Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
43. Lelah


__ADS_3

(POV Elena)


Entah sudah berapa lama aku berjalan, kadang pelan kadang cepat. Aku tidak ingat lagi kemana arah dan tujuanku. Yang aku tahu dan bisa lakukan saat ini hanya berjalan menyusuri jalan setapak dan berbatu. Kadang jalannya lurus, kadang juga berkelok-kelok. Kadang aku harus berjalan menanjak, menapaki bukit dan kadang juga menuruni lembah.


Lelah yang teramat sangat, itu yang aku rasa saat ini. Sejenak kutarik nafas panjang dan aku memutuskan berhenti tuk istirahat, merenungkan segala apa yang ada dalam fikiranku. Anehnya sudah lama sekali aku berjalan, namun udara tetap saja terasa panas, tak ada angin berhembus, bahkan matahari pun seperti tak pernah bergeser, sejak lama hingga kini tetap berada tepat diatas kelapaku. Siang tak pernah berganti malam. Bahkan jalan yang aku laluipun begitu-begitu saja. Aku seperti berjalan berkeliling ditempat yang sama.


Aku putuskan untuk duduk dijalan yang berbatu dan berdebu, kuamati lingkungan di sekitarku, tak ada pepohonan, tak ada desir angin. yang aku lihat hanyalah langit biru yang menjulang tinggi, jalan setapak, berbatu dan berdebu yang entah sudah berapa lama aku lalui seolah tiada ujungnya.


Aku mulai berfikir, sebenarnya siapa aku, siapa namaku dan dari mana aku berasal. Aku terus berjuang untuk mengingat, berbagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benakku.


"Elena.... Elena..... Elena.... "


Sebuah nama tiba-tiba muncul dalam benakku. Namun lama-lama seperti ada suara seseorang memanggil nama Elena. Setelah berjuang dengan keras, aku mulai mengingat kalau namaku adalah Elena.


Suara itu... ya, aku kenal suara itu, suara itu adalah suara yang begitu hangat menyejukan hatiku, suara itu pula yang membuat hidupku bahagia penuh cinta setiap waktu. Dia bernama Anggara, lelaki yang sekarang menjadi suamiku.


Tiba-tiba aku merasa rindu dengan pemilik suara itu. Aku ingin merasakan kembali cintanya. Tapi dimana dia sekarang, kenapa kami terpisah, kemana dia?


Aku menajamkan kembali pendengaranku, sayup-sayup terdengar ada dua suara yang barusan memanggil namaku. suara perempuan itu, ya...aku ingat itu suara ibu yang telah melahirkanku, lalu merawatku dengan penuh cinta, dan suara lelaki itu adalah suara ayah yang merupakan cinta pertama bagiku. Aku rasanya rindu ayah dan ibu, sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu mereka, entah bagaimana nasibnya sekarang, semoga mereka baik-baik saja.

__ADS_1


Suara kak Anggara, suara ibu dan ayah terus memanggilku secara bergantian. Suara mereka sepertinya diiringi lantunan ayat suci al Quran yang begitu merdu.


Aku bangkit dan berlari menyusuri jalan yang entah sudah berapa lama aku lalui. Aku berlari sekencang yang aku bisa, untuk mengejar suara yang aku dengar tadi. Setelah lelah berlari aku tak lagi sanggup menopang berat tubuhku. Tiba-tiba aku ambruk dijalan setapak yang berdebu, semua terasa gelap.


Dalam kondisi gelap, suara ayah, ibu dan kak Anggara justru semakin dekat dan jelas terdengar, begitupun suara alunan ayat suci yang terkadang terasa panas membuat hatiku resah dan gelisah namun terkadang terasa dingin, sejuk, membuatku merasa nyaman, enggan pulang dan ingin tinggal disana lebih lama lagi.


Kondisi disekitarku yang gelap sekali perlahan-lahan berubah menjadi putih, dunia terasa lebih terang, namun aku tetap saja tidak bisa melihat apapun. Seketika itu aku terkesima saat melihat ada bayangan sebuah wajah manusia. Semakin lama bayangan itu semakin terlihat jelas.


Hatiku bergetar hebat, saat wajah itu telah tampak jelas, itu adalah wajah kak Anggara yang sedang menungguku disebuah ruangan khusus, sementara tidak jauh dari tempat suamiku ada juga ayah.


Aku berusaha menyapa mereka, namun aku tak mampu untuk menggerakkan lidahku yang terasa sangat kaku. begitupun seluruh tubuhku. Aku hanya mampu memejamkan mata dan menangis sepuasnya tanpa ada yang mendengar suaraku.


"Elena.... Elenaa ayah..... Elena menangis, dia pasti sedih, pasti ingin bicara sama kita.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha membuka mulutku untuk bicara, namun lidahku terasa kelu sulit sekali digerakkan. Tapi aku tak putus asa dan terus berusaha menggerakkan beberapa bagian dari tubuhku, hingga pada akhirnya aku berhasil menggerakkan jari tanganku yang sedang digenggam erat oleh suamiku.


Kan Anggara yang menggenggam telapak tanganku tentu langsung merasakan gerakan jariku dan membuatnya berseru!


"Ayah, lihat jari tangan Elena bergerak, sepertinya dia akan sadar"

__ADS_1


Ayah yang duduk tidak jauh dari pak Anggara langsung mendekati. Beliau memegang sebelah tanganku dan akupun terus berusaha menggerakkan jari tangan dan kakiku agar terasa rileks.


"Sadarlah sayang ayah dan ibu sangat menyayangimu. Kami semua ingin kamu sehat kembali seperti dulu," Ayah membelai tanganku dan aku terus bergerak dan berusaha bicara sesuatu kepada mereka hingga kemudian kak Anggara memencet bel untuk memanggil dokter.


"Sebentar sayang ayah panggil ibu, ibu pasti bahagia sekali melihat kamu sadar," ujar ayah sambil berlalu. Tak lama kemudian dokter yang dipanggil kak Anggara pun datang. Suamiku diminta dokter untuk keluar ruangan.


Beberapa orang dokter terus mengajakku bicara, ada yang memberikan rangsangan pada beberapa anggota tubuhku. Aku tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh para dokter itu karena aku kembali memejamkan mata, karena cahaya yang terasa silau. Dokter juga sudah melepas beberapa peralatan medis yang menempel ditubuhku.


Setelah beberapa saat aku merasa sudah sadar sepenuhnya. Aku meraba seluruh tubuhku yang aku bisa. hingga aku meraba perutku yang buncit. Awalnya aku sangat shock, namun setelah berfikir sejenak aku mulai ingat kalau aku sedang hamil. Namun saat itu kehamilanku baru berumur beberapa minggu dan belum terlihat ada tonjolan pada perutku.


Dengan perasaan sangat haru, aku terus meraba perutku. Namun tiba-tiba aku merasakan pergerakan bayi. Dia bergerak memutar dan menendang. Aku sangat takjub dengan semua ini. Terbayang mahluk kecil mungil hidup dalam perutku.


"Sudah berapa lama saya terbaring disini dok, perut saya kenapa sudah besar," tanyaku pada salah satu dokter.


"Sudah lima bulan ibu Elena terbaring dirumah sakit ini, sekarang kehamilan ibu sudah berumur jalan delapan bulan. Bayinya sehat dan lincah bu. Jadi ibu Elena patut berbahagia. Karena hidup ibu sangat beruntung, punya bayi laki-laki yang sehat dan tampan, kami selalu melakukan kontrol kandungan secara rutin dan memberikan makanan dengan gizi yang seimbang melalui selang nasogastrik atau biasanya dikenal sebagai selang makanan. Ibu juga harus bersyukur karena memiliki suami yang begitu setia mendampingi ibu setiap hari. Kedua orangtua ibu dan saudara ibu juga begitu sayang pada ibu.


Jadi berjuanglah untuk sembuh kembali demi orang yang sangat mencintai dan mengharapkan kehadiran ibu.


Setelah memberi nasihat padaku semua dokterpun pamit meninggalkanku. Mereka juga bilang sebentar lagi anggota keluargaku aka datang menjenguk.

__ADS_1


Tak lama kemudian setelah dokter pamit dan pergi. Pintu kamar terbuka kembali, munculah seseorang yang sangat aku rindukan selama ini.


****


__ADS_2