumah tangga dirumah kedua orangtuaku, semoga saja mereka tidak sedang keluyuran kemana-mana.


"Agak cepat sedikit ya pak, saya khawatir pada ayah dan ibu, tapi semoga saja tidak terjadi apa-apa pada mereka," titahku pada pak Sentul supir suamiku.


"Baik bu, " sahut pak Sentul sembari menambah laju kecepatan mobilnya.


Tak lama kemudian kami sudah sampai dirumah ibu, pak satpam menyambut kami dengan membukakan pintu mobil setelah pintu gerbang dia buka dan mobil berhenti dihalaman rumah ayah dan ibuku.


"Sudah ditunggu mba Elena, mari silakan masuk," ucap satpam dengan sopan.

__ADS_1


"Semuanya aman kan pak, saya takut peristiwa tempo hari terulang lagi," sahutku.


"Aman mba, saya baru saja mengecek kedalam kok"


Ucapan satpam membuat aku merasa lega. Setelah keluar dari mobil aku bergegas masuk kerumah dimana aku dibesarkan. Sedangkan bi Darmi yang menggendong Adam aku suruh langsung menuju kamarku yang ada dilantai atas.


Aku langsung melangkah keruang tamu dimana ayah dan ibu menerima tamu.


"Ini anak saya Elena sudah datang. Tinggal menunggu persetujuan dia saja iya kan pak," ujar ibu memandang kepada ayah.


"Bu kita harus bicarakan terlebih dahulu dengan semua anggota keluarga kita, jangan sampai kira membuat keputusan yang akan mempersulit hidup kita sendiri nantinya," ujar ayah yang sepertinya sangat panik.


"Begini bu Elena, saya langsung saja bicara ya, tadi kan kami sudah bicara dengan ayah dan ibunya bu Elena. Sekarang ibu saya sering sakit-sakitan karena selalu merindukan pak Edwan lelaki yang selama ini diinginkan menjadi suaminya.


Saya datang kasini mau meminta pertanggungjawaban pak Edwan untuk mengawini ibu kami. Jujur saya sangat tidak tega pada ibu Dinda saat mengucapkan ini. Tapi melihat bagaimana ibu Dinda begitu baik dan lapang dada memberikan restu pada ayah Mba Elena untuk menikahi ibu saya.


Saya mohon pada pak Edwan dan bu Elena serta keluarga yang lain juga segera memberikan restu dan tidak mempersulit buat ibu saya untuk meraih kebahagiaan hidup bersama kekasih yang sangat dicintainya," ujar pak Rahmat menambahkan apa yang tadi disampaikan oleh bapak yang didampingnya yang diperkenalkan oleh beliau aebagai saudaranya yang bernama pak Dayat.

__ADS_1


Aku melihat kedua telapak tangan ayah mengepal dan wajahnya merah padam. Aku yakin ayah sedang marah, tapi entah marah pada siapa, pada ibu jelas tidak mungkin, pada kedua tamu kami, itu tidak seharusnya karena mereka melakukan itu demi bisa membahagiakan ibu mereka.


"He.... perlu kalian tahu ya, menikah lagi bagi banyak laki-laki apalagi bagi lelaki murahan yang doyan wanita, itu adalah hal yang selalu mereka dambakan. Tapi tidak denganku. Menikah lagi, mengkhianati keluarga kecilku adalah musibah besar yang sangat berat untuk menjalaninya.


Kalian tahu kan, kalau aku tidak pernah mencintai ibu kalian. Aku hanya memanfaatkan situasi dimana ibu kalian yang masuk kedalam kehidupan saya yang sedang galau waktu itu. Sekarang kalian juga ingin memanfaatkan ibu kalian yang sudah tua dan sesuatu hal yang lumrah kalau ibu kalian itu sakit-sakitan. Seharusnya kalian menjaganya dengan baik, bukannya menikahkannya, walau dialah yang menginginkannya.


Perlu kalian tahu, kalau orang tua seperti ibu kalian itu, dia sudah mulai pikun dan tentu saja sudah tidak bisa berfikir dengan baik, apalagi mempertimbangkan baik dan buruknya keputusan yang dia ambil. Dia itu berfikirnya sudah seperti anak-anak yang semua kemauannya harus dituruti. Jadi kalian tidak perlu mengikuti semua keinginannya, " ujar ayah panjang lebar. Nafas ayah terlihat naik turun sebagai tanda kalau ayah sedang menahan amarah.


"Sudahlah pak, tidak usah kebanyakan drama dan alasan. Pokoknya saya tunggu kehadiran bapak dirumah kami untuk melamar dan menikahi ibu saya secepatnya. Saya takut kalau ibu saya tidak bisa menikmati kebahagiaan sampai beliau pergi untuk selama-lamanya. Sebagai anak kami hanya ingin membahagiakan ibu kami dan berbakti kepadanya dipenghujung umurnya. Tolong kami ya bu Elena, bujuk ayah ibu yang keras kepala dan sok jual mahal ini.


Tolong ya bu Elena beri pengertian ayah ibu agar tidak perlu jual mahal dan malu-malu untuk mempunyai istri dua. Karna ini memang bukan kemampuan kita semua, tapi sepertinya ini sudah menjadi takdir yang kuasa agar kita bisa menjadi keluarga, " imbuh pak Dayat yang langsung dipotong oleh ayah.


"Sudah-sudah tidak usah diteruskan. Omong kosong macam apa yang sedang kalian bicarakan. Yang disuruh menikahi ibu kalian itu saya, jadi yang harus memutuskan juga saya. Jadi kalian tidak usah bujuk sana, bujuk sini.


Kalian semua yang ada disini dengarkan baik-baik ya, sekali tidak tetap tidak. Saya sudah putuskan. Untuk menikah sekali saja seumur hidup, jadi sekali saya bilang tidak akan menikah lagi ya tidak akan menikah lagi. Kalian dengar ya dan berhenti membujuk saya, karna percuma, buang energi. Saya ini orang yang teguh pendirian, jadi keputusan saya tidak berubah. saya tidak akan menikahi ibu Kalian"


Ayah langsung bangkit dan meninggalkan kami semua yang ada dirumah tamu.

__ADS_1


******


__ADS_2