Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan

Menikahi Pria Bangkrut Dan Arogan
83. Sudah Stabil


__ADS_3

Aku terus menunggu kabar dari kak Anggara dan ibu mengenai kondisi ayah saat ini. Hingga azan maggrib tiba, belum ada kabar dari siapapun, beberapa kali aku menghubungi suami dan ibuku, namun mereka tak juga mengangkat panggilanku.


Mba Darmi mempersilakan aku makan masakan yang telah dia buat untuk malam ini. Namun aku sama sekali tak berselera untuk makan. Rasa penyesalan dan rasa bersalah terus menyelimuti hatiku. Andaikan ayah, aku dan kak Anggara tidak merencanakan mengerjai ibuku, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi. Tapi seandainya kami tidak mengerjai ibu, ibu juga masih bersifat buruk dan bar-bar kepada orang lain.


Sekarang sikap ibuku telah berubah seratus delapan puluh derajat lebih baik, namun masalah yang kami hadapi saat ini juga sangat berat.


"Ayoooo.....nyonya dimakan itu hidangan yang saya buat. Saya memasak untuk nyonya dengan penuh cinta seperti cinta saya pada putri semata wayang saya yang telah dibawa suaminya merantau ke Kalimantan.


Ini masakannya enak banget lho nyonya, nyonya harus makan biar air susunya lancar. Jangan sampai karena terlalu berlarut-larut memikirkan masalah orang tua nyonya, berakibat air susu nyonya menjadi seret atau bahkan tidak keluar sama sekali," mba Darmi terus menasehatiku sembari terus melahap makanan dengan begitu rakus seolah makanan itu nikmat sekali.


Dengan melihat pemandangan dihadapanku dan dengan pertimbangan agar asiku tetap lancar agar tumbuh kembang Adam tidak terganggu. Akhirnya aku mengambil nasi, lauk dan sayur kemudian mencoba memakannya. Ternyata benar yang dikatakan mba Darmi, masakannya memang sangat nikmat, apalagi sejak dipengantin Nina tadi pagi, belum ada makanan yang masuk kelambungku sama sekali.


Tak terasa aku sudah menghabiskan dua piring nasi dengan lauk dan sayurnya.


Kriiiiing! Kriiiiing!


Aku terkesiap dan langsung menghentikan suapan terakhirku, saat ponsel yang ada disampingku berbunyi. Dilayar hand phone milikku tertera nomor suamiku. Tanpa pikir panjang aku langsung menekan tanda menerima panggilan.


"Assalamualaikum, hallo kak, bagaimana kabar ayah kak?


Kenapa aku telepon dari tadi kakak tidak angkat-angkat. Ibu juga sama, " ujarku pada suamiku. Sederet pertanyaan tentu saja langsung keluar dari bibirku, karena rasa penasaranku yang teramat sangat.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku menyimpan ponselku didalam tas, sepertinya aku tidak mendengar panggilan darimu. Mungkin karena aku terlalu fokus mengurus ayah. Aku hanya takut ayah tidak tertolong sehingga aku tak mendengar lagi bunyi hand phone dari dalam tasku.


Sekarang kondisi ayah sudah stabil walaupun belum juga sadar. Setelah tadi sempat berhenti detak jantungnya. Namun setelah ditangani oleh Dokter akhirnya detak jantungnya kembali normal.


Dari tadi ibu terus menangis karena merasa bersalah sebab semua permasalahan ini terjadi berawal dari sikap buruk ibu yang sering membuat orang lain merasa tidak dihargai. Jadi wajar kalau beliau tak mengindahkan panggilan dari siapapun termasuk kamu.


Ditambah lagi anak dari nenek Rabi yang datang dan marah-marah kepada ibu karena tidak terima perbuatan ayah yang telah menyakiti ibu mereka," Begitu kata suamiku.


Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang terjadi dirumah sakit termasuk mengenai nenek Rabi yang ditahan polisi karena kasus penganiayaan terhadap ayah.


Ibu terpaksa bersedia menyelesaikan masalah keluarganya dengan nenek Rabi secara kekeluargaan saja. Selain karena ancaman dari kedua anak nenek Rabi yang tidak terima dengan apa yang dilakukan ayah pada ibu mereka. Ibu juga merasa bersalah atas apa yang telah terjadi.


Entah sampai jam berapa aku terlelap. Tiba-tiba mata ini terasa silau saat pancaran sinar matahari masuk melalui ventilasi rumah ini. Tubuhku terasa berat sekali seolah beban berat sedang menindihku. Mungkin ini terjadi karena badan yang terasa lelah akibat kejadian kemarin yang menimpa ayah.


Setelah kesadaranku seratus persen kembali, aku baru menyadari. Beban berat yang terjadi pada tubuhku disebabkan karena kak Anggara tidur meringkuk dan sebelah kakinya tepat berada diatas perutku.


Entah jam berapa lelakiku ini datang. Nampaknya dia tertidur begitu pulas karena saat aku angkat kakinya dan aku pindahkan dari tubuhku dia sama sekali tak bergeming.


Aku langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi setelah terlebih dahulu melihat jagoanku yang tertidur pulas diranjang bayi.


"Harum sekali masakannya sayang, " seseorang memelukku dari belakang dan mencium harum rambutku yang baru saja memakai sampho.

__ADS_1


"Eh...kakak, hari ini aku masak masakan kesukaanmu, rencananya hari ini aku ingin menjenguk ayah dan ibu dirumah sakit boleh kan?"


Aku bertanya pada suamiku sambil membawa semangkok capcai udang kesukaan kak Anggara kemeja makan. Kemudian kami makan berdua sambil membicarakan rencana hari ini.


"Kita akan berangkat bersama menuju rumah sakit. Tadi malam ayah telah sadar sebelum aku berangkat pulang. Semoga saja keadaannya sekarang semakin membaik. Jangan lupa bawakan ibu masakanmu ini. Sepertinya ibu sangat menyesali sikap. buruk yang pernah dia lakukan. sehingga menyebabkan kita semua mengerjainya," ujar suamiku.


Aku sangat terkejut karena ternyata ibu sudah mengetahui sandiwara kami. Aku jadi takut ingin kerumah sakit. Aku takut ibu mengamuk dan berbuat anarkis seperti yang dilakukan nenek Rabi.


"Jadi ibu sudah tahu semuanya, ibu tahu dari mana, apa ibu marah kepada kita. Aku jadi takut ketemu ibu, takut ibu mengamuk. Terus terang aku trauma dengan apa yang dilakukan oleh nenek Rabi kemarin.


"Aku terpaksa berterus terang karena merasa sangat bersalah atas kejadian ini. Awalnya aku juga sangat takut kalau ibu marah dan mengamuk. Ternyata dugaanku salah. Karena secara diam-diam ibu telah mengetahuinya. Itulah sebabnya ibu tak lagi merasa cemburu dan sakit hati, karena dia tahu ayah hanya sandiwara. Kamu lihat kan ibu begitu santai melihat nenek Rabi bersama ayah" jawab suamiku lagi.


Nanti setelah dari rumah sakit, kita akan mengunjungi rumah nenek Rabi. Hari ini rencananya nenek Rabi dibebaskan. Kita akan berterus terang kepada beliau dan meminta maaf, semoga saja nenek Rabi memaafkan kita sekeluarga. Mungkin nanti aku akan meminta pengawalan polisi untuk menjaga keamanan, takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi dirumah.


Aku setuju dengan rencana suamiku. Kembali lagi rasa syukur memenuhi rongga dadaku karena mempunyai suami yang begitu peduli dengan keluarga istrinya seperti keluarganya sendiri. Bahkan dia rela meninggalkan pekerjaannya demi untuk menyelesaikan masalah keluargaku.


Selesai menyelesaikan makan aku langsung melakukan pumping asi untuk persediaan Adam yang akan diasuh oleh mba Darmi. Tak lupa pula aku menyusui Adam hingga kenyang.


"Mama pamit dulu ya Adam sayang, titip Adam ya mba Darmi, maaf merepotkan," ujarku pada asisten yang telah puluhan tahun bekerja pada keluarga suamiku.


*****

__ADS_1


__ADS_2