
Hamil, melahirkan dan menyusui adalah impian hampir setiap wanita yang telah menikah. Begitu pun aku, sejak masih gadis, impian terbesarku adalah menikah dengan lelaki yang aku cintai, hamil, melahirkan, menyusui, lalu mengurus anak-anak hingga dewasa.
Hari ini aku merasa sangat bersyukur karena hal yang selalu aku nanti-nanti akhirnya tiba yaitu melahirkan putraku dengan selamat, sehat tanpa kurang suatu apapun.
Sebenarnya saat aku koma, seluruh tim dokter yang menangani kondisiku waktu itu telah merencanakan operasi caesar yang rencananya akan dilaksanakan bulan depan, tepat diusia kandunganku yang kesembilan bulan.
Namun aku tidak menyangka pagi ini saat sahabatku Nina datang bersama Jhon, beberapa kali kandunganku mengalami kontraksi. Hingga sore sampai suami pulang kerja, Nina masih setia menungguku.
Rencananya setelah kak Anggara pulang, aku akan mengajaknya kerumah sakit. Namun baru saja aku mau bicara. Tiba-tiba pak Sentul yang sedang ada masalah dengan penikahannya datang untuk meminta pendapat suamiku mengenai apa yang sebaiknya dilakukan.
Aku tidak tahu apa saja yang sedang mereka bicarakan. Karena aku sudah tidak tahan lagi. Lagian air ketubannya juga sudah pecah membasahi tempat tidur dimana aku terbaring.
"Sepertinya kita harus secepatnya kerumah sakit Elena. Aku tidak bisa membiarkanmu begini. Sebentar ya aku bilang sama Anggara, agar menunda segala acara yang akan dilakukan beberapa jam mendatang"
Nina melangkah dengan Tergesa-gesa menuju keruang tamu. Dia berteriak panik memberitahukan kondisiku. Setelah mendengarkan ucapan Nina, suamiku sepertinya tampak kurang suka dan berlari masuk kekamar dimana aku berada. Sedangkan pak Sentul kudengar justru keluar dari rumah ini, aku tidak tahu apakah dia akan pulang atau ikut mendampingiku kerumah sakit.
"Masa kamu mau melahirkan, bukannya kita rencananya akan Operasi caesar bulan Depan, " tanya kak Anggara dengan suara ketus dan wajahnya terlihat dingin seperti tak ada simpati sama sekali dengan rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Dia langsung mengambil segala perlengkapan yang akan dibawa kerumah sakit. Kebetulan aku sudah menyiapkan dua buah koper. Satu koper khusus pakaian dan perlengkapan bayi. Sedangkan satu koper lagi berisi pakaianku.
"Bukannya bagus kalau aku melahirkan sekarang, tidak perlu operasi dan keluar biaya Mahal, " sahutku tak kalah ketus.
__ADS_1
"Sudah-sudah, tidak perlu diributkan mau melahirkan normal atau caesar. Yang terpenting ibu dan bayinya lahir selamat keduanya. Kalau sudah lahir kan plong pikirannya tinggal merawat dan membesarkan saja, " sahut Nina berusaha menengahi.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, perutku terus melilit, sesekali aku merintih kesakitan. Namun yang lebih sakit adalah tingkah suamiku yang sepertinya tidak suka aku melahirkan secara normal. Aku merasa aneh cara berfikirnya. Bukannya kebanyakan orang ingin melahirkan normal, selain biayanya jauh lebih murah. Wanita yang melahirkan secara normal juga sering dianggap sebagai ibu yang sempurna. Karena telah merasakan betapa sakitnya melahirkan yang katanya bagaikan diantara hidup dan mati. Bahkan ada kalanya ada yang mengorbankan nyawanya karena tidak sanggup menahan sakit saat melahirkan.
Saat seorang istri merasakan sakit menjelang melahirkan. Suami adalah satu-satunya orang yang memberikan kekuatan. Jujur saat perutku melilit dan bayiku seperti mendorong akan keluar. Aku sangat menginginkan suamiku memelukku dengan penuh cinta, dan berusaha menenangkan dengan kasih sayang.
Namun saat ini kak Anggara hanya menatapku saja, paling-paling terkadang hanya mengusap-usap bahuku saat rasa sakitku sudah sampai Diubun-ubun.
Kini kami sudah sampai di depan ruang IGD. Kak Anggara memapahku keluar dari mobil, saat tubuhku dibaringkan diatas brankar rumah sakit dan didorong menuju ruang bersalin, aku melirik suamiku yang hanya diam kebingungan, bukankah seharusnya dia terus mendampingiku hingga sampai didalam ruang bersalin. Tapi kenapa kak Anggara seperti tak peduli dengan penderitaan yang saat ini kurasakan. Nina juga ternyata tak ikut masuk, tapi dia tadi sempat bilang kalau dia takut darah.
"Bu Elena....ini sudah pembukaan penuh, siapa yang mau menemani ibu melahirkan, suaminya mana kok tidak ikut masuk," tanya dokter yang bertugas.
Setelah menunggu beberapa saat pintu kembali terbuka, ternyata ibu masuk dengan menarik tangan kak Anggara, sepertinya beliau habis memarahi menantu kebanggaannya. Rasain dalam hatiku, ibu langsung mendekatiku.
"Maaf ya nak ibu baru datang, tadi pas kamu nelpon ibu lagi ada tamu, tamunya sudah ibu usir dengan hormat, soalnya kalau menunggu dia pulang entah sampai kapan," ujar ibu sembari membelai pucuk kepalaku lalu mencium keningku jugs.
"Sabar ya sayang, orang mau melahirkan memang rasanya sakit sekali. Tapi rasa sakit itu akan langsung lenyap saat mendengar tangis si jabang bayi yang lahir kedunia. Jadi semangat ya, anugerah terindah menantimu"
Damai rasanya mendengar nasihat ibu, aku kembali bersemangat, rasa sakitnya pun sedikit berkurang. Kulihat kak Anggara hanya diam tanpa sepatah kata pun dia berdiri tepat dihadapanku. Sepertinya lelaki itu akan menyaksikan proses bagaimana bayinya keluar.
__ADS_1
Saat dokter memberikan aba-aba agar aku menarik nafas dalam-dalam lalu mendorong untuk mengeluarkan bayi didalam perutku. Aku langsung melakukannya dengan sungguh-sungguh.
"bagusan bu...terus sekali lagi, itu kepalanya sudah Kelihatan, " titah dokter perempuan yang dari tadi membantuku melakukan persalinan. Akupun terus mengikuti apa yang diperintahkannya.
"Oweeeek! Oweeek! Oweeek!
Lega rasanya hati ini saat mendengar suara bayiku telah lahir. Benar kata ibu, semua rasa sakit yang tadi aku rasakan lenyap tak tersisa, yang tertinggal hanyalah bahagia yang luar biasa.
"Selamat ya bu... Bayinya laki-laki, dia sehat sekali dan wajahnya ganteng seperti papanya, lho pak... kok malah pingsan. Bu suaminya pingsan, bagaimana ini"
Aku tak habis pikir dengan kak Anggara, bukannya ngasih selamat karena bayinya lahir sehat selamat, eh dia malah pakai acara pingsan segala, benar-benar merepotkan.
Ibu segera mendudukkan suamiku kemudian menarikknya keluar dibantu oleh dua orang perawat.
"Sepertinya suami ibu sangat mencintai ibu, hingga dia tidak sanggup melihat penderitaan ibu saat melahirkan," komentar dokter sambil menjahit jalan lahirku.
Kini setelah ibuku memakaikan pakaian lengkap begitu juga dengan bayi tampanku. Perawat mengantarkan kami menuju ruangan. Ternyata ruangan yang aku tempati sangat mewah seperti dihotel saja. Ranjangnya juga luas, mungkin bisa untuk tidur dua atau tiga orang. Sebuah ranjang bayi yang sangat indah juga ada disana, televisi, kulkas, sofa ada juga.
Netraku terus menyapukan pandangan keseluruh sudut-sudut ruangan. Ternyata ada ranjang lagi diruangan ini. Aku terkejut saat diruangan itu kak Anggara terbaring lemah, menatapku dengan pandangan berkaca-kaca.
__ADS_1
******