
Kak Anggara, ya dia adalah kak Anggara suamiku, orang pertama kali yang kuingat dan suaranya yang terus berbisik ditelingaku, membuat aku terpicu untuk mencari suara itu hingga terdengar suara ayah dan ibuku.
"Sayang kamu sudah sadar, terimakasih kamu telah kembali untukku, aku sangat bahagia, bahagia yang tiada terkira. Terimakasih ya Allah karena engkau menjawab semua doaku selama ini. Sekali lagi terima kasih ya Tuhanku!"
Seru suamiku sembari memelukku dengan begitu erat dan linangan air mata. Aku bisa merasakan dari doa yang dia panjatkan betapa dia begitu mencintaiku dan mengharapkan aku sehat kembali. Beberapa kali suamiku mencium keningku dan bagian wajahku yang lain, juga tanganku dengan penuh cinta.
Tak terasa bulir-bulir bening merembes melalui kedua sudut mataku membasahi kedua pipiku. Aku sangat terharu mendengar curahan hatinya yang menunjukkan betapa bersyukurnya dia menerima kehadiranku kembali. Aku merasakan begitu besar cinta yang diberikan suamiku untukku.
"Aku mencintaimu kak Anggara"
Kalimat pertama yang aku ucapkan pada suamiku setelah berbulan-bulan tak sadarkan diri. Tanganku membawa telapak tangan suamiku untuk meraba perutku, merasakan kehadiran makhluk hidup yang dari tadi terus bergerak mengisyaratkan kalau dia juga sangat bahagia memiliki kami.
"Iya sayang dia anak kita, usianya sudah jalan delapan bulan. kami sudah merencanakan sebuah operasi caesar untuk mengangkatnya tepat pada usia sembilan bulan sembilan hari kehamilanmu," ujar suamiku yang terus membelai perutku seolah sedang membelai bayi lelakinya.
"Sepertinya anak kita ikut bahagia mengetahui kebahagiaan kedua orangtuanya. Ketahuilah sayang dia jenis kelaminnya laki-laki. Semoga kelak dia akan menjadi kakak yang selalu siap melindungi adik-adik dan keluarganya," harapan kak Anggara.
Aku bahagia sekali saat mengetahui semua itu. Tak lama setelah kami melepas rindu, menyusullah ayah dan ibu masuk kedalam tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.
"Elena....ibu senang sekali akhirnya kamu sadar nak. jujur saja ibu sangat takut kehilanganmu, ibu sudah pasrah mengikhlaskan Anggara menikah lagi. karena kemungkinan besar tak mungkin kamu selamat," ujar ibuku yang langsung memelukku, sedangkan kak Anggara tentu saja sudah dari tadi memberi kesempatan pada kami untuk melepas rindu.
"Tak disangka sekarang kamu terlihat sehat seperti sedia kala. Kamu harus banyak bersyukur karena Tuhan telah memberikan jodoh Anggara. lelaki yang sangat setia walaupun banyak wanita mengejar-ngejar dia, namun dia tetap setia pada istrinya, walaupun istrinya saat itu tidak dapat melayaninya. Tapi dia sama sekali tidak mempermasalahkan. Yang dia inginkan hanyalah melihat kamu sembuh Elena," imbuh ibuku setelah mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Mak.... maksud ibu ada yang menyukai suamiku"
Aku menanyakan maksud dari ucapan ibuku apakah selama aku koma ada wanita yang ingin menggantikan posisiku menjadi istrinya. Sakit rasanya mengetahui ada wanita lain yang menyukai suamiku, walaupun menurut ibu, kak Anggara memilih tetap setia kepadaku.
"Iya sayang, beberapa kali si Leha datang kesini meminta izin kepada ibu dan ayah untuk menjadi istri kedua Anggara, ada juga beberapa staf dikantor Anggara yang baru, dia bersedia jadi istri Anggara yang ke berapa pun dia rela. apalagi saat melihatmu tak berdaya.
Ayahmu sebagai lelaki yang sangat sayang pada Anggara, tentu saja mendukung dan menyarankan agar Anggara menikah lagi saja. Karena kami tahu semenjak kamu koma, kebutuhan biologis Anggara tidak bisa terpenuhi.
Namun dengan tegas suamimu menolak semua wanita yang datang kepadanya. Dia bilang cintanya hanya untukmu dan tidak akan pernah dia berikan kepada wanita manapun. Dia selalu yakin kalau kamu akan sembuh dan ternyata keyakinannya benar. Ibu bahagia sekali Elena," ujar ibu terisak.
Rasa pedih dirongga dada terasa begitu menyiksa, saat mengetahui kenyataan itu. Namun yang membuat jantungku berdenyut nyeri justru orang tuaku mendukung suamiku untuk menikah lagi. mentang-mentang aku tidak bisa melakukan kewajibanku.
"Oh jadi ayah dan ibu mendukung kak Anggara menikah lagi, apa kalian tidak memikirkan bagaimana perasaanku, anak kalian sendiri. Ayah dan ibu benar-benar tega," tangisku pecah dihadapan orang-orang yang mengaku menyayangiku. Namun pada kenyataannya mereka tidak peduli dengan perasaanku.
Sedangkan kami tahu seorang leleki butuh dipuaskan, dia harus melepaskan hormonnya agar tidak menumpuk dan menjadi bebannya sehingga akan mengganggu aktivitasnya.
Perlu kamu ketahui semenjak penangkapan Roky semua perusahaan orang tua Anggara telah kembali kepada pewarisnya yaitu suamimu. Dengan begitu kehidupan atau istilahnya piring nasi ribuan karyawannya bergantung padanya," ucapan ibuku terhenti. karena aku langsung memotongnya.
"Oh jadi karena dia sekarang sudah jadi orang kaya. jadi dia boleh menikah lagi, punya istri lebih dari satu. Karena merasa yakin akan sanggup memberi nafkah. Kalian tidak ingat waktu dia miskin jualan gorengan.
Kita sama-sama berjuang dari nol, tapi setelah dia sukses seenaknya saja mau menikah lagi. Cara berfikir kalian benar-benar keterlaluan, tidak punya hati. Apa kalian tidak berfikir bagaimana perasaan kalian seandainya berada diposisiku"
__ADS_1
Kak Anggara yang sedang duduk langsung bangun, dia memeluk dan menahanku yang hendak bangun, namun tak berhasil mengangkat badanku sendiri karena lama tidak digerakkan.
"Sudahlah sayang, ibu kan cuma menceritakan kisah saat kamu dalam kondisi koma, dia tidak punya maksud menyakiti anaknya sendiri. Mana ada seorang ibu yang rela menyakiti darah dagingnya sendiri.
Yang terpenting kan aku tidak ada niat menduakanmu, aku tidak pernah tertarik pada wanita manapun kecuali kamu. Perlu kamu tahu, saat kamu koma, yang ada di hatiku hanya bagaimana caranya agar kamu bisa sembuh.
Boro-boro mikirin wanita lain, bahkan saat itu aku tak pernah memikirkan kebutuhan biologisku yang tidak pernah tersalurkan. Seandainya saat itu.. ini seandainya lho ya, ada wanita tanpa busana menggodaku untuk melakukan hubungan intim, mungkin aku sama sekali tidak tertarik.
Karena saat itu yang aku fikirkan bagaimana caranya membawamu dan mencari tempat berobat ke luar negeri yang serba canggih, agar kamu sembuh, itu saja yang aku fikirkan. Makanya saran ayah dan ibu agar aku menikah lagi aku abaikan.
Jadi kamu tidak perlu khawatir, sebanyak apapun wanita yang menyukaiku, mau dan rela menjadi yang kedua. Selama aku tidak mau dan menolaknya. Maka kamu akan tetap jadi istriku satu-satunya dan tidak akan pernah tergantikan," ujar suamiku.
Namun ibu langsung menambahkan.
"Kecuali ditinggal mati baru menikah lagi, iyakan Anggara?"
Ibuku langsung menyahut, membuat perasaanku yang mulai tenang kembali memanas.
"Sudah bu, jangan bikin masalah terus, gara-gara ibu, yang seperti itu saja diceritakan. Tidak tahu kondisi anaknya belum stabil, baru bangun dari koma," Sahut ayah yang dari tadi hanya diam.
"Ayah juga jahat, ayah malah mendukung kak Anggara menikah lagi. Padahal jelas-jelas itu akan menyakitkan aku. Apa ayah tidak menginginkan aku sembuh, biar Anggara hidup bahagia bersama istri yang baru," hardikku pada ayah.
__ADS_1
******