Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
80. Membatalkan Pernikahan


__ADS_3

(POV Elena)


"Selamat ya Nina, Jhooon....akhirnya gelarmu sebagai bujang lapuk akan segera musnah. Bagaimana ijab qobulnya, lancarkan," sapa suamiku sambil memeluk Jhon sahabat terbaiknya.


"Tentu saja bos aku sudah latihan sejak beberapa hari yang lalu. Bos bagaimana kabar ayah dan ibu mertuanya bos, aku ada dengar kabar berita yang kurang sedap, tapi semoga itu hanya isu saja ya bos," tanya Jhon.


Mendengar pertanyaan Jhon dahi suamiku langsung berkerut, mungkin dia sedang berfikir kira-kira Jhon mendengar berita tentang ayah dan ibu yang kurang bagus darimana. Apa kira-kira nenek Rabi yang bercerita tentang rencana pernikahannya dengan ayah.


Aku sama sekali tidak menyangka rencana kami ingin menyadarkan ibu kalau perbuatannya yang kurang baik pada ayah khususnya, telah berdampak kurang baik pada nama baik ayah dimasyarakat. Walaupun ayah terus mengancam nenek Rabi untuk tidak menyebarluaskan rencana pernikahannya dengan nenek itu, ternyata itu tak membuat nenek Rabi bercerita pada siapa saja tentang hubungan dengan ayah.


Aku jadi kasian pada ayah, dia yang berniat memanfaatkan keganjenan nenek Rabi untuk memanasi ibu, terbilang gagal. Sebenarnya sih tidak gagal seratus persen. Karena semenjak mengetahui ayah akan menikah lagi dengan nenek Rabi, sikap ibu menjadi lemah lembut, tidak bar-bar lagi. Ibu juga sekarang sangat menghormati dan menghargai ayah. Aku tahu sekarang ibu banyak belajar agama pada salah satu ustafzah dikota ini. Ibu juga rajin menghadiri pengajian para ibu-ibu.


Karena ibu sudah banyak berubah menjadi lebih baik, aku akan berunding dengan ayah untuk mengakhiri sandiwara ini, dengan meminta maaf pada nenek Rabi tentunya.


"Sebaiknya kita tidak usah membicarakan hak seperti ini di hari bahagiamu, lain waktu kita bisa ngobrol berduabkan, " jawab suamiku dan dibalas anggukan oleh John.


"Elena... kamu sehat Elena, kamu harus tabah ya menghadapi masalah dalam rumah tangga orang tuamu. Aku jadi merasa kasihan pada ibumu, tapi sepertinya beliau biasa saja ya, tidak menganggap hal itu sebagai masalah yang berat," ujar Nina yang menyongsong kedatanganku kemudian memelukku.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat kan belum tentu sesuai dengan kenyataannya Nina. Kamu pasti baru dengar dari satu pihak saja kan, belum dari kedua belah pihak. Jujur kalau aku sih masih percaya kalau ayah akan selalu setia pada ibuku," ujarku mencoba sedikit menjelaskam duduk persoalan yang sedang terjadi pada rumah tangga kedua orangtuaku.


Nina nampak tersenyum bahagia, dia sangat berharap kalau rumor yang sedang beredar, kalau ayahku akan menikah lagi dengan seorang nenek Rabi hanya gosip belaka. Setelah aku dan suami ku menyalami Nina dan suaminya, kini giliran ayah dan ibuku. Beberapa pasang mata memandang ayahku dengan pandangan sinis, sedangkan mereka memandang iba kepada ibuku, seolah ibu adalah sosok yang sangat menderita. Padahal kenyataannya ibu justru biasa saja. Saat baru mengetahui kalau ayahku akan menikah lagi, ibu sangat shock dan sedih sekali. Namun seiring berjalannya waktu ibu justru terlihat ikhlas menerima apapun keputusan ayah.


Hal itulah yang membuat kami semua kagum terhadap ibu. Beliau benar-benar mampu menerapkan apa yang diajarkan oleh ustadzahnya dengan baik. Sekarang ayah semakin mencintai ibuku dan takut kalau ibuku meminta cerai dan memilih menikah dengan lelaki yang lain.


"Tante ....sehat terus ya tante. Semoga Tuhan selalu melindungi tante, selalu kuat dan tabah dalam menjalankan semua ujiannya," Nina memeluk ibu, kulihat setitik air bening mengalir melewati kedua pipinya. Aku berdiri tak jauh dari mereka sehingga bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Santai saja Nina, kamu tidak perlu ikut sedih, aku yang menjalankan saja happy terus kok. Kalau lelaki yang kita cintai sudah berpindah kelain hati ya sudah, ikhlasin saja. Kalau kuat dijalani, kalau tidak kuat ya sudah cari ganti saja, mudahkan. Perlu kamu tahu Nina, bahagia itu bukan soal kita punya suami atau tidak, bukan soal punya harta atau tidak. Bahagia itu adalah pilihan, apa kita mau menciptakan bahagia atau tidak," ujar ibuku tersenyum ceria.


Sedangkan ayahku hanya menunduk lesu. Beberapa orang telah mencibirmya bahkan ada yang memakinya sebagai lelaki yang tak punya perasaan dan juga tidak pintar. Punya istri cantik dan masih kuat disisa usianya malah mau menikah dengan nenek-nenek, seperti tidak punya fikiran sama sekali. ,


"Halo para hadirin semua, perkenalkan dia namanya Edwan, dia calon suamiku, ganteng bukan. Kalau yang ini namanya Dinda dia calon kakak maduku, dia istri Edwan," Aku tak menyangka secara tiba-tiba nenek Rabi sudah ada didekat ayah dan memperkenalkan ayah sebagai calon suaminya dengan menggunakan pengeras suara.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, tak habis pikir dengan nenek Rabi. Sudah diwanti-wanti agar orang-orang jangan sampai tahu kalau ayah dan nenek Rabi akan menikah, ya walaupun ayah memang berencana mengbatalkan pernikahannya dengan nenek peot itu.


Netraku terus menyapukan pandangan ke seluruh hadirin yang hadir. Semua saling berbisik, aku yakin mereka semua sedang berkomentar negatif tentang ayah dan nenek Rabi.

__ADS_1


"Ya ampun dasar nenek bau tanah tidak punya harga diri dan tidak punya perasaan. Di depan istri tua dia tega mengumumkan acara pernikahannya, " ujar seorang ibu yang memakai kerudung warna krim.


"Lihat itu istrinya terlihat santai aja, sepertinya wanita itu benar-benar telah ikhlas menerima hadirnya istri kedua dalam perkawinannya. Semoga saja Tuhan memberikan kesabaran pada wanita itu"


"Semoga keikhlasan wanita itu menjadi berkah dan aku akan selalu mendoakan agar dia bertemu dengan seorang lelaki yang lebih baik dan menikah lagi," sahut wanita yang menggunakan kerudung warna ping.


Begitulah bisik-bisik para undangan yang hadir, mereka saling memberikan komentar yang berbeda menurut pemikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba ayah merebut pengeras suara yang ada ditangan nenek Rabi. Nenek Rabi mencoba mempertahankannya. Namun tentu tidak bisa karena tubuhnya yang telah ringkih tentu saja tak mampu melawan ayahku yang masih sehat dan postur tubuhnya yang tinggi besar.


"Saudara-saudara sekalian saya mohon maaf kalau kehadiran saya dan keluarga telah mengganggu kenyamanan anda semua.


Perlu anda tahu, nenek-nenek ini memang sudah lama terobsesi dan menginginkan saya menjadi suaminya. Sedangkan saya sudah mempunyai istri, kenalkan ini Dinda, ibu dari anak-anak saya yang telah puluhan tahun saya nikahi. Hanya dia istri saya satu-satunya dan hanya satu untuk selamanya. Semoga kami bisa terus bersama sampai ajal memisahkan kami.


Kepada anda semua mohon untuk tidak usah mendengarkan. apa yang diucapkan oleh nenek-nenek ini. Mungkin dia sudah tua, jadi daya ingat dan lain sebagainya sudah menurun. Jadi ya mohon dimaklumi saja.


Untuk nenek Rabi, saya minta maaf kalau saya ada salah sama anda. Kalau nenek menganggap kita akan menikah, saya tegaskan lagi tak akan ada pernikahan diantara kita. Kalau nenek menganggap kita ada hubungan cinta kasih, mulai sekarang diantara kita tidak ada hubungan apa-apa," ujar ayah, dia langsung menyerahkan pengeras suara pada kak Anggara dan berlalu pergi meninggalkanku kami semua.

__ADS_1


*****


__ADS_2